Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Itu SAF dari Minyak Jelantah? Solusi Energi Baru Indonesia yang Jarang Dipahami

Idham Nur Indrajaya | 10 April 2026, 09:00 WIB
Apa Itu SAF dari Minyak Jelantah? Solusi Energi Baru Indonesia yang Jarang Dipahami
Apa itu SAF dari minyak jelantah? Simak cara kerja, manfaat, dan peran Indonesia dalam energi ramah lingkungan masa depan. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Pernah terpikir kalau minyak goreng bekas di dapur rumah bisa berubah jadi bahan bakar pesawat? Kedengarannya seperti ide futuristik, tapi inilah yang sedang didorong pemerintah Indonesia melalui pengembangan SAF (Sustainable Aviation Fuel) dari minyak jelantah.

Di tengah tekanan global untuk menekan emisi karbon, langkah ini bukan sekadar inovasi teknologi—melainkan perubahan besar dalam cara kita memandang limbah, energi, dan ekonomi.


Jawaban Cepat: Apa Itu SAF dari Minyak Jelantah?

SAF (Sustainable Aviation Fuel) adalah bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang dibuat dari sumber terbarukan, termasuk minyak jelantah.

Ciri utama SAF:

  • Berasal dari limbah (minyak goreng bekas, residu pertanian)

  • Mengurangi emisi karbon secara signifikan

  • Bisa digunakan langsung pada mesin pesawat tanpa modifikasi

  • Menjadi solusi transisi dari avtur berbasis fosil

Singkatnya, minyak jelantah tidak lagi sekadar limbah—tetapi bisa menjadi energi bernilai tinggi untuk penerbangan modern.


Bagaimana Minyak Jelantah Bisa Jadi Bahan Bakar Pesawat?

Proses ini tidak sesederhana menyaring minyak bekas lalu langsung digunakan. Ada tahapan industri yang kompleks.

Alur sederhananya:

  1. Pengumpulan

    • Dari rumah tangga, restoran, UMKM

  2. Pemurnian awal

    • Menghilangkan kotoran dan air

  3. Proses kimia (refinery)

    • Mengubah struktur minyak menjadi hidrokarbon mirip avtur

  4. Blending & distribusi

    • Dicampur dengan bahan bakar konvensional jika diperlukan

  5. Digunakan di pesawat

👉 Insight penting:
Yang membuat SAF revolusioner bukan hanya bahan bakunya, tapi kemampuannya langsung kompatibel dengan infrastruktur lama. Artinya, maskapai tidak perlu mengganti mesin atau sistem bahan bakar.


Apa Peran Indonesia dalam Pengembangan SAF?

Indonesia punya keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara: limbah minyak sawit dalam jumlah besar.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia harus mulai meninggalkan energi fosil dan beralih ke energi bersih, termasuk SAF berbasis jelantah.

Ia menyebut bahwa avtur ke depan bisa berasal dari limbah seperti minyak goreng bekas, bukan lagi sepenuhnya dari fosil.

"Sekarang avtur pun bisa dari kelapa sawit, dan kita punya banyak kelapa sawit. Avtur nanti bisa dibuat dari jelantah, limbah, dari sisanya minyak goreng. Kita bisa olah menjadi avtur," kata Prabowo dalam acara peresmian pabrik PT VKTR Sakti Industries yang ditayangkan di YouTube, Kamis, 9 April 2026.

Pemerintah juga berencana:

  • Membangun kilang (refinery) SAF secara bertahap

  • Melakukan investasi besar di sektor energi hijau

  • Mengurangi impor BBM

  • Meningkatkan ketahanan energi nasional

Di sisi implementasi, Pertamina Patra Niaga sudah mulai mendistribusikan SAF yang digunakan dalam penerbangan komersial oleh Pelita Air rute Jakarta–Bali pada 2025.

👉 Ini bukan sekadar wacana—tetapi sudah masuk tahap penggunaan nyata.


Kenapa SAF Jadi Solusi Penting untuk Emisi Penerbangan?

Industri penerbangan adalah salah satu penyumbang emisi karbon yang sulit dikurangi. Berbeda dengan mobil listrik, pesawat belum punya alternatif listrik yang realistis untuk jarak jauh.

Di sinilah SAF menjadi solusi paling masuk akal saat ini.

Fakta penting:

  • Emisi bisa ditekan secara signifikan sepanjang siklus hidup bahan bakar

  • Tidak perlu mengubah desain pesawat

  • Bisa langsung diintegrasikan ke sistem yang ada

Menurut laporan industri (dikutip dari Know ESG), pasar SAF global diprediksi melonjak dari:

  • USD 1,4 miliar (2024)

  • menjadi USD 74,2 miliar (2032)

👉 Insight:
Lonjakan ini bukan sekadar tren, tapi indikasi bahwa SAF akan menjadi standar baru industri penerbangan global.


Insight: Dari Limbah Murah ke Energi Bernilai Tinggi

Di sinilah letak paradoks yang jarang dibahas:

Minyak jelantah yang dianggap tidak berguna, justru menjadi bahan baku energi premium.

Ini membuka dua realitas baru:

1. Limbah Jadi Komoditas

Minyak bekas yang biasanya dibuang kini:

  • Dikumpulkan

  • Dijual

  • Masuk rantai industri

Artinya, ada potensi ekonomi baru di level rumah tangga.

2. Energi Tidak Lagi Identik dengan Tambang

Selama ini energi identik dengan:

  • minyak bumi

  • batu bara

Sekarang, energi bisa berasal dari aktivitas sehari-hari masyarakat.

👉 Ini mengubah cara kita melihat ekonomi energi:
dari ekstraktif → sirkular


Simulasi Nyata: Dari Dapur ke Langit

Bayangkan skenario ini:

Seorang ibu rumah tangga mengumpulkan minyak goreng bekas selama seminggu.
Ia menjualnya ke pengepul seharga beberapa ribu rupiah per liter.

Minyak itu kemudian:

  • Dikumpulkan dalam skala besar

  • Dikirim ke kilang

  • Diproses menjadi SAF

  • Digunakan oleh maskapai penerbangan

👉 Dalam waktu tertentu, minyak dari dapur tersebut bisa ikut “mengangkat” pesawat ke udara.

Ini bukan sekadar ilustrasi—ini adalah rantai pasok yang mulai terbentuk di Indonesia.


Tantangan yang Jarang Dibahas

Meski menjanjikan, ada beberapa tantangan nyata:

1. Konsistensi pasokan

Minyak jelantah tersebar dan tidak terorganisir.

2. Kualitas bahan baku

Tidak semua minyak bekas layak diolah.

3. Logistik & distribusi

Pengumpulan dari skala kecil ke industri besar tidak mudah.

👉 Insight:
Jika tidak dikelola dengan baik, SAF bisa menghadapi bottleneck di hulu (bahan baku).


Implikasi: Kenapa Ini Penting untuk Anda?

Perkembangan SAF bukan hanya isu energi, tapi berdampak luas:

Ekonomi

  • Peluang bisnis baru (pengumpulan jelantah)

  • Potensi peningkatan pendapatan masyarakat

Energi

  • Mengurangi impor BBM

  • Memperkuat kemandirian energi nasional

Lingkungan

  • Mengurangi emisi karbon

  • Mengelola limbah lebih efektif


Penutup Reflektif

Kita hidup di era di mana batas antara limbah dan energi mulai kabur. Apa yang dulu dianggap tidak berguna, kini menjadi bagian dari solusi global.

SAF dari minyak jelantah bukan sekadar inovasi teknologi—ini adalah sinyal bahwa masa depan energi akan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

Pertanyaannya sekarang:
apakah kita siap melihat limbah sebagai aset, bukan masalah?

Pantau terus perkembangan energi masa depan ini, karena perubahan besar sering dimulai dari hal yang terlihat sepele—bahkan dari sisa minyak di dapur Anda.


Baca Juga: Presiden Prabowo Putuskan Biaya Haji 2026 Turun Rp 2 Juta meski Harga Avtur Naik

Baca Juga: Harga Avtur Melambung, Garuda Indonesia Bakal Naikkan Harga Tiket Bertahap

FAQ

1. Apa itu sustainable aviation fuel (SAF) dan mengapa penting?

Sustainable Aviation Fuel (SAF) adalah bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang dibuat dari sumber terbarukan seperti minyak jelantah, limbah pertanian, atau biomassa. SAF penting karena mampu mengurangi emisi karbon secara signifikan dibanding avtur fosil, tanpa perlu mengubah mesin pesawat. Dalam konteks global, SAF menjadi solusi paling realistis untuk menekan dampak lingkungan dari industri penerbangan yang sulit dialihkan ke listrik.


2. Apakah minyak jelantah benar-benar bisa jadi bahan bakar pesawat?

Ya, minyak jelantah bisa diolah menjadi bahan bakar pesawat melalui proses penyulingan dan konversi kimia di kilang khusus. Minyak bekas tersebut diubah menjadi hidrokarbon yang memiliki karakteristik mirip avtur. Setelah melalui proses standar industri, hasilnya aman digunakan untuk penerbangan komersial dan sudah diuji dalam berbagai penerbangan, termasuk di Indonesia.


3. Bagaimana cara kerja SAF dari minyak jelantah?

Cara kerja SAF dari minyak jelantah dimulai dari pengumpulan limbah minyak goreng, lalu dimurnikan dan diproses di kilang menjadi bahan bakar berbasis hidrokarbon. Setelah itu, SAF dapat langsung digunakan atau dicampur dengan avtur konvensional. Keunggulannya, bahan bakar ini kompatibel dengan mesin pesawat yang ada, sehingga tidak memerlukan perubahan teknologi besar di sektor penerbangan.


4. Apa manfaat penggunaan SAF bagi lingkungan?

Manfaat utama SAF adalah mengurangi emisi gas rumah kaca sepanjang siklus hidup bahan bakar, mulai dari produksi hingga penggunaan. Dibanding bahan bakar fosil, SAF dapat menekan jejak karbon secara signifikan. Selain itu, pemanfaatan minyak jelantah juga membantu mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, sehingga mendukung konsep ekonomi sirkular.


5. Apa peran Indonesia dalam pengembangan SAF?

Indonesia memiliki peran strategis dalam pengembangan SAF karena memiliki sumber bahan baku melimpah, terutama dari kelapa sawit dan minyak jelantah. Pemerintah di bawah Prabowo Subianto mendorong pembangunan kilang SAF dan investasi energi terbarukan. Selain itu, Pertamina Patra Niaga telah mulai mendistribusikan SAF untuk penerbangan komersial, menunjukkan bahwa Indonesia sudah masuk tahap implementasi nyata.


6. Apakah SAF bisa menggantikan avtur sepenuhnya di masa depan?

SAF berpotensi menggantikan sebagian besar penggunaan avtur fosil, tetapi dalam jangka pendek masih digunakan sebagai campuran (blending). Tantangan utama ada pada ketersediaan bahan baku dan kapasitas produksi. Namun, dengan meningkatnya investasi dan teknologi, SAF diproyeksikan menjadi komponen utama bahan bakar penerbangan dalam beberapa dekade ke depan.


7. Apakah ada peluang bisnis dari minyak jelantah untuk masyarakat?

Ada peluang ekonomi yang cukup besar dari pengolahan minyak jelantah menjadi SAF. Masyarakat dapat mengumpulkan dan menjual minyak bekas ke pengepul atau industri, sehingga limbah rumah tangga memiliki nilai jual. Dengan berkembangnya ekosistem SAF, rantai bisnis dari pengumpulan hingga distribusi berpotensi membuka lapangan usaha baru, terutama bagi UMKM dan sektor informal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.