Akurat
Pemprov Sumsel

Di Luar Dugaan, Kiai NU Ini Beri Solusi untuk Perselisihan di Tubuh PBNU

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Desember 2025, 10:10 WIB
Di Luar Dugaan, Kiai NU Ini Beri Solusi untuk Perselisihan di Tubuh PBNU

AKURAT.CO Ketegangan antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf memasuki fase paling krusial, hingga menyeret perhatian para sesepuh NU yang menyerukan islah demi meredakan konflik.

Di tengah situasi yang makin panas, muncul pandangan tak terduga dari Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, yang menawarkan solusi konstitusional untuk merapatkan kembali barisan jam’iyah.

Dalam keterangan tertulis yang diperoleh redaksi, Jumat (05/12/2025), KH Imam Jazuli menilai bahwa seruan islah dari para kiai sepuh merupakan langkah moral penting dalam tradisi Nahdliyin. Menurutnya, nasihat para kiai sepuh selalu menjadi suluh yang menjaga persatuan umat.

“Seruan itu adalah panggilan untuk kembali ke khittah NU, menjaga persatuan, serta menghindari perpecahan yang berpotensi muncul di ruang publik,” ujarnya.

Kiai Imam menegaskan bahwa pesan tersebut bersifat etis—mengajak setiap pihak meredakan ego, mengutamakan kemaslahatan jam’iyah, dan menurunkan tensi konflik yang sudah menyebar di ruang publik.

Namun ia juga mengingatkan bahwa seruan moral tidak berada pada ranah tanzhim atau hukum organisasi, sehingga tidak mampu menggantikan mekanisme formal yang telah diatur dalam AD/ART NU.

Baca Juga: Gus Yahya Tolak Rencana Rapat Pleno Syuriah PBNU Tentukan Pj Ketum: Tak Sesuai AD/ART NU

Menurut analisisnya, keputusan Syuriyah PBNU tetap memegang kedudukan tertinggi dalam struktur organisasi.

“Peraturan Perkumpulan NU secara tegas menempatkan keputusan keagamaan pada Syuriyah. Keputusan yang dihasilkan melalui rapat sah bersifat mengikat seluruh jajaran organisasi,” tegasnya.

Ia memperingatkan bahwa mengabaikan keputusan Syuriyah dapat mencederai tatanan kelembagaan serta membuka preseden buruk di tubuh organisasi.

 

Menghadapi situasi yang dianggap sudah melampaui batas kewajaran, Kiai Imam Jazuli menawarkan jalan tengah yang tidak hanya berdimensi moral, tetapi juga formal sesuai konstitusi organisasi: Muktamar Luar Biasa (MLB) atau Muktamar Percepatan.

“Islah tidak boleh membatalkan keputusan Syuriyah secara sepihak. Ia perlu diinternalisasi melalui mekanisme konstitusional dan itu dilakukan melalui Muktamar Luar Biasa,” jelasnya.

Menurutnya, MLB menjadi ruang sah bagi kedua pihak menyampaikan posisi, mengevaluasi keputusan Syuriyah–Tanfidziyah PBNU secara kolektif-kolegial, dan menghasilkan keputusan final yang memiliki legal standing kuat.

Ia menyebut MLB sebagai jalan paling adil bila gesekan internal tidak segera mereda. “Bila kekisruhan ini belum segera mereda, MLB sebagai opsi akhir kedua pihak yang bersengketa agar dapat menyampaikan pandangannya dalam forum yang sah,” tambahnya.

KH Imam Jazuli menuturkan bahwa solusi ideal bukan memilih salah satu sisi—antara seruan moral para sesepuh atau supremasi keputusan Syuriyah—melainkan mengintegrasikan keduanya melalui forum yang sah.

“Islah adalah seruan luhur untuk meredakan konflik, sementara AD/ART menjaga ketertiban organisasi. Muktamar Luar Biasa adalah jalan kearifan yang menggabungkan keduanya,” ujarnya.

Baca Juga: Pekan Depan PBNU Gelar Rapat Pleno, Tentukan Pj Ketum PBNU Pengganti Gus Yahya

Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan hanya menjaga penghormatan terhadap para sesepuh, tetapi juga memperkuat otoritas Syuriyah dan memastikan keutuhan organisasi—baik dari sisi struktural maupun ukhuwah.

“Dengan jalur itu, NU akan kembali utuh secara tanzhim maupun persaudaraan,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.