Pendidikan Keselamatan Lalu Lintas Wajib Masuk Kurikulum untuk Ciptakan Generasi Sadar Risiko

AKURAT.CO Langkah Indonesia memasukkan Pendidikan Keselamatan Lalu Lintas ke dalam kurikulum sekolah mendapat apresiasi dari para pakar transportasi.
Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menegaskan pentingnya pendidikan sejak dini dalam menciptakan generasi yang sadar risiko dan bertanggung jawab di jalan raya.
"Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Dengan kurikulum ini, kita membangun kesadaran sejak usia muda agar keselamatan berlalu lintas menjadi budaya, bukan hanya aturan," ujar Djoko dalam keterangan persnya, Minggu (12/1/2025).
Menurut Djoko, pendidikan keselamatan lalu lintas harus menanamkan pengetahuan tentang bahaya di jalan serta membangun etika berlalu lintas yang baik.
"Anak-anak perlu tahu bukan hanya soal rambu-rambu, tetapi juga risiko ketika aturan diabaikan. Hal ini akan menurunkan potensi kecelakaan di masa depan," tambahnya.
Baca Juga: Profil Sandhy Permana, Pemeran Arya Soma di Serial Mak Lampir yang Tewas Tragis Diduga Dibunuh
Data Korlantas Polri (2024) menunjukkan, kelompok usia 6—25 tahun menyumbang 39,48 persen dari total kecelakaan.
Kebanyakan insiden melibatkan sepeda motor, yang mencapai 76,96 persen dari keseluruhan moda transportasi.
"Angka-angka ini memprihatinkan. Pendidikan adalah solusi jangka panjang yang paling efektif," ujar Djoko.
Ia, menyoroti contoh Jepang dalam menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas secara signifikan melalui pendidikan.
"Pada 1970, Jepang mencatat 16.765 kematian di jalan. Melalui kampanye keselamatan yang menyeluruh dan pendidikan wajib di sekolah, jumlah itu turun drastis hingga kurang dari 3.000 per tahun di dekade berikutnya," jelas Djoko.
Di Jepang, kata dia, tidak hanya pengemudi yang mendapat pelatihan, tetapi juga pesepeda, pejalan kaki, hingga lansia.
"Indonesia harus meniru pendekatan ini dengan konsistensi dan dukungan kebijakan yang kuat," tambahnya.
Baca Juga: Dunia Diplomasi Berduka, Hasjim Djalal Sang Pejuang Laut Nusantara Tutup Usia
Pendidikan keselamatan berlalu lintas tidak bisa menjadi program sekali jalan.
Djoko menekankan, pengintegrasian kurikulum ke dalam pelajaran formal harus disertai dengan pelatihan untuk guru, pembagian materi ajar yang tepat, serta evaluasi berkala.
"Kolaborasi antara Korlantas Polri, Jasa Raharja, dan Kementerian Pendidikan adalah langkah awal yang positif, tetapi harus dipastikan program ini terus berjalan," ujarnya.
Sejak 2016, upaya distribusi buku keselamatan berlalu lintas sempat dilakukan oleh Korlantas Polri, namun gagal berkelanjutan karena kurangnya koordinasi.
"Kerja sama yang lebih solid dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan menjadi kunci keberhasilan kali ini," kata dia.
Baca Juga: KPK Sita Aset Rp8,1 Miliar Terkait Kasus Korupsi Dana Hibah di Jawa Timur
Tujuan utama kurikulum ini adalah menciptakan generasi pengendara yang disiplin dan bertanggung jawab, serta menekan angka kecelakaan lalu lintas.
"Ini bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045, di mana keselamatan berlalu lintas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari," pungkas Djoko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










