Israel Tak Patuh PBB, TB Hasanuddin Minta Keanggotaan Indonesia di BOP Dikaji Ulang

AKURAT.CO Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, menyoroti ketidakpatuhan Israel terhadap resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai faktor risiko dalam kerja sama internasional.
Ia menilai, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan serius bagi Indonesia untuk mengkaji ulang keanggotaan dalam Board of Peace (BOP), karena berpotensi menimbulkan kerugian strategis.
Pernyataan itu disampaikan Hasanuddin saat menanggapi serangan Israel ke Lebanon yang menewaskan tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Menurutnya, keputusan untuk tetap bergabung atau keluar dari BOP harus didasarkan pada kajian matang dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko yang dihadapi Indonesia.
“Kita tahu bahwa Israel tidak taat terhadap resolusi PBB, padahal berada dalam kerangka PBB itu sendiri. Ini tentu menjadi pertimbangan penting,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia mempertanyakan efektivitas kerja sama internasional apabila pihak-pihak yang terlibat tidak menunjukkan kepatuhan terhadap aturan yang telah disepakati.
Hasanuddin juga menyinggung potensi dinamika dalam BOP, termasuk jika forum tersebut berada di bawah kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Baca Juga: Kasus Amsal Sitepu, Komisi III DPR Singgung Pentingnya Perlindungan Pekerja Kreatif
“Saya bayangkan kalau dalam situasi seperti itu, efektivitas kerja sama bisa dipertanyakan. Jangan sampai keikutsertaan kita justru tidak memberikan manfaat,” katanya.
Ia menilai, jika tidak memberikan nilai strategis, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut berpotensi menjadi tidak efektif.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk melakukan kajian menyeluruh sebelum mengambil keputusan strategis.
“Perlu dipertimbangkan secara matang, apa manfaatnya bagi Indonesia dan risiko apa yang mungkin timbul ke depan,” tegasnya.
Hasanuddin juga mengingatkan potensi beban yang harus ditanggung Indonesia, termasuk kemungkinan pengiriman personel dalam jumlah besar.
“Jangan sampai kita justru terbebani, apalagi jika harus mengirim pasukan dalam jumlah besar,” ujarnya.
Meski demikian, ia tidak secara tegas meminta Indonesia keluar dari BOP, melainkan menekankan pentingnya analisis komprehensif sebelum menentukan langkah terkait kerja sama internasional di bidang pertahanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










