Tak Terdampak Harga Global, Bahlil Sebut B50 Tetap Lanjut

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan implementasi program biodiesel B50 akan tetap dilanjutkan meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan.
Bahlil menyatakan, kebijakan mandatori B50 tidak semata didasarkan pada fluktuasi harga minyak global, melainkan sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga kedaulatan dan ketahanan energi nasional.
“B50 tetap harus ada. Ini survival mode. Jangan karena kita berbicara tentang harga turun, kemudian kita menggantungkan lagi,” kata Bahlil di Kementerian ESDM dikutip, Minggu (19/4/2026).
Baca Juga: B50 dan E20 Dipacu, Pemerintah Klaim Buka Lapangan Kerja Baru
Bahlil menambahkan, ketidakpastian geopolitik global membuat pasokan energi tidak selalu dapat diandalkan, bahkan ketika suatu negara memiliki kemampuan finansial.
“Sekarang ini di dunia, orang punya duit aja, belum tentu dapat barang. Ini yang kita bicara tentang kedaulatan energi,” tambahnya.
Bahlil menilai ketergantungan terhadap impor energi berisiko tinggi di tengah dinamika global yang cepat berubah. Oleh karena itu, pemerintah memilih untuk memperkuat sumber energi domestik sebagai langkah mitigasi.
Kebijakan B50, kata Bahlil, merupakan bagian dari arahan Presiden untuk meminimalkan risiko tersebut dan memastikan keberlanjutan pasokan energi dalam negeri.
“Atas arahan Bapak Presiden, kami tidak ingin mengambil resiko. Ini (implementasi B50) survival mode,” tutur Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan implementasi B50 akan resmi berlaku mulai 1 Juli 2026.
“Sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50 ini mulai berlaku 1 Juli 2026,” kata Airlangga dalam konferensi secara daring dari Seoul, Korea Selatan, Selasa (31/3/2026).
Menurut Airlangga, PT Pertamina (Persero) telah siap untuk mengimplementasikan proses blending atau pencampuran bahan bakar sesuai kebijakan baru tersebut.
Airlangga menjelaskan penerapan B50 berpotensi menekan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil hingga 4 juta kiloliter.
“Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter dan ini dalam satu tahun,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










