Muktamar PPP Ricuh, Partai Ini Ternyata Dideklarasikan oleh Para Kiai

AKURAT.CO Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta diwarnai kericuhan hingga menyebabkan sejumlah kader terluka. Ketua Umum PPP, Muhammad Mardiono, menyebut bentrokan terjadi sejak hari pertama muktamar dan memuncak usai pembukaan.
“Ada beberapa kader kami yang saat ini sedang ada di rumah sakit, yang mengalami cedera di bagian kepala, kemudian di bagian bibir, dan lain sebagainya,” kata Mardiono dalam konferensi pers di Jakarta Utara, Sabtu (27/9/2025) malam.
Keributan dipicu perbedaan sikap antara kubu yang mendukung keberlanjutan kepemimpinan Mardiono dan kubu lain yang menginginkan ketua umum baru.
Baca Juga: Muktamar PPP Ricuh, Husnan Bey Dinilai Jadi Figur Penengah Antarkubu
Bentrokan pecah ketika peserta muktamar meninggalkan ruang sidang. Pantauan di lokasi, aksi saling teriak berlanjut menjadi baku hantam, bahkan kursi besi sempat dilempar ke arah lawan.
Mardiono menyayangkan peristiwa tersebut dan menegaskan bakal menempuh jalur hukum. “Proses demokrasi tidak boleh diwarnai tindakan inkonstitusional. Dan tentu ini nanti akan kita lanjutkan dengan proses hukum,” ujarnya.
Meski diwarnai kericuhan, Mardiono mengklaim telah terpilih kembali sebagai Ketua Umum PPP periode 2025–2030 secara aklamasi.
Ironisnya, partai berlambang Ka’bah ini lahir dari semangat persatuan ulama. PPP didirikan pada 5 Januari 1973 sebagai hasil fusi empat partai Islam: Nahdlatul Ulama, Parmusi, PSII, dan Perti.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Takut Kesepian? Ini Penjelasan Psikologisnya
Deklaratornya antara lain KH Idham Chalid, H. Mohammad Syafaat Mintaredja, Haji Anwar Tjokroaminoto, Haji Rusli Halil, serta Haji Masykur.
Pada awal berdiri, PPP berasaskan Islam dengan lambang Ka’bah. Namun pada 1984, akibat tekanan politik Orde Baru, PPP terpaksa mengubah asas menjadi Pancasila dan lambang bintang segi lima. Setelah reformasi 1998, PPP kembali menggunakan asas Islam dan lambang Ka’bah melalui Muktamar IV.
Sejarah panjang itu menunjukkan PPP didirikan untuk menyatukan kekuatan politik umat Islam. Kini, setelah lebih dari 50 tahun, partai ini justru masih dihadapkan pada konflik internal yang berulang kali mencoreng wajah persatuan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







