Akurat
Pemprov Sumsel

GDP China Naik 5 Persen, Tekanan Energi dan Ekspor Kian Membesar

Andi Syafriadi | 20 April 2026, 10:30 WIB
GDP China Naik 5 Persen, Tekanan Energi dan Ekspor Kian Membesar
Ilustrasi Bendera Negara China

AKURAT.CO Ekonomi China membuka tahun 2026 dengan performa yang lebih baik dari perkiraan.

Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tercatat tumbuh 5% secara tahunan pada kuartal I 2026, meningkat dari 4,5% pada kuartal sebelumnya sekaligus melampaui ekspektasi pasar di kisaran 4,8%.

Kinerja ini ditopang kuat oleh sektor ekspor yang masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi China Tetap Moncer di Tengah Perang Iran vs AS, Ini Sebabnya

Namun di balik angka pertumbuhan yang solid tersebut, sejumlah indikator mulai menunjukkan tekanan, terutama dari sisi eksternal. Konflik geopolitik global, khususnya perang Iran, mulai membayangi prospek ekonomi China sepanjang 2026.

Deputi Kepala Biro Statistik Nasional China, Mao Shengyong mengingatkan bahwa lingkungan global ke depan akan semakin tidak pasti.

"Lingkungan internasional tentunya akan lebih kompleks dan volatil dengan banyak faktor tak terduga," ucapnya dikutip dari laman TheStraitsTime.

Diketahui berdasarkan data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi China masih sangat bergantung pada ekspor.

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, ekspor tumbuh 14,7% secara tahunan, jauh di atas rata-rata tahun sebelumnya. Namun, ketahanan sektor eksternal ini tidak diimbangi oleh permintaan domestik.

Baca Juga: China Bantah Rumor Kesepakatan dengan AS Agar Tidak Memasok Senjata ke Iran

Penjualan ritel hanya tumbuh 1,7% pada Maret 2026, turun dari 2,8% pada periode sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan struktural antara produksi dan konsumsi.

Ekonom menilai, ketergantungan berlebihan pada ekspor membuat ekonomi China rentan terhadap guncangan global, terutama ketika permintaan dari negara mitra dagang melemah.

Oleh sebab itu, perang Iran menjadi faktor risiko utama yang mengganggu stabilitas ekonomi global, termasuk China.

Konflik tersebut telah memicu lonjakan harga energi global dan gangguan rantai pasok. Bahkan, lembaga energi internasional menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Bagi China sebagai importir energi terbesar dunia, kenaikan harga energi langsung berdampak pada biaya produksi industri.

Tekanan ini mulai terlihat dari kenaikan harga di tingkat produsen (factory-gate prices) pada Maret 2026 yang merupakan kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun.

Kenaikan biaya ini berpotensi menekan margin perusahaan, khususnya sektor manufaktur yang selama ini menjadi motor ekspor.

Selain itu, konflik juga menekan permintaan global. Dimana ekspor China pada Maret hanya tumbuh 2,5%, turun tajam dari lonjakan 21,8% di awal tahun.

Meski awal tahun menunjukkan kinerja kuat, prospek ekonomi China ke depan diperkirakan akan melambat.

Survei ekonom memperkirakan pertumbuhan China akan berada di kisaran 4,6% sepanjang 2026, masih dalam target pemerintah namun menunjukkan tren perlambatan.

Risiko utama berasal dari kombinasi:

  • Melemahnya permintaan global

  • Kenaikan biaya energi

  • Serta lemahnya konsumsi domestik

Dalam rangka menjaga pertumbuhan, pemerintah China berencana meningkatkan stimulus fiskal, termasuk defisit anggaran sekitar 4% dari PDB dan penerbitan obligasi besar-besaran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.