Akurat
Pemprov Sumsel

Tekan Penularan, Kemenkes Siapkan Vaksin Campak untuk Tenaga Kesehatan

Ayu Rachmaningtyas | 31 Maret 2026, 14:14 WIB
Tekan Penularan, Kemenkes Siapkan Vaksin Campak untuk Tenaga Kesehatan
Vaksin campak

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan vaksinasi campak bagi tenaga kesehatan dan tenaga medis, imbas kasus dokter berinisial AMW (26) di Cianjur yang meninggal dunia karena campak.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan vaksinasi campak untuk tenaga kesehatan ini sedang disiapkan melalui analisis ilmiah terkait penggunaan vaksin yang ada saat ini.

"Apakah ada rencana vaksinasi? Ya betul, kita akan mengarah ke sana. Dan secara cepat kami juga siapkan analisis daripada uji vaksinnya, uji klinisnya, terkait dengan program vaksin yang digunakan saat ini," kata Andi, dikutip Selasa (31/3/2026).

Baca Juga: Jumlah Kasus Meningkat, Kemenkes Keluarkan Surat Edaran Waspada Campak untuk Nakes

Data Kementerian Kesehatan mencatat, sekitar delapan persen kasus campak telah terjadi pada kelompok dewasa. Namun mayoritas, kasus campak masih ditemukan pada balita di banyak wilayah.

"Dari 10 kasus kematian pada 2026, terdapat satu kasus pada usia dewasa 25 tahun. Sementara lainnya umumnya pada balita," ujarnya.

Menurutnya, perlindungan seseorang dari campak akan optimal apabila seseorang telah menerima imunisasi campak dan rubella dua kali sejak usia dini. Namun pada orang dewasa, imunitas lemah dan penyakit penyerta dapat meningkatkan risiko tertular campak.

"Kondisi seperti HIV/AIDS, diabetes, kanker, hipertensi, serta intensitas paparan tinggi menjadi faktor risiko. Khususnya bagi tenaga kesehatan," jelasnya.

Dia mengungkapkan, data Kemenkes melaporkan tren penurunan signifikan kasus di 2026, yaitu sebanyak 146 di minggu ke-12 2026, yang dimana sebanyak 368 minggu sebelumnya dan 2.220 kasus awal tahun.

"Jika dibandingkan dari minggu pertama hingga minggu ke-12 tahun 2026. Kita melihat penurunan kasus campak sekitar 93 persen," ucapnya.

Baca Juga: Dokter di Cianjur Meninggal Diduga Kena Campak, Kemenkes Gelar Penyelidikan Epidemiologi

Andi menyebutkan terdapat 14 provinsi mencatat kasus campak tinggi selama periode 2025–2026, termasuk Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat. Namun kini sejumlah daerah melaporkan penurunan signifikan hingga nol kasus, seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Tangerang Selatan, Tangerang, Bima, Palembang, Pandeglang, hingga Jakarta Barat.

Meski tren penurunan terjadi di sebagian besar wilayah, Andi menegaskan masyarakat tetap harus melakukan kewaspadaan. Karena itu, pemerintah terus berupaya memperkuat langkah pencegahan melalui pemantauan kasus dan vaksinasi.

"Selain surveilans dan vaksinasi, kami juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan campak. Langkah ini dilakukan untuk melindungi tenaga kesehatan dan tenaga medis," tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.