Akurat
Pemprov Sumsel

Stabilitas Politik Jadi Harapan Ekonomi Singapura Tetap Tangguh

Demi Ermansyah | 22 Mei 2025, 18:45 WIB
Stabilitas Politik Jadi Harapan Ekonomi Singapura Tetap Tangguh

AKURAT.CO Singapura diprediksi akan memasuki resesi teknis akibat kontraksi pertumbuhan ekonomi kuartalan, meskipun begitu singapura masih menaruh harapan besar pada stabilitas politik domestik sebagai penopang kepercayaan pasar dan investasi.

Dikutip dari laman Bloomberg, kemenangan telak Partai Aksi Rakyat (People’s Action Party/PAP) dalam pemilu 3 Mei lalu menjadi sinyal kuat bagi dunia usaha bahwa tidak akan ada gejolak kebijakan besar di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan arah kebijakan fiskal dan moneter.

“Ketidakpastian global semakin menuntut stabilitas di dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan persnya pasca pemilu.

Baca Juga: Ketidastian Global Ancam Singapura Masuk Resesi, Akankah Asia Tenggara Kena Domino Effect?

Menurut ekonom ASEAN untuk Bloomberg Economics, Tamara Mast Henderson menjelaskan bahwasnya stabilitas pemerintahan yang kuat di tengah ketegangan geopolitik dan perlambatan global memberikan anchor/jangkar penting bagi pelaku pasar.

“Pelaku bisnis dan investor saat ini membutuhkan kejelasan dan konsistensi kebijakan. Hasil pemilu yang memperkuat posisi PAP memberikan rasa aman pada saat hubungan dagang dan keamanan global sedang bergejolak,” kata Tamara.

Pemerintah Singapura melalui Otoritas Moneter (MAS) dan Kementerian Perdagangan (MTI) sudah menyiapkan berbagai langkah antisipatif menghadapi perlambatan. MAS sebelumnya telah melonggarkan kebijakan moneternya dua kali dalam tahun ini, dan mempertahankan sikap akomodatif untuk menjaga likuiditas.

Sementara itu, MTI mempertahankan proyeksi pertumbuhan PDB tahun ini di kisaran 0%–2%. Hal ini mencerminkan pendekatan realistis pemerintah dalam mengelola ekspektasi publik dan investor.

Sekretaris Tetap MTI, Beh Swan Gin, menegaskan bahwa meskipun kemungkinan resesi teknis tidak bisa dikesampingkan, pihaknya tetap optimistis akan pemulihan dalam jangka menengah.

Baca Juga: Ekonom Kritik Langkah Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Singapura ke AS

Kemenangan politik tidak hanya membawa stabilitas, tetapi juga membuka ruang bagi pemerintah untuk mempercepat reformasi struktural. Program-program digitalisasi ekonomi, transisi energi hijau, serta investasi pada sektor teknologi dan pendidikan menjadi agenda utama dalam rencana pembangunan lima tahun ke depan.

Menurut analis dari Nomura Holdings, Chen Lee menjelaskan Singapura memiliki keunggulan institusional yang kuat untuk melaksanakan reformasi secara efektif.

“Negara ini kecil, tapi punya kapasitas kebijakan yang besar, gencatan senjata 90 hari antara Amerika Serikat dan China juga menjadi momentum penting bagi Singapura. Sebab apabila konflik dagang dapat diredakan, arus perdagangan global bisa kembali stabil yang pada akhirnya mendorong pemulihan ekspor dan aktivitas manufaktur Singapura," paparnya.

Namun, Lee memperingatkan bahwa risiko masih tinggi. Jika ketegangan kembali memanas pasca gencatan senjata, bukan hanya Singapura yang tertekan, tetapi seluruh rantai pasok di Asia terkena imbasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.