Akurat
Pemprov Sumsel

Penertiban Beras Oplosan Bikin Stok Beras Premium di Supermarket Langka, Pemerintah Tak Antisipatif?

M. Rahman | 26 Agustus 2025, 19:49 WIB
Penertiban Beras Oplosan Bikin Stok Beras Premium di Supermarket Langka, Pemerintah Tak Antisipatif?

AKURAT.CO Penertiban beras oplosan menimbulkan kelangkaan beras premium di pasaran termasuk supermarket maupun pasar modern lainnya.

Sejak Minggu, 24 Agustus 2025, persediaan atau stok beras premium di kawasan Jakarta Selatan misalnya, terus menipis. 

Di Superindo Mayestik, Kebayoran Baru, rak beras hanya memampangkan satu bungkus beras premium merek Topi Koki kemasan 5 kilogram, seharga Rp140.790. Setali tiga uang, di Alfamidi Panglima Polim pun, rak beras hanya menyisakan satu karung beras Raja Platinum kemasan 5 kg, seharga Rp74.500.

Rak-rak beras tersebut tak kunjung diisi ulang atau restok. Usut punya usut, produsen masih parno perihal bersih-bersih beras oplosan yang saat ini tengah dilakukan pemerintah.
 
Sementara itu, ritel modern di Pondok Gede, Bekasi pun turut membatasi pembelian beras premium oleh konsumen lantaran stok yang terbatas, maksimal 1 bungkus per hari. Konsumen jadi kesulitan mencari beras premium yang biasa dijual seharga Rp74.500 per 5 kilogram tersebut.
 
"Ada penurunan stok yang tersedia di ritel modern. Menghabiskan stok yang ada di ritel dan tidak mengisi kembali," ujar Kepala Satgas Pangan Polri, Brigjen Pol. Helfi Assegaf di sela Diskusi Publik Paradoks Kebijakan Hulu-Hilir Perberasan Nasional di Ombudsman RI, Jakarta, Selasa (26/8/2025).
 
 
Helfi menambahkan, produsen takut menstok ulang beras premium ke pasar ritel modern lantaran takut ditangkap.
 
"Kita dalami, 'Kenapa tidak kamu ngisi?' 'Kami takut Pak, nanti ditangkap'. 'Kalau kamu uji lab sesuai komposisinya kenapa takut. Saya kira kalau kalian sesuai dengan apa yang kamu tempel di label ya enggak ada masalah'.' Jadi kalau memang tidak mau dijual kemasan, ya silakan dijual curah, nggak masalah," ujar Helfi sambil mereka adegan perbincangan dengan produsen beras.

Tak Antisipatif

Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai pemerintah gagal mengantisipasi kejadian kelangkaan beras di modern market ketika kasus beras oplosan diangkat ke publik.

Ketika kasus oplosan naik ke publik, yang terjadi adalah pedagang menarik stok mereka di pasaran untuk menghindari menjadi tersangka pengoplosan. Padahal, pengoplosan terjadi di sisi hulunya, bukan di middle trading. Selain itu, masyarakat juga kehilangan kepercayaan dengan beras premium, sehingga mencari beras medium.

"Salahnya pemerintah tidak menyiapkan beras medium dengan stok yang melimpah di lapangan. Masyarakat yang biasa menggunakan beras premium, dia pindah ke beras medium karena merasa tertipu," ujar Nailul kepada Akurat.co, Selasa (26/8/2025).

Padahal, lanjut Nailul, beras medium banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Akibatnya permintaan beras medium meningkat.

"Orang yang pindah dari premium ke medium kemudian berpikir ulang pindah ke premium, tapi barangnya tidak ada. Biasanya, kejadian seperti ini akan membuat pemerintah menaikkan harga eceran tertinggi. Jadi memang dibuat langka terlebih dahulu," terkanya.

Stok beras medium yang tak mencukupi diamini oleh Helfi. Saat ini beras di ritel khususnya beras dari Bulog berupa Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) belum hadir di ritel. Kendalanya, masalah teknis administrasi antara ritel dengan Bulog.

"Akhirnya tidak bisa diisi karena harus ada perjanjian kerja sama di situ. Oke. Jika proses selesai, segera diisi. 'Loh kok masih nggak juga?' Ini sudah ada approve lagi. Sebenarnya tidak ada masalah nih, tinggal diisi. Macam-macam lagi masalahnya. Jadi tidak semudah yang kita lihat gitu. Jadi butuh memang waktu, butuh proses. Yang sudah pegang izin kerja sama pun tidak mengajukan PO," ungkap Helfi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa