Pilpres Sudah Di Depan Mata, Ke Mana Silent Majority Bakal Memihak?

AKURAT.CO Tak sedikit pihak yang meyakini bahwa mayoritas diam (silent majority) menjadi penentu kemenangan Presiden Jokowi pada Pilpres 2019. Setelah nomor urut capres-cawapres ditetapkan, ke mana arah pendukung senyap itu bakal memihak pada Pilpres 2024, menarik untuk dicermati.
Pengamat politik dari BRIN, Lili Romli meyakini mayoritas diam masih menjadi penentu kemenangan pada pesta demokrasi. Mereka yang selama ini diam tanpa mengekspresikan dukungan, masih mencermati situasi untuk menentukan sikap dan mengubah konstelasi.
“Saya setuju dengan pendapat bahwa penentu kemenangan dalam pilpres adalah silent majority. Mengapa? Sesuai arti generiknya mereka yang mayoritas diam, yang tidak banyak bicara, tetapi pemilik suara mayoritas (menjadi) penentu kemenangan,” kata Romli, di Jakarta, Rabu (15/11/2023).
Baca Juga: Mimpi Semu Menang Pilpres Satu Putaran: Mudah Terucap Sulit Terwujud
Presiden Jokowi diuntungkan dari silent majority yang muak akan orkestrasi sentimen agama dan masifnya distribusi hoaks, hingga menuai kemenangan pada Pilpres 2019. Dengan dinamika yang berkembang sekarang ini, bukan tidak mungkin silent majority yakni mereka yang sudah memiliki pilihan namun tidak mengekspresikannya, mulai mengubah arah dukungan.
Lili Romli menilai sulit untuk menebak arah ke mana dukungan silent majority bakal berlabuh. Apakah mengerucut pada paslon capres-cawapres nomor urut 1 Anies-Muhaimin atau terbagi pada capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo-Gibran, dan nomor urut 3 Ganjar-Mahfud.
Baca Juga: Survei: Publik Ingin Pilpres 2024 Digelar Satu Putaran
Menurutnya, kalau silent majority muak dengan aksi cawe-cawe yang berujung pada pemaksaan praktik politik dinasti dengan cara memanipulasi konstitusi, bukan tidak mungkin pasangan nomor urut 2 malah menjadi terhukum bukan yang untung.
Dengan begitu, memanfaatkan sisa waktu jelang hari pencoblosan, masing-masing capres-cawapres bersama pendukungnya harus mampu menyusun dan menjalankan strategi untuk menarik simpati publik secara luas, dan meyakinkan mereka yang memilih diam namun punya pengaruh penting.
"Yang jelas, jika silent majority ini kecewa terhadap cawe-cawe presiden, meski awalnya menjadu pendukung, bisa berpindah ke lain hati. Tergantung strategi dari masing-masing pasangan, baik no 1, 2 atau3, untuk menarik dan meyakinkan silent majority," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









