IMF Sunat Outlook Pertumbuhan Ekonomi RI ke 4,7 Persen, Menkeu: Reformasi Terus Kita Dorong
Hefriday | 20 Mei 2025, 15:36 WIB

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat pada tahun 2026 akibat dampak dari meningkatnya tensi geopolitik dan perang tarif.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia hanya akan tumbuh sebesar 3%, atau lebih rendah 0,3% dari prediksi sebelum konflik dagang kembali mencuat.
Indonesia turut merasakan dampaknya. IMF melakukan revisi ke bawah terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 dan 2026. Dari yang sebelumnya diperkirakan 5,1%, kini direvisi menjadi hanya 4,7%.
Penurunan sebesar 0,4% ini mencerminkan tekanan eksternal yang signifikan terhadap perekonomian nasional.
“Memang kita menghadapi tekanan global yang tidak ringan, namun pemerintah tetap berkomitmen menjaga agar perekonomian tumbuh mendekati 5 persen,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat ditemui di Jakarta, Selasa (20/5/2025).
Sri Mulyani menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadapi revisi proyeksi tersebut. Berbagai instrumen kebijakan telah disiapkan, termasuk reformasi struktural dan penyederhanaan regulasi untuk menarik lebih banyak investasi langsung ke Indonesia.
“Reformasi terus kita dorong, termasuk kemudahan izin usaha, penguatan infrastruktur, dan perbaikan iklim investasi. Semua ini agar investor tetap melihat Indonesia sebagai destinasi yang atraktif,” tambahnya.
Selain dari sisi regulasi, pemerintah juga mengoptimalkan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai alat fiskal untuk meredam gejolak ekonomi.
Insentif fiskal diberikan secara selektif guna mendorong sektor-sektor prioritas, termasuk industri padat karya dan energi terbarukan.
“APBN kita jaga agar tetap sehat, kredibel, dan efektif. Tapi pada saat yang sama, APBN juga harus responsif dan adaptif terhadap dinamika yang terjadi, baik di tingkat nasional maupun global,” jelas Sri Mulyani.
Pemerintah juga meningkatkan diplomasi ekonomi dengan negara mitra utama. Upaya ini dilakukan melalui negosiasi perdagangan dan penguatan kerja sama bilateral maupun multilateral, sebagai cara untuk membuka akses pasar yang lebih luas dan menjaga kestabilan rantai pasok.
Di tengah tekanan global yang tinggi, Indonesia tetap berupaya menjaga fundamental ekonomi domestik. Langkah-langkah seperti penguatan sisi produksi, peningkatan efisiensi logistik, serta digitalisasi sektor usaha menjadi bagian dari strategi jangka menengah.
Jika pemerintah mampu menjaga momentum reformasi dan respons kebijakan fiskal secara konsisten, lanjut Sri Mulyani, maka target pertumbuhan ekonomi mendekati 5% masih sangat realistis untuk dicapai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









