Enam Poros Suara Jelang Muktamar NU ke-35, Siapa Paling Punya Power?

AKURAT.CO Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama kian menghangat. Kontestasi yang akan digelar pada Agustus 2026 itu bukan sekadar ajang pemilihan kepemimpinan, melainkan pertarungan besar antar jejaring kekuatan yang telah lama berakar di tubuh organisasi.
Sejumlah analis internal NU menyebut, peta kekuatan kali ini jauh lebih kompleks dibanding muktamar sebelumnya. Tidak hanya soal figur, tetapi juga konfigurasi jaringan politik, kultural, hingga kedekatan dengan kekuasaan negara.
Tokoh muda NU, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, Jumat (1/5/2026) mengidentifikasi setidaknya enam poros utama yang saat ini sedang bergerak dan membentuk orbit kekuatan masing-masing.
Poros pertama adalah kubu petahana yang dipimpin oleh Yahya Cholil Staquf. Sebagai Ketua Umum aktif, ia memiliki keunggulan struktural sekaligus jaringan nasional yang sudah terbangun. Namun, kekuatan ini tetap membutuhkan pasangan Rais Aam yang kuat untuk memperkokoh legitimasi.
Poros kedua berada di sekitar Miftachul Akhyar yang beririsan dengan Sekjen Saifullah Yusuf. Kubu ini dikenal memiliki basis tradisional yang solid dan kedekatan dengan jaringan kiai sepuh di berbagai daerah.
Baca Juga: Cak Imin Didorong Masuk sebagai Bursa Caketum PBNU pada Muktamar NU ke-35
Poros ketiga mengarah pada figur Nazaruddin Umar, yang disebut-sebut mendapat dukungan dari lingkar kekuasaan. Faktor kedekatan dengan pemerintah menjadi modal penting dalam konfigurasi politik organisasi.
Poros keempat merupakan jaringan besar yang ditopang oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan alumni PMII. Di dalamnya terdapat sejumlah nama kuat seperti Abdussalam Shohib, Yusuf Chudhori, Imam Jazuli, hingga Abdul Ghoffar Rozin. Untuk posisi Rais Aam, nama Said Aqil Siradj disebut mulai mengerucut.
Poros kelima berasal dari jaringan PWNU Jawa Timur yang mendorong Abdul Hakim Mahfuz. Basis Jawa Timur tetap menjadi salah satu kantong suara terbesar dalam setiap muktamar.
Sementara poros keenam dipimpin oleh Marzuki Mustamar yang secara terbuka mendukung Said Aqil Siradj untuk posisi Rais Aam.
Dari sisi kuantitatif, peta suara menunjukkan adanya dua kekuatan dominan. Jaringan PKB–PMII diperkirakan menguasai sekitar 250 suara, sementara jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama memiliki sekitar 130 suara.
Kubu petahana Yahya Cholil Staquf diprediksi mengantongi sekitar 100 suara atau sekitar 20 persen. Angka yang relatif kompetitif, tetapi belum cukup untuk memastikan kemenangan tanpa koalisi.
Di luar itu, terdapat sekitar 70 hingga 80 suara yang masih mengambang. Kelompok inilah yang berpotensi menjadi “king maker” dalam menentukan arah akhir kontestasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








