Menkes: Kasus Campak Tinggi Karena Mobilitas dan Rendahnya Vaksinasi

AKURAT.CO Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyebut campak masih menjadi salah satu penyakit paling menular di dunia. Karena itu, pihaknya mempercepat vaksinasi untuk menekan lonjakan kasus yang terjadi di awal tahun.
"Campak ini virusnya sudah lama dan merupakan penyakit menular yang penularannya paling tinggi. Kalau COVID dulu satu orang bisa menularkan tiga sampai empat, Omicron bisa delapan. Nah, campak ini satu orang bisa menulari sampai 18 orang, rata-rata 15," kata Budi dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Senin (20/4/2026).
Dia menjelaskan, campak bukanlah penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi seperti Ebola atau tuberkulosis. Namun, campak dapat menyebabkan kematian jika terjadi akibat komplikasi seperti infeksi pada paru atau di otak.
Baca Juga: Ratusan Nakes Divaksin Campak, Kemenkes Targetkan Jangkau Ribuan Tenaga Kesehatan di 14 Provinsi
Menurutnya, tren peningkatan kasus campak kerap terjadi di awal tahun, bukan karena faktor cuaca, melainkan mobilitas masyarakat. Di negara dengan musim dingin, lonjakan juga dipicu aktivitas masyarakat yang lebih sering berkumpul di dalam ruangan.
Karena itu, campak sesungguhnya dapat dikendalikan karena vaksinnya telah tersedia. Namun, gangguan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 berdampak pada peningkatan kasus.
"Begitu penyakit menular ada vaksinnya, harusnya bisa ditangani. Kalau ada outbreak, hampir pasti karena vaksinasinya tidak berjalan dengan baik," ujarnya.
Dia pun mengakui, selama pandemi fokus vaksinasi sempat bergeser ke COVID-19. Selain itu, isu kehalalan vaksin juga sempat memengaruhi penerimaan masyarakat.
"Masalah utamanya meyakinkan orang tua agar anaknya divaksinasi. Golongan yang tidak percaya vaksinasi masih cukup besar," kata Budi.
Sebagai respons atau kasus-kasus yang terjadi, pemerintah menjalankan Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah dengan kasus tinggi. Program ini menyasar seluruh anak tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.
Baca Juga: 98 Anak Diduga Tewas Akibat Campak, Bangladesh Gelar Vaksinasi Darurat
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil dengan penurunan kasus seiring meningkatnya cakupan imunisasi.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andi Saguni, menyatakan jumlah kasus campak di Indonesia mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, pemerintah tetap memperkuat upaya imunisasi di daerah yang mengalami kejadian luar biasa (KLB) maupun wilayah dengan peningkatan kasus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









