Akurat
Pemprov Sumsel

Stok Melimpah, Pemerintah Punya Ruang Tekan Harga Beras

Esha Tri Wahyuni | 20 April 2026, 08:50 WIB
Stok Melimpah, Pemerintah Punya Ruang Tekan Harga Beras
Presiden Prabowo Subianto saat meninjau Stok dan Cadangan beras pemerintah

AKURAT.CO Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Indonesia dilaporkan mencapai sekitar 4,8 juta ton per April 2026, level tertinggi sepanjang sejarah.

Data ini menjadi indikator baru dalam menguji klaim pemerintah terkait percepatan swasembada beras nasional.

Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Bachtiar Utomo menegaskan kondisi stok di lapangan menunjukkan situasi yang kuat dan terkendali.

Baca Juga: Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman

“Pemerintah tidak bekerja berdasarkan asumsi. Fakta di lapangan menunjukkan cadangan beras pemerintah dalam kondisi sangat kuat. Gudang-gudang terisi optimal dan distribusi terpantau dengan baik,” kata Bachtiar dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil inspeksi mendadak Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono ke gudang Perum Bulog di Magelang. Gudang berkapasitas 7.000 ton di lokasi tersebut dilaporkan terisi penuh.

Sudaryono menyebut capaian stok tersebut menjadi fondasi utama stabilitas pangan nasional.

“Cadangan Beras Pemerintah hingga April 2026 mencapai sekitar 4,8 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan terus bergerak menuju 5 juta ton. Capaian ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri,” ujarnya.

Dari sisi produksi, Kementerian Pertanian mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025. Produksi beras nasional meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh perluasan lahan tanam, perbaikan irigasi, serta kebijakan intensifikasi pertanian.

“Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Produksi meningkat nyata, panen bertambah, dan petani merasakan langsung dampaknya,” kata Bachtiar.

Baca Juga: Amran: Cadangan Beras Pemerintah Hampir Sentuh 5 Juta Ton

Secara historis, Indonesia masih bergantung pada impor beras untuk menjaga stabilitas pasokan, terutama saat produksi domestik terganggu oleh faktor cuaca seperti El Nino. Data beberapa tahun terakhir menunjukkan pemerintah masih membuka keran impor untuk menjaga stok nasional.

Namun, lonjakan CBP hingga mendekati 5 juta ton menandai perubahan signifikan dalam strategi pangan nasional. Pemerintah kini mengandalkan kombinasi peningkatan produksi domestik dan penguatan cadangan nasional untuk menekan ketergantungan impor.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya menegaskan capaian stok saat ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah pengelolaan pangan nasional. Ia bahkan meminta pihak yang meragukan untuk melihat langsung kondisi gudang Bulog.

Kenaikan stok dan produksi beras berpotensi memberikan dampak langsung terhadap stabilitas harga pangan. Dengan cadangan yang tinggi, pemerintah memiliki ruang intervensi lebih besar untuk menekan volatilitas harga di pasar, terutama menjelang periode rawan seperti musim kemarau atau gangguan distribusi.

Di sisi lain, kondisi ini juga berdampak pada ekspektasi pasar dan pelaku usaha pangan. Stok yang melimpah dapat menahan laju inflasi pangan, yang selama ini menjadi salah satu komponen utama inflasi nasional.

Namun, Bachtiar mengingatkan pentingnya menjaga narasi berbasis data di tengah polemik yang berkembang.

“Pernyataan yang tidak berbasis data lapangan justru memicu keresahan. Banyak petani merasa apa yang mereka capai hari ini seolah diabaikan,” ujarnya.

Dengan kombinasi stok tinggi dan produksi yang meningkat, pemerintah menilai Indonesia berada di jalur menuju swasembada beras. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi produksi serta memastikan distribusi berjalan efisien.

“Kalau stok penuh dan produksi naik, maka arah swasembada itu bukan lagi wacana, tetapi proses yang sedang berjalan dan semakin mendekati target,” kata Bachtiar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.