Akurat
Pemprov Sumsel

Mendag Dukung Program Campuspreneur, dari Kampus ke Pasar Global

Esha Tri Wahyuni | 3 April 2026, 19:38 WIB
Mendag Dukung Program Campuspreneur, dari Kampus ke Pasar Global
Mendag Budi Santoso

AKURAT.CO Peluncuran Program Campuspreneur oleh Budi Santoso di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, menjadi langkah strategis pemerintah dalam membangun ekosistem wirausaha muda berbasis kampus.

Program ini dirancang untuk mendorong mahasiswa menjadi pelaku usaha sejak dini, dengan orientasi pasar domestik hingga ekspor global. 

Campuspreneur penting dalam transformasi ekonomi berbasis generasi muda, terutama di tengah tren peningkatan ekspor Indonesia dan kebutuhan penciptaan lapangan kerja baru.

Baca Juga: 30 Wirausaha Muda Ramaikan Campuspreneur Expo Kemendag di Solo

Dengan menggandeng 19 perguruan tinggi di Indonesia, Campuspreneur tidak hanya fokus pada edukasi kewirausahaan, tetapi juga membuka akses nyata ke pasar, pelatihan bisnis, hingga business matching internasional.

Campuspreneur: Dari Kampus ke Pasar Global

Menteri Perdagangan, Budi Santoso menegaskan, bahwa paradigma mahasiswa harus bergeser dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.

“Hari ini kita meluncurkan Program Campuspreneur. Kami ingin anak-anak kita tidak lagi mencari kerja, tetapi menciptakan lapangan kerja sejak kuliah. Ketika lulus, mereka sudah menjadi pengusaha,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

Program ini dirancang dengan pendekatan bertahap. Mahasiswa didorong untuk terlebih dahulu menguatkan bisnis di pasar domestik sebelum menembus pasar ekspor. Strategi ini dinilai lebih realistis dalam membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan.

Kinerja Ekspor Jadi Momentum, Naik 2,19 Persen di Awal 2026

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa kinerja ekspor Indonesia pada Januari–Februari 2026 tumbuh 2,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi sinyal positif bahwa pasar global masih terbuka lebar bagi produk Indonesia.

“Kinerja ekspor ini menunjukkan peluang yang masih sangat besar. Mahasiswa yang terlibat dalam program ini bisa langsung memanfaatkan akses pasar global yang sudah tersedia,” kata Budi Santoso.

Pemerintah juga terus mendorong diversifikasi pasar ekspor dan optimalisasi perjanjian dagang. Saat ini, Indonesia telah memiliki 20 perjanjian dagang aktif yang membuka akses ke berbagai negara mitra.

Fasilitas Lengkap Pelatihan, Kurasi Produk hingga Business Matching

Campuspreneur tidak berhenti pada konsep, tetapi dilengkapi dengan berbagai fasilitas konkret untuk mendukung mahasiswa menjadi pelaku usaha siap ekspor.

Program ini mencakup pelatihan kewirausahaan dan ekspor, kurasi produk oleh ritel modern, business matching dengan buyer internasional serta akses ke program UMKM BISA Ekspor

“Mahasiswa bisa mempresentasikan produknya langsung kepada calon pembeli luar negeri melalui business matching,” ujar Budi Santoso.

Pendekatan ini mempercepat proses validasi pasar, yang sering menjadi kendala utama bagi wirausaha pemula.

Perluas Akses Pasar Domestik Lewat Ritel Modern

Selain ekspor, Campuspreneur juga memperkuat penetrasi pasar dalam negeri. Kemendag telah bekerja sama dengan jaringan ritel modern untuk membantu mahasiswa memasarkan produknya.

“Produk mahasiswa akan dikurasi. Jika memenuhi standar, bisa langsung masuk ke department store dan pusat perbelanjaan,” jelas Budi Santoso.

Langkah ini membuka jalur distribusi yang sebelumnya sulit diakses oleh pelaku usaha pemula, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal. Sekretaris Jenderal Kemendag, Isy Karim, menyebut Campuspreneur sebagai program komprehensif yang melibatkan banyak pihak.

Program ini melibatkan prguruan tinggi, asosiasi bisnis, lembaga pembiayaan, pemerintah daerah serta perwakilan perdagangan RI di luar negeri. Sinergi ini menciptakan ekosistem kewirausahaan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Kampus Jadi Inkubator Startup Berorientasi Ekspor

Rektor Universitas Sebelas Maret, Hartono, menilai Campuspreneur sebagai jembatan penting dalam transformasi kewirausahaan mahasiswa.

“Kami ingin melahirkan startup mahasiswa yang mampu menembus pasar ekspor, berbasis riset, dan memiliki daya saing global,” ujarnya.

Pendekatan berbasis riset ini menjadi nilai tambah, karena produk yang dihasilkan tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki diferensiasi di pasar global.

Mahasiswa juga menyambut positif program ini. Salah satunya disampaikan oleh Hamid Abdurrahim, mahasiswa Pendidikan Ekonomi UNS.

“Program ini membuka peluang kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan mahasiswa. Kewirausahaan berbasis ekspor sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.