AKURAT.CO Pasar saham utama Inggris kembali menjadi pasar saham paling berharga di Eropa untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun.
Menurut lansiran BBC disebutkan bahwa nilai total kapitalisasi pasar perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek London (LSE) mencapai USD3,18 triliun. Dengan angka yang melampaui nilai total perusahaan yang terdaftar di Paris sebesar USD3,13 triliun.
Meskipun kedua valuasi tersebut telah berubah-ubah dan tetap bersaing, para analis menyebut ini sebagai tonggak sejarah. Para analis menjelaskan bahwa pasar saham Prancis mengalami penurunan karena ketidakpastian seputar pemilu, sementara pasar Inggris mulai pulih setelah beberapa tahun alami kinerja buruk.
Baca Juga: Kapitalisasi Pasar Tembus USD3 T, Microsoft Jadi Perusahaan Terbesar Kedua Usai Apple
Diketahui, LSE menjadi pasar saham terbesar di Eropa selama bertahun-tahun sebelum posisinya diambil alih pada November 2022. Analis pada saat itu menyalahkan penurunan kinerja LSE akibat dampak mini-Budget yang dikeluarkan oleh mantan Perdana Menteri Liz Truss sehingga menyebabkan melemahnya poundsterling, ketakutan akan resesi, dan Brexit.
Kemudian pada tahun 2016, LSE kembali mencatatkan bernilai sekitar USD1,4 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan pesaingnya di Paris. Oleh karena itu para analis menyebutkan bahwa investor pasar, umumnya tidak menyukai ketidakpastian sehingga ada banyak pertanyaan tentang arti pemilu sela di Prancis yang diserukan oleh presiden.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pemilu parlemen mendadak awal bulan ini setelah kemenangan Partai Nasional sayap kanan yang dipimpin Marine Le Pen dalam pemilu Eropa.
Susannah Streeter, Kepala Pasar dan Keuangan Hargreaves Lansdown, berpendapat bahwa manifesto Le Pen berisi belanja yang tidak didanai. "Mereka (Perancis) tidak terlalu fokus untuk memenangkan pasar," kata Streeter.
Pasar keuangan sering kali bereaksi negatif ketika tidak mengetahui dari mana dana untuk memenuhi janji pemerintah akan berasal, karena ini mempengaruhi nilai obligasi, yaitu uang yang dipinjamkan investor kepada pemerintah dengan harga yang disepakati pasar.
Jika investor yakin bahwa kebijakan pemerintah atau calon pemerintah tidak sesuai harapan, maka tingkat bunga obligasi, yang dikenal sebagai imbal hasil (yield), cenderung meningkat. Hal ini merugikan nilai perusahaan tercatat karena jika imbal hasil obligasi sangat tinggi, investor sering kali lebih memilih meminjamkan uang kepada pemerintah daripada berinvestasi pada saham perusahaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










