Akurat
Pemprov Sumsel

Penjaga Hutan Mangrove di Dusun Tangkolak, Perangi Abrasi hingga Tumpukan Sampah

Rizky Dewantara | 30 Agustus 2024, 14:21 WIB
Penjaga Hutan Mangrove di Dusun Tangkolak, Perangi Abrasi hingga Tumpukan Sampah

AKURAT.CO Siang itu, Tayanto tengah duduk santai di bangku kayu yang terbuat dari pohon jati, ditemani segelas kopi susu. Suasana hutan mangrove yang rimbun dan ditambah kicauan burung bangau, membuat siang yang terik itu terasa lebih teduh.

Sesekali, Tayanto menjawab sapaan dari orang-orang yang berlalu lalang disana. Mereka adalah para pengunjung Hutan Mangrove Dewi Bahari di Dusun Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang.

"Dulu pengunjungnya lebih banyak dari ini. Pas masa wisata hutan mangrove di sini lagi jaya-jayanya," kata pria yang akrab disapa Yanto, saat ditemui Akurat.co.

Baca Juga: Nestle MILO Lakukan Penanaman 15 Ribu Mangrove

Memang, selain untuk menjauhkan desanya dari abrasi, Yanto ingin agar hutan mangrove yang dia jaga sejak tahun 2014 itu bisa menjadi destinasi wisata. Yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tapi juga edukasi kepada masyarakat mengenai mangrove.

Dia mengatakan, Wisata Mangrove Dewi Bahari tak hanya didatangi oleh wisatawan lokal, namun juga wisatawan mancanegara. Biasanya, para turis asing tersebut juga mengambil wisata kayak yang bisa dinikmati tak jauh dari lokasi hutan mangrove ini.

Masih lekat di ingatannya bagaimana perjuangannya bersama warga Dusun Tangkolak dalam membenahi Hutan Mangrove ini. Bersama dengan puluhan warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Kreasi Alam Bahari, Yanto berupaya untuk selalu menjaga kelestarian hutan mangrove di desanya.

Dia bercerita, sejak tahun 90-an, Yanto merupakan perusak laut dengan mengambil terumbu karang secara ilegal. Namun, pada tahun 2013 dirinya bertemu dengan salah satu pegawai Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Karawang, yang terus menyadarkannya bahwa apa yang dia lakukan salah.

"Namanya Pak Ade. Sering saya ketemu beliau. Dia selalu bilang kalau apa yang saya lakukan akan merugikan anak cucu nanti. Dia meminta saya untuk menjaga mangrove ini," katanya.

Sempat merasa dilema, akhirnya Yanto tersadar bahwa apa yang dia lalukan salah. Kerusakan terumbu karang akan menimbulkan dampak yang besar bagi laut di desanya. Salah satunya, berkurangnya jumlah ikan yang menjadi penghasilan bagi warga di desanya, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Baca Juga: Mangrove Ranger Cuku Nyinyi, Usaha Grup MIND ID Jaga Kelestarian Pesisir

Sayangnya, langkahnya ini sempat mendapat penolakan dari warga yang tidak mengerti akan pentingnya mangrove. Namun, dengan bantuan sosialisasi dari Dinas Perikanan dan Kelautan, Yanto bisa meyakinkan warga untuk ikut menjaga dan melestarikan hutan mangrove di Dusun Tangkolak ini.

"Saya bilang ke warga yang rumahnya dipinggir laut yang rumahnya hampir hilang karena abrasi, 'kamu berani enggak tanam mangrove? Karena dengan adanya mangrove rumah kamu akan aman. Rumah kamu enggak akan hilang kena ombak'," imbuhnya.

Tak hanya itu, pembenahan hutan mangrove yang tumbuh lebat secara alami ini pun tidaklah mudah. Tak hanya sebagai tempat pembuangan sampah, hutan mangrove ini juga menjadi tempat pembuangan hajat warga sekitar.

