Akurat
Pemprov Sumsel

Kampanye GLOW Ambassador dari ChildFund Dorong Keterlibatan Aktif Anak Muda dalam Gerakan Lingkungan Berkelanjutan

M. Rahman | 30 Juni 2025, 15:57 WIB
Kampanye GLOW Ambassador dari ChildFund Dorong Keterlibatan Aktif Anak Muda dalam Gerakan Lingkungan Berkelanjutan

AKURAT.CO Sebanyak 107 pemuda dari 39 kabupaten/kota berusia 17 - 24 tahun terpilih menjadi duta aksi iklim Green Leaders for Our Well Being (GLOW) Ambassador dari ChildFund International di Indonesia.

Dalam kampanye berdurasi 6 bulan dari Januari - Juni 2025 ini, para pemuda mendapat dukungan dan kapasitas untuk memimpin aksi hijau dan mengembangkan inovasi di komunitas masing-masing.

"Kampanye GLOW Ambassador bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran pemuda terhadap krisis lingkungan dan menginspirasi gerakan di mana kaum muda menjadi pelopor ketahanan terhadap cuaca ekstrim melalui peer-to-peer influence," jelas Meinrad Indra Cahya, Senior Program Specialist ChildFund International di Indonesia dalam keterangannya, Senin (30/6/2025).

ChildFund International secara global, termasuk ChildFund International di Indonesia, telah mengintegrasikan aksi lingkungan berkelanjutan dan peran pemuda sebagai agen perubahan dalam semua programnya.

Baca Juga: 8.367 Anak dan Remaja Bisa Respons Risiko Daring Berkat Program Swipe Safe dari ChildFund

Tujuannya agar anak-anak, pemuda, dan alam tumbuh dalam sistem yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan dalam menghadapi krisis lingkungan. Bagi lembaga pembangunan yang berfokus kepada anak ini, kegiatan aksi lingkungan berkelanjutan yang melibatkan dan menyasar pemuda menjadi sangat penting.

Selain karena anak dan remaja menjadi bagian yang terdampak degradasi lingkungan, mereka jugalah yang akan memimpin Indonesia di masa depan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ada 64,16 juta pemuda berusia 16 - 30 tahun di Indonesia pada 2023. Jumlah itu setara dengan 23,18% dari total penduduk di tanah air sepanjang tahun lalu.

Ditinjau dari kelompok umurnya, sebanyak 39,78% berada di kelompok umur 19-24 tahun, sementara 39,05% berusia 25-30 tahun dan sisanya 21,17% berusia 16-18 tahun.

"Kampanye ini kami rancang untuk menyasar Generasi Z (usia 17-24 tahun), yang dikenal dengan kecakapan digital dan keterhubungan yang kuat dengan isu-isu sosial. Mereka sangat terlibat dengan masalah keberlanjutan lingkungan dan memiliki potensi untuk memengaruhi opini publik yang lebih luas melalui media sosial," ujar Hikmah Ubaidillah, Senior Communications Specialist ChildFund International di Indonesia.

Dalam inisiatif ini, ChildFund International di Indonesia tidak bergerak sendiri, tapi menggandeng Indonesia Youth Advisory, sebuah wadah beranggotakan remaja dan dewasa muda berusia 15 – 24 tahun yang tersebar di wilayah 7 provinsi.

"Bagi ChildFund International di Indonesia, pemuda bukanlah penerima manfaat. Tapi mereka adalah mitra dan kolaborator program kami. Pemuda telah menjadi bagian tak terpisahkan dari semua program ChildFund International di Indonesia, termasuk dalam pembangunan ketahanan terhadap dampak cuaca ekstrim," jelas Meinrad.

Banyak pemuda yang menyadari dampak krisis lingkungan, merasakan kecemasan akan dampaknya dan ingin bertindak, namun merasa tidak berdaya.

Kampanye GLOW Ambassador menjadi platform untuk meningkatkan kapasitas dengan memberikan alat dan pengetahuan yang membantu mereka dalam mengindentifikasi masalah, mencari solusi dan menyuarakannya.

Kampanye ini berlangsung melalui 3 tahap. Tahap pertama adalah membangun kesadaran tentang degradasi lingkungan dan pentingnya peran pemuda melalui kolaborasi dengan komunitas pemuda, pelibatan influencer serta pengembangan konten oleh pemuda.

"Fase kedua berfokus pada membangkitkan rasa pemberdayaan, harapan, dan keterlibatan komunitas melalui lokakarya dan online bootcamp, peer-to-peer influence serta tantangan & kompetisi. Tahap akhir adalah mendorong tindakan nyata dan komitmen dari duta dan pemuda lainnya melalui aktivasi media sosial & proyek sosial oleh peserta GLOW Ambassador, diskusi dan pelibatan pemangku kepentingan serta National Youth Capacity Enhancement bagi peserta terpilih," jelas Hikmah.

Bagi Fikri (20) dari Semarang, yang telah merasakan dampak krisis lingkungan global beberapa tahun belakangan, gerakan GLOW Ambassador ini meningkatkan kesadaran dan komitmennya dalam aksi iklim.

"GLOW Ambassador membuka peluang bagi saya untuk menyuarakan keprihatinan tentang dan aksi-aksi yang saya lakukan, yang selama ini belum saya ekspos ke media sosial. Saya berharap ini bisa menginspirasi pemuda yang belum menyadari kondisi ini," tutur Fikri.

Lebih lanjut Fikri menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan GLOW Ambassador, yang memungkinkannya terhubung dengan pemuda dari berbagai wilayah di Indonesia, menyadarkannya bahwa perubahan cuaca & lingkungan yang ekstrim tak hanya berdampak kepada masyarakat di Pulau Jawa. Banyak kondisi krisis di area lain yang belum terekspos.

GLOW Ambassador melahirkan pemuda-pemuda yang aktif terlibat dan berkontribusi. Natasya (20) dari Semarang, misalnya, menciptakan permainan Greenopoly (Green Monopoly) untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tentang krisis lingkungan di kalangan anak dan remaja.

Sari (22) dari Bogor mengembangkan bank sampah digital untuk mengelola sampah secara moderen dan berkelanjutan.

"Kami percaya, perubahan besar berawal dari kepedulian yang sederhana. Sebagai GLOW Ambassador, mereka belajar memimpin dengan hati, merawat bumi dengan harapan, dan berjalan bersama mereka yang juga bermimpi tentang dunia yang lebih baik," tukas Meinrad.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa