Beda Dengan Gibran, Megawati Jadi Presiden Karena Penggemblengan Bukan Karpet Merah

AKURAT.CO Ketua DPP bidang Ideologi dan Kaderisasi PDIP, Djarot Saiful Hidayat menolak Ketum Megawati Soekarnoputri dilabeli mempraktikkan politik dinasti. Dia mengakui Mega anak Proklamator Bung Karno, namun lahir dari penggemblengan bukan karpet merah seperti Gibran Rakabuming, putra Presiden Jokowi.
Menurut Djarot, terdapat rentang waktu panjang dari era Bung Karno hingga Mega menjadi pemimpin. Proses yang dilalui juga tak mudah, bukan seperti Gibran yang baru dua tahun menjabat Wali Kota Solo lalu loncat menjadi cawapres.
“Betul bahwa ibu Mega itu anak Bung Karno, tapi beliau melalui proses penggemblengan di dalam politik itu dari bawah,” kata Djarot, dalam acara diskusi bertema "Positioning PDIP Dalam Pemenangan Pilpres Ganjar-Mahfud," di Matraman Jakarta, Senin (30/10/2023).
Baca Juga: Gibran Jadi Cawapres Prabowo, Hubungan Jokowi-Megawati Baik-baik Saja
Djarot mengingatkan Mega baru berpolitik tahun 1986 atau ada rentang sekitar 16 tahun setelah wafatnya Bung Besar. Mega juga memulai karier politiknya di PDI dengan menjadi pengurus cabang dan menjadi anggota DPR.
Upaya Mega menjabat Ketum PDI yang di kemudian hari menjadi PDIP juga tak mudah. Singkatnya, ada proses panjang yang perlu dilalui.
Djarot juga menyebut Puan Maharani, putri Mega dengan Taufiq Kiemas demikian. Tidak ujuk-ujuk muncul jadi elite partai, namun berproses dari bawah.
Baca Juga: Jokowi Bicara Politik Dinasti, Keputusan Di Tangan Rakyat Bukan Elite
"Mbak Puan juga dari bawah. Mbak Puan dicalonkan sebagai anggota DPR RI itu ketika Ibu Mega sudah bukan presiden, tidak lagi berkuasa ya kan. Jadi itu by process juga,” ujarnya.
Dengan begitu, Djarot menolak upaya membangun dinasti politik yang dilakukan Presiden Jokowi, disamakan dengan Mega atau trah Bung Karno. Mega memimpin ketika orde baru melakukan desoekarnoisasi, bukan ketika ayahnya masih hidup dan memimpin.
Baca Juga: Ditinggal Jokowi, Bukan Mimpi Siang Bolong PDIP
Sebaliknya Jokowi, anak dan menantu jadi kepala daerah ketika dirinya masih menjabat presiden. Ketika masih menjabat presiden pula putranya maju berkontestasi menjadi cawapres, dan memiliki potensi untuk menang.
“Tapi bagaimana kita sekarang ini di masyarakat berkembang ‘Ini Jokowi bangun dinasti’. Ya ketika dia (Jokowi) berkuasa,” lanjut Djarot.
“Ketika dia berkuasa, betul di dalam proses demokrasi itu semua orang itu punya hak untuk dipilih dan memilih. Tapi ada etikanya, ada batas-batasnya, ada prosesnya ya,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







