Rupiah Naik 24 Poin ke Rp16.587, Airlangga: Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat

AKURAT.CO Rupiah ditutup berbalik menguat 24 poin atau 0,14% ke Rp16.587,5 pada perdagangan Rabu (26/3/2025).
Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meniali fluktuasi rupiah masih dalam batas wajar dan bagian dari dinamika pasar.
"Ya kan ini harian kan, nanti kita lihat. Fundamental ekonomi kita kuat, pasar juga sudah rebound kemarin," ujar Airlangga saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/3/2025).
Menurut Airlangga, fluktuasi nilai tukar rupiah bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan. Ia menyebut bahwa faktor eksternal masih memainkan peran utama dalam pergerakan rupiah.
Situasi global yang masih penuh ketidakpastian, termasuk kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed), memengaruhi sentimen investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Ya kan kita sudah melihat, tentu masih ada beberapa faktor sentimental luar," katanya.
Tekanan terhadap rupiah memang tidak terjadi secara tiba-tiba. Beberapa faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga The Fed, penguatan dolar AS akibat permintaan global, serta ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, membuat mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Baca Juga: Rupiah Terjun Bebas! Pernyataan Prabowo Bikin Investor Kabur?
Meski rupiah sempat mengalami pelemahan, Airlangga tetap optimistis bahwa pasar akan segera pulih. Ia menekankan bahwa kondisi ini bukan sesuatu yang baru dan merupakan siklus normal dalam ekonomi. "Kan naik lagi, rebound lagi," ujar Airlangga dengan percaya diri.
Ia juga menyoroti ekspektasi positif dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Mandiri dan Bank BRI, yang menurutnya akan memberikan dampak baik bagi pasar keuangan Indonesia.
Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan nilai tukar dan menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satu strategi utama adalah intervensi di pasar valas guna menahan volatilitas berlebihan.
Selain itu, BI juga memiliki kebijakan menjaga suku bunga acuan tetap kompetitif agar tetap menarik bagi investor asing. Upaya ini bertujuan untuk mempertahankan aliran modal masuk dan menghindari pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Meanggapi rupiah yang rebound, Airlangga juga menegaskan bahwa fluktuasi ini adalah hal yang wajar dalam mekanisme pasar.
"Fundamental ekonomi Indonesia masih tetap kuat, sehingga tidak perlu ada kepanikan berlebihan," tukas Airlangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










