Buruh Korsel Demo Mogok Kerja Tuntut Presiden Yoon Suk Yeol Mundur, Imbas Darurat Militer
Demi Ermansyah | 11 Desember 2024, 16:24 WIB

AKURAT.CO Korea Selatan kembali menghadapi gelombang protes besar-besaran yang melibatkan salah satu kekuatan politik non-partai terbesarnya, yakni serikat pekerja. Dimana Serikat Pekerja Logam Korea (KMWU), yang memiliki 190.000 anggota, akan melakukan mogok kerja nasional sebagai bagian dari tuntutan agar Presiden Yoon Suk Yeol mengundurkan diri.
Usut punya usut langkah tersebut menandakan semakin kuatnya tekanan publik terhadap kepemimpinan Yoon yang dianggap gagal pasca ia lolos dari upaya pemakzulan beberapa waktu lalu.
Melansir dari Bloomberg, Rabu (11/12/2024), aksi mogok kerja ini tidak hanya menjadi seruan atas masalah perburuhan, tetapi juga mencerminkan krisis politik yang semakin dalam di Korea Selatan.
Melansir dari Bloomberg, Rabu (11/12/2024), aksi mogok kerja ini tidak hanya menjadi seruan atas masalah perburuhan, tetapi juga mencerminkan krisis politik yang semakin dalam di Korea Selatan.
KMWU, yang memiliki sejarah panjang keterlibatan dalam gerakan politik, memutuskan untuk menghentikan aktivitas-aktivitasnya di sektor logam, termasuk operasi di tiga pabrik Kia Corp dan sejumlah pemasok besar industri otomotif selama empat jam.
Tak hanya KMWU, disebutkan bahwasanya Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU), organisasi payung dengan 1,2 juta anggota, menyatakan akan melakukan aksi berkelanjutan hingga Presiden Yoon melepas jabatannya.
Meskipun menimbulkan berbagai gelombang, namun masih ada beberapa serikat pekerja besar untuk tidak memilih mogok kerja. Salah satunya Hyundai Motor Co, Posco Holdings Inc, dan HD Hyundai Heavy Industries Co. Dimana perusahaan tersebut memastikan operasi mereka akan tetap berjalan normal.
Meskipun menimbulkan berbagai gelombang, namun masih ada beberapa serikat pekerja besar untuk tidak memilih mogok kerja. Salah satunya Hyundai Motor Co, Posco Holdings Inc, dan HD Hyundai Heavy Industries Co. Dimana perusahaan tersebut memastikan operasi mereka akan tetap berjalan normal.
Sebagai informasi, gelombang protes tersebut muncul setelah Presiden Yoon mencoba memberlakukan darurat militer untuk merespons tantangan politik yang dihadapinya. Namun, langkah tersebut gagal dan justru memicu kemarahan publik yang lebih luas.
Bahkan tidak sedikit para pengamat politik menyebut aksi mogok kerja ini sebagai refleksi dari kekecewaan mendalam terhadap gaya kepemimpinan Yoon. Aksi ini diharapkan akan berdampak pada pertemuan serikat pekerja pada 19 Desember mendatang, di mana keputusan untuk melanjutkan mogok kerja lebih lama akan dipertimbangkan.
Kemudian jika dilihat dari sisi lain, aksi tersebut juga membawa risiko ekonomi. Gangguan pada industri logam dan otomotif dapat mempengaruhi rantai pasok domestik dan internasional. Namun, bagi serikat pekerja, risiko tersebut dianggap perlu demi menyuarakan aspirasi rakyat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








