Kebijakan Tarif Trump, Indonesia Harus Perjuangkan Perdagangan Global yang Adil Lewat WTO

AKURAT.CO Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menyampaikan keprihatinannya atas perkembangan terbaru perekonomian global yang kembali dibayangi oleh awan kelabu, akibat meningkatnya tensi perang dagang.
Terutama, sejak terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada November 2024 lalu.
"Dunia kembali dihadapkan awan kelabu, perekonomian global terdistorsi karena kebijakan pengenaan tarif dari berbagai negara, yang dimulai dari perang tarif Amerika Serikat dan China di babak kedua. Padahal dua tahun terakhir, ekonomi global mulai pulih pasca pandemi dan perang Rusia-Ukraina," ujar Said dalam keterangannya, Kamis (4/4/2025).
Baca Juga: Tarif Trump Diprediksi Berdampak ke Segala Sektor, Kadin Ingatkan Jangan Sampai ada PHK Masal
Menurutnya, Trump kini membawa Amerika Serikat, sebagai negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar dunia senilai USD 27,7 triliun, ke medan perang dagang baru melawan China dan bahkan negara-negara tetangganya seperti Kanada dan Meksiko.
"Kita khawatir, langkah sepihak Amerika Serikat akan membawa petaka global sebagaimana era McKinley Tariff di akhir abad ke-19. Bahkan kini Indonesia pun terkena imbas, dengan kebijakan Trump mengenakan tarif sebesar 32 persen atas barang ekspor kita ke AS," tegasnya.
Di tengah tekanan global, Said juga menyoroti situasi domestik yang tak kalah menantang, seperti penurunan daya beli dan tingginya volatilitas pasar keuangan dan saham.
Untuk itu, dia mendorong pemerintah mengambil langkah strategis di dalam negeri dan aktif dalam forum global. Dia menyarankan, agar Indonesia mengambil inisiatif melalui forum World Trade Organization (WTO) untuk memperjuangkan perdagangan global yang adil dan tidak diskriminatif.
Menurutnya, prinsip perdagangan bebas yang adil harus ditegakkan kembali agar tidak hanya menguntungkan negara adidaya.
Sementara di dalam negeri, beberapa langkah yang bisa diambil pemerintah untuk menghadapi ketidakpastian global, seperti:
Baca Juga: Kebijakan Tarif Trump Ancam Industri Nasional, Pemerintah Harus Bertindak Cepat
1. Menjaga daya saing produk ekspor dengan mencari pasar alternatif dan mempertahankan surplus neraca perdagangan.
2. Memastikan penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri agar cadangan devisa tetap kuat.
3. Memperkuat kebijakan hedging bagi para importir agar lebih tahan terhadap gejolak nilai tukar.
4. Memperluas skema bilateral currency swap guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
5. Menerapkan kebijakan fiskal kontra-siklus untuk menjaga aktivitas usaha tanpa mengorbankan kesehatan fiskal negara.
6. Membenahi infrastruktur pasar keuangan agar tetap menarik bagi investor.
7. Membangun komunikasi publik yang kredibel dan informatif sebagai acuan bagi pelaku usaha.
"Pemerintah harus tanggap dan cepat dalam mengambil langkah mitigasi. Jika tidak, ketidakpastian ini bisa berdampak panjang terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





