Bandingkan Kinerja Eni dan Inpex di Blok Migas, Bahlil: Eni Kerja Dulu Baru Lapor

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan apresiasi terhadap kinerja perusahaan energi asal Italia, Eni, dalam kegiatan eksplorasi migas di Indonesia yang dinilai menunjukkan hasil konkret dan progres yang cepat.
Hal ini dikatakan Bahlil karena, Eni eksplorasi yang dilakukannya membuahkan hasil yang signifikan, mulai dari proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) hingga yang terbaru adalah Sumur Geliga yang memiliki potensi 5 triliun kaki kubik (Trillion Cubic Feet/TCF) gas bumi.
“Saya harus mengapresiasi kepada Eni. Jujur saja, saya ini kan orangnya objektif saja. Kalau bagus, saya akan bilang bagus. Kalau enggak bagus, saya akan bilang enggak bagus,” ujar Bahlil.
Baca Juga: Entitas Anak MEDC Bakal Terbitkan Surat Utang Senior USD200 Juta Untuk Refinancing
Bahlil membandingkan kinerja tersebut dengan sejumlah kontraktor atau KKKS lain yang dinilai lebih banyak menyampaikan rencana tanpa kepastian realisasi.
Salah satu KKKS yang disinggung Bahlil adalah perusahaan asal Jepang, INPEX Corporation yang mengoperatori Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku yang pengembangannya masih tertahan sampai saat ini.
“Ini berbeda dengan Inpex. Kalau mereka ini kerjanya dulu cepat, sudah hasilnya, lapor. Kalau yang lain ini omong dulu, tidak tahu hasil kapan. Makanya kita butuh langkah-langkah taktis,” ujar Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil menekankan pentingnya kolaborasi antara investor asing dengan perusahaan nasional. Ia meminta agar setiap pengembangan proyek migas turut melibatkan Pertamina sebagai bagian dari penguatan kapasitas dalam negeri.
“Jadi, saya mengapresiasi lah. Dan ini adalah kolaborasi yang baik, mereka juga melakukan kerja sama dengan Pertamina. Saya minta untuk mereka juga harus ada kolaborasi Pertamina,” tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, Kementerian ESDM mengumumkan adanya penemuan potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat di Sumur Geliga-1 di wilayah Kalimatan Timur.
Adpaun, temuan ini menjadi sinyal positif bagi upaya memperkuat pasokan energi dalam negeri di tengah kebutuhan yang terus meningkat.
Eksplorasi yang melibatkan perusahaan energi asal Italia, ENI, menegaskan bahwa potensi migas Indonesia masih sangat besar, khususnya di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, yang terus menunjukkan prospek menjanjikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan apresiasi terhadap Eni atas keberhasilan penemuan tersebut.
Temuan ini memberikan bukti bahwa Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi migas sebagai penopang ketahanan energi nasional dan upaya untuk swasembada energi.
“Ini adalah hasil eksplorasi dan setelah ini mereka juga akan melakukan penyembangan untuk melakukan eksplorasi dari beberapa wilayah lain selain daripada wilayah Kalimantan Timur,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Senin (20/4/2026).
Bahlil menjelaskan, pada tahun 2028, produksi puncak yang bisa dicapai oleh Eni adalah sebesar 2.000 MMSCFD, jauh melesat apabila dibandingkan dengan produksinya sekarang sekitar 600 hingga 700 MMSCFD.
Dan terus akan ditingkatkan hingga tahun 2030 akan dikembangkan produksinya menjadi 3.000 MMSCFD.
“Ini (penemuan) giant. Selain daripada gas, kita juga menemukan nanti di 2028, kita produksi kondensat itu kurang lebih sekitar 90 ribu barel. Dan di 2029-2030 itu bisa tambah lagi menjadi 150 ribu barel,” tambahnya.
Selain Sumur Geliga, Bahlil juga menyampaikan temuan sebelum sumur Geliga, yakni Sumur Gula, yang menghasilkan gas sekitar 2 TCF dan 75 juta barel kondensat.
Dari kedua sumur tersebut, estimasi awal kombinasi sumber daya Geliga dan Gula berpotensi menghasilkan tambahan produksi hingga 1.000 mmscfd gas dan 80.000 bpd kondensat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









