Akurat
Pemprov Sumsel

Kemenkeu Hitung Ulang Dampak Penutupan Selat Hormuz ke Perekonomian RI

Yosi Winosa | 2 Maret 2026, 16:53 WIB
Kemenkeu Hitung Ulang Dampak Penutupan Selat Hormuz ke Perekonomian RI
Dirjen DJSEF, Febrio Kacaribu

AKURAT.CO Kementerian Keuangan terus memantau dampak serangan Israel dan AS ke Iran mulai 28 Februari lalu dan penutupan Selat Hormuz ke perekonomian Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, saat ini dampaknya memang masih terbatas mengingat fundamental eksternal RI yang baik.

Namun demikian, tak dipungkiri risiko gangguan terhadap rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi, serta peningkatan volatilitas pasar keuangan global menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Gejolak Hormuz dan Ujian Berat APBN di Tengah Konflik Iran vs Israel

Ketegangan perdagangan global juga berpotensi menekan kinerja ekspor nasional melalui pelemahan permintaan eksternal dan peningkatan biaya logistik.

"Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional. Fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut," papar Febrio.

RI membukukan surplus perdagangan USD0,95 miliar pada Januari 2026, melanjutkan kinerja baik yang sudah terjadi sejak Mei 2020.

Surplus ditopang oleh kinerja ekspor yang mencapai USD22,16 miliar atau tumbuh 3,39% (yoy), didorong oleh ekspor nonmigas. Kinerja ekspor nonmigas didorong sektor industri pengolahan yang tumbuh 8,19% (yoy), utamanya minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta komoditas bernilai tambah tinggi seperti otomotif dan elektronik.

Sementara kinerja industri pengolahan atau manufaktur juga masih dalam tren ekspansif, tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia di Februari 2-26 yang meningkat ke level 53,8 (Januari 2026 hanya 52,6).

Hal ini sejalan dengan PMI Manufaktur sejumlah mitra dagang utama Indonesia yang juga menunjukkan tren ekspansif, seperti Vietnam (54,3), Thailand (53,5), India (57,5), Jepang (53,0), dan Amerika Serikat (51,2), sehingga mendukung prospek ekspor manufaktur nasional.

Dari sisi harga, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% (yoy), utamanya dipengaruhi kebijakan diskon listrik pada awal tahun 2025. Dengan mengeluarkan dampak diskon listrik di awal tahun 2025, inflasi Februari 2026 diperkirakan 2,59%.

Inflasi inti tercatat 2,63% (yoy), utamanya didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan 72,95% (yoy). Dengan mengeluarkan dampak emas, inflasi inti Februari 2026 diperkirakan sebesar 1,4%. Secara fundamental, tekanan harga tetap terkendali dan diperkirakan akan kembali normal mulai Maret 2026.

Sementara dampak penutupan Selat Hormuz terhadap inflasi di Indonesia masih terbuka lebar, pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dengan TPID dan BI demi menjaga inflasi melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga.

Rupiah Ambles 81 Poin

Sementara itu, rupiah melemah 8i poin atau 0,48% ke Rp16.868 pada penutupan perdagangan Senin (2/3/2026), tertekan sentimen risk off dari penutupan Selat Hormuz dan eskalasi perang Timur Tengah.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan ke rupiah terutama dipicu ketidakpastian global yang meningkat tajam akibat konflik di Timur Tengah. Pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

"Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting," ujar Ibrahim.

Situasi kian memanas setelah Pasukan Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran pada hari Minggu, dengan rudal dan pesawat menargetkan infrastruktur komando dan pertahanan udara. Teheran menanggapi dengan serangan rudal lebih lanjut ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk.

"Serangan tersebut membuat kapal-kapal rentan terhadap kerusakan tambahan karena rudal menghantam setidaknya tiga kapal tanker di lepas pantai Teluk dan menewaskan seorang pelaut, kata sumber dan pejabat perkapalan pada hari Minggu," tutur Ibrahim.

Logam Mulia Naik Tajam Rp50 Ribuan per Gram

Emas kian dilirik sebagai safe haven dan uncertainty hedging asset. Logam mulia atau Emas Antam 1 gram per Senin (2/3/2026) dipatok Rp3.386.000 (Naik Rp54.000). Tak hanya emas Antam, emas lain seperti UBS dan Galeri 24 turut naik. Emas UBS 1 gram naik Rp55.000 ke Rp3.178.000 sementara Emas Galeri 24 1 gram naik Rp71.000 ke Rp3.163.000.

Ibrahim melihat gap kenaikan yang luar biasa pada harga emas, lantaran faktor konflik geopolitik antara Israel dan Amerika Serikat, dan Iran serta permintaan yang tinggi dari konsumen. Ia bahkan menaksir harga logam mulia tersebut tembus Rp3,4 juta pekan depan, seiring harga emas globa yang tembus USD6.000 per troyounce.

Emas diperkirakan masih akan terus terkerek harganya hingga 2028. Strategi investasi bagi holder emas pun dikembalikan lagi pada risk profile masing-masing.

Jika investor membutuhkan dana untuk pulang kampung atau Lebaran 2026, maka menjadi kesempatan untuk menjual. Tapi jika investor masih memiliki tabungan dan uang yang cukup, maka lebih baik disimpan terlebih dahulu karena masih akan mengalami kenaikan. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.