"Kami dulu sempat bingung bagaimana cara membersihkannya. Karena kalau saya gali dan saya bakar, sampahnya itu tetap ada sisa. Dan semakin saya gali, itu sampah malah semakin banyak. Akhirnya, saya putuskan untuk menimbun semua sampah itu untuk jadi aspal. Ini tempat orang-orang lewat ini di bawahnya sampah. Tempat kita duduk saat ini juga di bawahnya sampah," jelasnya.

Hingga akhirnya, sejak tahun 2014, Yanto bersama Kelompok Tani Hutan Kreasi Alam Bahari, telah menanam sedikitnya 80.000 anakan mangrove yang saat ini telah besar, dan menjadikan kawasan pesisir Tangkolak teduh. Tidak berselang lama, tempat ini menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi masyarakat.

Namun, pada tahun 2020 lalu, gelombang besar sempat menerjang Pantai Tangkolak. Peristiwa ini telah menghancurkan destinasi wisata pantai mangrove yang ada.

Sepanjang 1,2 km garis pantai rusak berat. Kurang lebih 5 ha lahan mangrove tenggelam sehingga lebih dari 100 ribu pohon mangrove hancur. Banjir rob juga menerjang pemukiman warga. Kerugian finansial akibat kejadian tersebut ditaksir mencapai 70 juta rupiah.

"Dulu pohon mangrovenya lebih banyak dari ini. Kawasan tambaknya juga lebih banyak. Tapi karena abrasi, semuanya habis. Ditambah lagi, generasi penerusnya tidak ada lagi. Mereka tidak mau capek," jelas Yanto.

Ditambah lagi, dua tahun yang lalu Yanto sempat jatuh sakit, sehingga hutan mangrove makin terbengkalai. Tidak ada yang komandoi pembenahan dan pelestarian hutan mangrove teraebut.

Akibatnya, sampah kembali menggunung di berbagai sisi hutan mangrove. Tak hanya dari sampah warga, namun juga dari sampah yang terbawa oleh air laut pasang.

Berbagai fasilitas penunjang wisata pun nampak rusak. Jembatan kayu yang biasanya dilewati pengunjung lapuk dan rusak. Fasilitas WC umum pun juga tidak bisa terpakai.

Kini, Yanto dan Kelompok Tani Hutan Kreasi Alam Bahari, harus memulai lagi dari nol untuk membenahi hutan mangrove yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu. Dia berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk membenahi jantung pesisir ini.

Mengingat, hutan mangrove bukan hanya untuk menjaga desanya dari abrasi, tapi wisata mangrove juga menjadi sumber perekonomian baru bagi warga sekitar. Terlebih lagi, pohon mangrove memiliki banyak manfaat, sebagai kopi, selai, hingga bahan makanan.

Baca Juga: Hikvision Rayakan Hari Lingkungan Hidup dengan Tanam Mangrove di Pulau Pari

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas mangrove di Indonesia saat ini mencapai 3,44 juta hektare. Dengan luas potensi habitat mangrove di Indonesia mencapai 777.636 hektare.

Peneliti ahli madya di Pusat Riset Oseanografi BRIN, Yaya Ihya Ulumuddin, mengatakan perlindungan kawasan pesisir tidak cukup dengan menanam mangrove. Perbaikan rumah/habitat mangrove adalah langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum penanaman.

"Bahkan mangrove akan tumbuh alami jika rumahnya sdh baik. Perbaikan rumah mangrove dengan cara memperbaiki saluran-saluran air dan mengatur ketinggian muka tanah agar mempermudah air pasang surut keluar masuk. Mengendalikan pencemaran air dan sampah plastik," kata Yaya saat dihubungi Akurat.co secara terpisah.

Menurutnya, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan hutan mangrove, salah satunya ketersediaan lahan. Sebab, jantung pesisir ini harus berkompetisi dengan kebhtuhan lain seperti pelabuhan, pemukiman, perkotaan, tambak, dan sawit.

Meski begitu, pemerintah sudah sangat perhatian terhadap pengembangan kawasan mangrove. Di antaranya dengan adanya Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), unit kerja khusus yang bekerja untuk mangrove di KLHK dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Serta instrumen hukum berupa Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove, yang hingga kini masih terus berlangsung dengan menampung berbagai aspirasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.