Ketika Konflik Timur Tengah Bikin Harga Kurma di Bulan Ramadan Melonjak

AKURAT.CO Bulan Ramadan, kurma biasanya membanjiri pasar-pasar Asia Tenggara. Di Indonesia, Malaysia, hingga Singapura, buah khas Timur Tengah itu menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa yang hampir tak terpisahkan.
Namun tahun ini situasinya berbeda. Sejumlah pedagang melaporkan harga kurma naik tajam dan pasokan mulai menipis.
Bahkan di beberapa pasar grosir, kenaikan harga bahkan disebut mencapai sekitar 50% dibandingkan tahun sebelumnya.
Fenomena ini tidak semata soal permintaan Ramadan yang meningkat. Konflik geopolitik di Timur Tengah disebut menjadi salah satu faktor yang mengganggu rantai pasok komoditas pangan ke kawasan Asia Tenggara.
Lonjakan harga di Bulan Ramadan
Sebagai contoh, di pusat perdagangan seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta. Kurma saat ini sedang menghadapi kondisi pasokan yang lebih terbatas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kurma yang biasanya diimpor dari negara-negara seperti Iran, Uni Emirat Arab, dan Mesir kini datang dalam jumlah lebih sedikit.
Kondisi ini mendorong harga berbagai jenis kurma mulai dari kurma Tunisia hingga kurma Iran mengalami kenaikan. Pedagang menyebut harga grosir beberapa varietas meningkat hingga puluhan persen dibandingkan periode sebelum konflik memanas.
Tak hanya itu saja, jenis kurma Medjool saja dilaporkan mencapai harga sekitar Rp260.000 per kg. Sedangkan untuk Kurma Ajwa dijual dalam rentang Rp130.000 hingga Rp285.000 per kg tergantung kualitas dan kemasan.
Kenaikan harga kurma menjelang Ramadan sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun, permintaan terhadap komoditas ini melonjak seiring meningkatnya konsumsi masyarakat Muslim saat sahur dan berbuka puasa.
Namun kali ini tekanan harga diperparah oleh faktor eksternal: gangguan perdagangan global akibat konflik geopolitik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








