Ketegangan Timur Tengah Ancam Pasar Energi, Harga Minyak Berpotensi Meledak

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan memberi tekanan besar terhadap pasar energi global. Risiko gangguan suplai melalui Selat Hormuz dinilai sebagai ancaman utama yang dapat memicu lonjakan tajam harga minyak dan gas.
Setelah serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap sasaran militer di kawasan tersebut, sejumlah analis memproyeksikan potensi eskalasi yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai aksi AS sebagai bentuk “pelanggaran keterlaluan” dan memperingatkan akan adanya konsekuensi jangka panjang.
“Serangan ini bukan hanya pelanggaran terhadap kedaulatan, tetapi juga terhadap stabilitas global,” ujar Araghchi dikutip dari laman Bloomberg.
Oleh karena itu, lanjut Araghchi, Iran akan mempertahankan kepentingannya dengan segala cara, termasuk mempertimbangkan semua opsi pertahanan diri.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Ancam Harga Migas, DPR Desak Pemerintah Waspada
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi hampir 20% pasokan minyak harian dunia. Jika jalur ini terganggu atau bahkan ditutup, para analis memperkirakan harga minyak mentah dapat menembus level USD130 per barel, yang berarti lonjakan tajam dari harga saat ini yang berada di kisaran USD80.
Menurut proyeksi Bloomberg Economics, lonjakan harga tersebut bisa menyebabkan inflasi konsumen (CPI) di Amerika Serikat melonjak hingga mendekati 4% pada musim panas, yang berpotensi menunda langkah Federal Reserve dalam menurunkan suku bunga.
Dampaknya juga dirasakan di sektor gas alam cair (LNG), terutama karena Qatar salah satu eksportir terbesar LNG dunia mengandalkan Selat Hormuz sebagai jalur utama ekspor. Tanpa rute alternatif, pasar LNG global akan menghadapi tekanan besar yang dapat mendorong harga gas Eropa melonjak tajam.
Kondisi ini menjadi pukulan tambahan bagi ekonomi global yang saat ini sudah berada dalam kondisi rapuh. Ben May, Direktur Riset Makro Global di Oxford Economics, menyebut bahwa krisis energi yang disulut oleh konflik geopolitik bisa menjadi “guncangan buruk lain” bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
Baca Juga: Di SPIEF 2025, Prabowo Pamer Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hampir Sentuh 7 Persen
“Dengan tekanan harga minyak dan potensi inflasi IHK yang meningkat, bank sentral dunia akan dihadapkan pada dilema serius,” kata May dalam laporan terbarunya. “Kebijakan moneter harus berhati-hati agar tidak memperparah perlambatan ekonomi yang sudah terjadi.”
Sejumlah negara produsen minyak anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi, diyakini masih memiliki kapasitas cadangan yang dapat dimanfaatkan untuk menstabilkan pasar. Namun, efektivitas langkah ini sangat bergantung pada kecepatan dan koordinasi antarnegara, serta potensi intervensi dari Badan Energi Internasional.
Situasi ini menempatkan pasar global dalam ketidakpastian. Investor dan pembuat kebijakan dihadapkan pada dilema antara menjaga kestabilan harga dan menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah risiko geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









