Akurat
Pemprov Sumsel

Ekspor Tuna RI Melesat, Standar Global Jadi Kunci Daya Saing

Esha Tri Wahyuni | 26 Maret 2026, 22:05 WIB
Ekspor Tuna RI Melesat, Standar Global Jadi Kunci Daya Saing
Indonesia perkuat ekspor tuna lewat standar keberlanjutan dan traceability di SENA 2026. Ekspor ke AS tumbuh, kepercayaan pasar global meningkat.

AKURAT.CO Upaya penguatan ekspor tuna Indonesia kembali menjadi sorotan global setelah Paviliun Indonesia menggelar seminar strategis di ajang Seafood Expo North America (SENA) 2026 di Boston, Amerika Serikat.

Fokus utama yang diangkat adalah sustainability (keberlanjutan) dan traceability (ketertelusuran) sebagai kunci menjaga daya saing produk seafood Indonesia di pasar internasional.

Langkah ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya standar global terkait keamanan pangan dan transparansi rantai pasok.

Baca Juga: Ekspor Houseware RI ke AS Tembus Rp182 Miliar Lewat Ajang IHS 2026

Data menunjukkan, ekspor perikanan Indonesia ke Amerika Serikat terus mencatat pertumbuhan positif, menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri seafood dunia.

Kombinasi antara strategi kebijakan pemerintah dan adaptasi industri dinilai menjadi faktor krusial dalam menjaga momentum ini.

Seminar bertajuk “Indonesia in Dialogue: A Tuna Case Study Toward Sustainable and Traceable Seafood” yang digelar oleh Kementerian Perdagangan RI bersama KBRI Washington D.C. menyoroti pendekatan jangka panjang Indonesia dalam menjaga pasar ekspor.

Atase Perdagangan RI di Washington D.C., Ranitya Kusumadewi menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan dan ketertelusuran kini menjadi standar global yang tidak bisa dihindari.

Ia menyebut, Indonesia terus memperkuat tata kelola sektor perikanan melalui peningkatan sertifikasi, inspeksi, serta sistem dokumentasi rantai pasok.

Baca Juga: Mengenal Pulau Kharg Iran, Pusat Ekspor Minyak yang Jadi Sasaran Baru AS

“Prinsip keberlanjutan dan ketertelusuran menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas bisnis ekspor seafood Indonesia,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, (26/3/2026).

Staf Ahli Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Bara Hasibuan, menekankan bahwa Indonesia harus memastikan tiga aspek utama untuk mempertahankan akses pasar global, khususnya Amerika Serikat:

1. Keberlanjutan (Sustainability)

Indonesia sebagai produsen tuna terbesar dunia harus memastikan praktik penangkapan ikan tetap ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem laut.

2. Keamanan Pangan

Standar keamanan pangan global semakin ketat, termasuk regulasi seperti Marine Mammal Protection Act di AS.

3. Ketertelusuran (Traceability)

Setiap produk harus dapat dilacak dari hulu ke hilir untuk menjamin transparansi dan kualitas.

“Pemerintah menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap produk yang tidak memenuhi standar internasional,” kata Bara.

Dari sisi industri, Director PT Primo Indo Ikan, Andajani, menjelaskan bahwa pelaku usaha kini активно beradaptasi dengan standar global. Salah satu langkah konkret adalah penggunaan metode penangkapan ramah lingkungan seperti handline dan pole-and-line.

“Kami bekerja sama dengan nelayan skala kecil untuk memastikan kualitas ikan, proses yang terdokumentasi, serta praktik penangkapan yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga menaikkan nilai jual ikan di pasar internasional.

Fisheries Director International Pole and Line Foundation, Craig Turley, mengapresiasi langkah Indonesia dalam menerapkan standar keberlanjutan dan ketertelusuran.

Menurutnya, implementasi standar Global Dialogue on Seafood Traceability (GDST) telah meningkatkan efisiensi rantai pasok dan memperkuat kepercayaan buyer global.

“Indonesia telah memperkuat sistem rantai dingin dan kualitas produk. Ini membuat posisi Indonesia semakin kuat sebagai pemasok tuna global,” ujarnya.

Sementara itu, Michael McNicholas menekankan pentingnya sistem data yang transparan dan saling terhubung sebagai faktor utama dalam keputusan pembelian dan kerja sama jangka panjang.

Optimisme terhadap ekspor seafood Indonesia juga tercermin dari data terbaru. Pada 2025, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke AS mencapai USD 1,17 miliar.

Sementara itu, pada Januari 2026, ekspor tercatat sebesar USD 107,32 juta, meningkat 14,84% dibanding periode sebelumnya.

Produk unggulan yang mendominasi ekspor meliputi:

  • Udang

  • Tuna beku

  • Filet ikan

  • Tilapia

  • Moluska

Kenaikan ini menunjukkan tingginya kepercayaan pasar terhadap kualitas dan keberlanjutan produk Indonesia.

Partisipasi Indonesia dalam SENA 2026 juga memberikan dampak langsung terhadap potensi perdagangan. Pada hari kedua pameran, jumlah pengunjung Paviliun Indonesia meningkat signifikan, dengan lebih banyak buyer dan importir global yang melakukan penjajakan kerja sama.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi, menyatakan optimisme terhadap tren ini.

“Hal ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kualitas, keberlanjutan, dan daya saing seafood Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat pada 2025 mencapai USD 43,80 miliar.

Dengan rincian sebagai berikut:

  • Ekspor Indonesia ke AS: USD30,96 miliar

  • Impor dari AS: USD12,85 miliar

Data ini memperkuat posisi AS sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia, termasuk dalam sektor perikanan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.