UPDATE Kecelakaan KRL Bekasi Timur: Korban Tewas Bertambah Jadi 16 Orang, Meninggal di ICU

AKURAT.CO Jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan kereta api tragis di Stasiun Bekasi Timur dilaporkan kembali bertambah menjadi 16 orang hingga, Rabu (29/4/2026).
Penambahan satu orang korban jiwa ini terjadi setelah pasien tersebut sempat menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit atau ICU RSUD Kota Bekasi.
Kondisi kritis akibat luka berat yang dialami korban menjadi faktor utama yang menyebabkan nyawanya tidak tertolong meskipun tim medis telah berupaya maksimal.
Penambahan Korban di Ruang ICU
Berdasarkan data medis terbaru, pasien yang meninggal dunia di ICU merupakan bagian dari korban luka berat yang dievakuasi sesaat setelah tabrakan terjadi pada Senin malam.
Sebelumnya, jumlah korban jiwa telah mencapai 15 orang, di mana 10 jenazah di antaranya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi oleh Tim DVI Polri.
Baca Juga: Penegak Hukum Harus Bergerak, Jangan Sampai Nasib Stadion Barombong seperti Wisma Atlet Hambalang
Selain 16 orang yang dinyatakan tewas, saat ini tercatat masih ada 22 korban lainnya yang menjalani perawatan intensif di RSUD Kota Bekasi, dengan beberapa di antaranya masih berada dalam kondisi stabil namun membutuhkan pengawasan ketat.
Kronologi dan Detail Insiden di Stasiun Bekasi Timur
Peristiwa mematikan ini terjadi pada hari Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 20.55 WIB di area Stasiun Bekasi Timur.
Kecelakaan tersebut melibatkan tabrakan antara kereta api jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek dan rangkaian KRL Commuter Line rute Jakarta menuju Cikarang.
Insiden bermula ketika KA Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang gerbong KRL yang sedang berada di jalur tersebut.
Benturan keras tersebut menyebabkan kerusakan parah pada gerbong belakang KRL, sementara lokomotif KA Argo Bromo Anggrek mengalami kerusakan sedang.
Proses evakuasi berlangsung cukup dramatis karena petugas tim SAR gabungan harus memotong material besi gerbong untuk menyelamatkan penumpang yang terjepit di dalam reruntuhan.
Investigasi awal menunjukkan adanya indikasi pemicu berupa kendaraan yang mogok di perlintasan atau sekitar area rel sebelum tabrakan terjadi.
Laporan lain menyebutkan keterlibatan sebuah taksi listrik Green SM yang diduga menjadi faktor awal terjadinya hambatan di jalur kereta tersebut.
Saat ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama pihak PT KAI masih melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan apakah kegagalan sistem atau faktor manusia yang menjadi penyebab utama tragedi ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









