Sikap Megawati Cerminkan PDIP Tidak Menghargai Suara Wong Cilik

AKURAT.CO Sikap Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang melarang sejumlah kepala daerah mengikuti retret usai Sekjen PDIP ditahan oleh KPK menjadi contoh buruk yang menciderai demokrasi.
Selain juga tidak menghargai suara rakyat.
"Ini sikap antidemokrasi, otoriter dan tidak menghargai suara rakyat. Karena para pemimpin, baik gubernur, bupati dan wali kota dipilih langsung oleh rakyat dan akan bertanggung jawab pada rakyatnya. Maka jangan dipaksakan untuk membela tersangka korupsi," jelas Ketua Umum DPP Persaudaraan 98, Wahab Talaohu.
Baca Juga: Pasrah Ditahan KPK, Hasto Kristiyanto: Saya Terima Konsekuensi Apa Pun
Menurutnya, Megawati harus menghormati proses hukum yang sedang berlangsung.
Serta memberi hak kepada Hasto Kristiyanto untuk membela diri di hadapan pengadilan.
"Hormatilah proses hukum. Saudara Hasto tetap punya hak membela diri di pengadilan. Sehingga mencegah kepala daerah untuk mengikuti retret dengan alasan apapun juga tidak dibenarkan. Karena mandat tertinggi itu ada pada rakyat dan para kepala daerah sedang menjalankan mandat rakyat," kata Wahab.
Baca Juga: Tak Ada Pengganti Hasto Kristiyanto, Tugas Sekjen Diambil Alih Megawati
Retret kepala daerah di Akmil Magelang yang berlangsung 21-28 Februari 2055 menjadi ajang penyatuan visi misi dan penguatan sinergi serta kolaborasi dalam memajukan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.
"Maka bila ada pihak yang dengan sengaja menghalang-halangi retret itu, artinya telah menafikan rakyat sebagai pemilik mandat. Maka sudah sangat jelas kampanye membela wong cilik hanya kamuflase jargon semata yang mengelabui kesadaran publik," tutup Wahab, dalam keterangannya kepada redaksi, Sabtu (22/2/2025).
Baca Juga: Hasto Kristiyanto Ditahan KPK, PDIP: Operasi Politik Mengacak-acak Partai
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





