Ladang Minyak Terbesar di Libya Ditutup, Saham 5 Emiten Migas Ini 'Ngegas'

AKURAT.CO Emiiten-emiten terkait minyak mengalami apresiasi pada perdagangan hari ini, Kamis, 4 Januari 2024 dimana MEDC naik 2,61%, ENRG naik 2,5%, ELSA naik 3,55%, WINS naik 3,96% dan LEAD naik 2,99%.
Kenaikan ini dipicu atau merespon kenaikan harga minyak dunia. Diketahui, harga minyak mentra Brent di pasar spot naik 4,2% sejak penutupan Selasa (2/1/2024) ke level USD79,35 per barel.
Investment Analyst Stockbit, Hendriko Gani menilai setidaknya ada dua katalis penguatan harga minyak dalam dua hari terakhir. Pertama, ledakan di Iran pada Rabu (3/1/2024) yang mana terjadi dua ledakan di dekat pemakaman salah satu komandan militer Iran.
Baca Juga: Lifting Migas Oktober 2023 Baru 89 Persen dari Target, SKK Jelaskan Kendalanya ke DPR
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang menewaskan setidaknya 103 orang ini. Di sisi lain, Presiden Iran, Ebrahim Raisi, menyalahkan Israel atas ledakan tersebut.
"Kedua, enutupan ladang minyak terbesar di Libya, Sharara Oil Field pada rabu (3/1/2924(. Ladang minyak yang memproduksi 300 ribu barel per hari tersebut ditutup oleh warga setempat yang melakukan protes atas tingginya harga bahan bakar di Libya dan kurangnya peluang ekonomi," kata Hendriko dikutip Kamis (4/1/2023).
Ditambahkan, eskalasi tensi geopolitik Israel dan Iran, serta ditutupnya ladang minyak terbesar Libya, memicu kekhawatiran disrupsi supply minyak mentah dunia.
Per November 2023, Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ke-8 di dunia dengan produksi sebesar 3,12 juta barel per hari, setara 3% produksi global. Sementara itu, Libya merupakan penghasil minyak mentah terbesar ke-19 dengan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari.
Berkurangnya produksi minyak mentah sebesar 300 ribu barel per hari dari Libya berpotensi mengurangi supply minyak mentah global sebesar 0,3%.
"Potensi disrupsi supply dari eskalasi tensi geopolitik dapat memberikan dukungan kepada harga minyak di tengah kekhawatiran demand yang lemah akibat ekspektasi pelemahan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini. Namun, apabila ekonomi China tak seburuk yang diperkirakan, hal tersebut dapat mendukung pertumbuhan global," ujar Hendriko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








