Akurat
Pemprov Sumsel

Yen Jepang Anjlok Usai Suku Bunga Dinaikkan, BoJ Salah Ambil Keputusan?

Demi Ermansyah | 7 Agustus 2024, 12:41 WIB
Yen Jepang Anjlok Usai Suku Bunga Dinaikkan, BoJ Salah Ambil Keputusan?

AKURAT.CO Kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan beberapa waktu lalu oleh Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) mendapatkan banyak sekali kritikan, dimana kritikan tersebut hadir pasca merosotnya saham-saham di Jepang hingga kepada gejolak besar di pasar global. Akibat hal tersebut, mau tidak mau Jepang kembali menunda kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Merespon hal tersebut, Kepala Ekonom Rakuten Securities Economic Research Institute, Nobuyasu Atago menegaskan bahwa BoJ seharusnya mempertimbangkan kembali data ekonomi dan pasar, kenaikan suku bunga oleh BoJ di tengah statistik ekonomi yang buruk hanya akan menunjukan bahwa BoJ kurang memperhatikan data.

"BoJ harus lebih mempertimbangkan data ekonomi dan pasar. Kenaikan suku bunga oleh BoJ di tengah statistik ekonomi yang buruk menunjukkan kurangnya perhatian pada data," ucapnya melalui lansiran Bloomberg, dikutip Rabu (7/8/2024).

Baca Juga: Pasar Saham Jepang Tertekan Usai BoJ Naikkan Suku Bunga

Senada dengan Nobuyasu, Kepala Ekonom Daiwa Securities juga mengkritik bahwa kenaikan suku bunga dilakukan secara tergesa-gesa. Seharusnya BoJ menunggu untuk melihat apakah ekonomi AS akan mengalami resesi atau soft landing sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

"Sebab karena itu, kenaikan suku bunga pada September dan Oktober kini tampaknya tidak mungkin," paparnya.

Usut punya usut sebelumnya Gubernur BoJ, Kazuo Ueda menekankan bahwa keputusan kenaikan suku bunga oleh pihaknya berlandaskan kepada data ekonomi dan inflasi yang sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Oleh karena itu, suku bunga akan terus meningkat selama tren tersebut berlanjut. Namun, penurunan saham yang signifikan membuat para analis berpikir bahwa langkah BOJ terlalu cepat, banyak yang mengubah ekspektasi mereka.

Keputusan BoJ pada 31 Juli dilakukan untuk membantu yen rebound dari level terendah selama beberapa dekade, yang sebelumnya telah membebani daya beli konsumen Jepang. Namun, lonjakan mata uang yang cepat, naik sekitar 8% terhadap dolar dalam seminggu terakhir, menekan prospek pendapatan eksportir, menyebabkan penurunan saham.

Ini terjadi di tengah penghentian program pembelian dana yang diperdagangkan di bursa oleh BoJ, yang seharusnya digunakan untuk menjaga agar saham tidak jatuh bebas.

Sebelum kemerosotan pasar beberapa sesi terakhir, sebagian besar ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga BoJ lagi di akhir tahun ini, mengikuti pernyataan hawkish dari Ueda. Minggu lalu, 68% dalam survei Bloomberg memperkirakan suku bunga kebijakan akan mencapai 0,5% pada akhir tahun, dari 0,25% saat ini.

Yen melemah terhadap dolar pada Selasa (6/8/2024), turun lebih dari 1%, sementara indeks acuan Topix mulai diperdagangkan dengan rebound.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.