Akurat Logo

JP Morgan: RI Negara Terkuat Kedua di Dunia Terhadap Guncangan Energi Global

Esha Tri Wahyuni | 24 April 2026, 21:52 WIB
JP Morgan: RI Negara Terkuat Kedua di Dunia Terhadap Guncangan Energi Global
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto

AKURAT.CO Indonesia menjadi salah satu negara paling tahan terhadap guncangan energi global pada 2026.

Hal ini terungkap dalam laporan Eye on the Market bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 (21 Maret 2026) yang dirilis JP Morgan Asset Management

Merespons laporan tersebut, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bangga Indonesia menempati posisi kedua negara paling resilien dari 52 negara yang mewakili sekitar 82% konsumsi energi dunia.

Baca Juga: HSBC Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa di Bawah 5 Persen Imbas Krisis Energi Global

Indonesia mencatat insulation factor sebesar 77%, di bawah Afrika Selatan (79%), namun di atas Tiongkok (76%) dan Amerika Serikat (70%).

“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi,” ujar Airlangga di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Indikator insulation factor sendiri mengukur kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan energi dari produksi domestik meliputi batu bara, gas, nuklir, dan energi terbarukan dibanding konsumsi energi nasional.

Ketahanan energi Indonesia ditopang oleh dominasi sumber domestik. Batu bara menyumbang sekitar 48% konsumsi energi akhir nasional, diikuti gas bumi 22%, dan energi terbarukan sekitar 7%.

Secara historis, struktur energi Indonesia memang berbasis sumber daya domestik, berbeda dengan negara maju yang bergantung pada impor.

Ketergantungan rendah ini menjadi faktor kunci saat terjadi gangguan pasokan global, seperti krisis energi yang dipicu konflik geopolitik dan gangguan jalur distribusi.

Dalam laporan tersebut, Indonesia juga tergolong negara dengan eksposur sangat rendah terhadap jalur distribusi energi global yang rentan. Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya sekitar 1% dari total konsumsi energi primer nasional.

Sebagai perbandingan, ketergantungan negara lain jauh lebih tinggi: Korea Selatan (33%), Taiwan dan Thailand (27%), serta Singapura (26%).

Bukti Ketahanan Fiskal

Posisi ini dinilai memberi efek langsung terhadap stabilitas ekonomi domestik, khususnya pada APBN 2026.

Dengan risiko guncangan energi yang lebih rendah, tekanan terhadap subsidi energi dan defisit fiskal dapat lebih terkendali.

Hal ini juga berimplikasi pada stabilitas harga energi domestik, yang berpengaruh terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Selain itu, dunia usaha memperoleh kepastian biaya energi yang lebih stabil, terutama sektor manufaktur dan industri berbasis energi intensif.

Namun demikian, pemerintah menegaskan tidak akan lengah. Airlangga menyebut sejumlah langkah lanjutan tetap dilakukan, antara lain optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca migas.

Kemudian percepatan transisi energi melalui EBT sesuai RUKN dan RUPTL. Lalu ekspansi kendaraan listrik berbasis baterai serta diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi

“Pemerintah akan terus mengoordinasikan kebijakan energi dan fiskal secara terintegrasi untuk menjaga momentum ketahanan tersebut,” tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.