Harga Energi Non-subsidi Naik, Seberapa Dalam Tekan Kelas Menengah?

AKURAT.CO Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dinilai memicu tekanan langsung terhadap konsumsi kelas menengah, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyebut dampak BBM nonsubsidi kerap dianggap terbatas, namun dalam praktik justru signifikan terhadap kelompok berpendapatan menengah.
“Sering ada argumen bahwa karena ini BBM nonsubsidi, dampaknya terbatas. Secara teori itu ada benarnya. Tapi dalam praktik, justru kelas menengah yang paling banyak menggunakan Pertamax, Dexlite, dan LPG 12 kg. Jadi tekanan itu langsung terasa ke mereka,” ujar Yusuf saat dihubungi Akurat.co, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: BBM Non Subsidi Melonjak, Daya Beli Masyarakat Apa Kabar?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan porsi di atas 50% hingga 2025.
Artinya, setiap tekanan pada daya beli berpotensi langsung memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Yusuf menambahkan, kenaikan biaya energi bersifat rutin sehingga efeknya lebih cepat terasa dibanding pengeluaran insidental.
“Dan karena pengeluarannya sifatnya rutin, bukan sekali-sekali, efeknya cepat terasa di dompet,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, daya tahan kelas menengah Indonesia mengalami tekanan. Data BPS menunjukkan pertumbuhan kelas menengah cenderung melambat pasca pandemi COVID-19, sementara tingkat tabungan rumah tangga belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja juga belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum pandemi. Hal ini tercermin dari tingkat setengah pengangguran dan pekerja informal yang masih relatif tinggi.
“Yang membuat situasinya lebih berat, kondisi kelas menengah memang sedang tidak terlalu kuat. Tabungan banyak yang sudah tergerus dalam beberapa tahun terakhir, sementara pasar kerja juga belum sepenuhnya pulih,” jelas Yusuf.
Ia menambahkan, kondisi ini membuat ruang penyesuaian rumah tangga menjadi terbatas saat terjadi kenaikan biaya hidup.
“Biasanya responsnya langsung terlihat: orang mulai menahan belanja, menunda beli rumah, mengurangi jalan-jalan. Itu semua pelan-pelan menekan aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Tekanan dari kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya berhenti pada konsumsi individu, tetapi juga merambat ke sektor riil.
Yusuf menjelaskan, kenaikan biaya distribusi berpotensi meningkatkan harga barang secara bertahap. Sektor ritel, makanan dan minuman, hingga properti disebut mulai merasakan perlambatan permintaan.
“Efek lanjutannya biasanya menyebar. Biaya distribusi naik, meskipun tidak selalu langsung terlihat di harga barang. Sektor ritel, makanan minuman, sampai properti mulai terasa sepi,” katanya.
Selain itu, peningkatan pengeluaran rutin juga berpotensi menekan kemampuan masyarakat dalam membayar cicilan. Hal ini berisiko meningkatkan tekanan di sektor keuangan jika berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam skala makro, kondisi ini dapat memengaruhi target pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga yang melemah akan mengurangi momentum ekspansi ekonomi nasional.
Yusuf menilai respons kebijakan perlu lebih komprehensif untuk meredam dampak kenaikan harga energi nonsubsidi.
“Menahan BBM subsidi itu penting, tapi itu baru satu sisi. Yang juga perlu dijaga adalah bagaimana kenaikan di sektor nonsubsidi ini tidak terlalu mengagetkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi pergeseran konsumsi ke BBM subsidi yang dapat membebani fiskal jika tidak dikendalikan.
Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu menjaga stabilitas harga pangan dan memberikan stimulus yang tepat sasaran, khususnya bagi kelompok kelas menengah bawah.
“Instrumen seperti subsidi upah bisa lebih terasa karena langsung menambah ruang belanja. Insentif pajak juga bisa, tapi sebaiknya fokus ke sektor yang benar-benar lagi tertekan seperti ritel, pariwisata, dan properti,” kata Yusuf.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










