5 Sektor yang Diuntungkan Saat Krisis 2026, Ini Analisis HSBC

AKURAT.CO Ketika krisis datang—mulai dari konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, hingga ketidakpastian global—reaksi pasar hampir selalu sama: investor panik.
Namun di balik tekanan itu, ada satu pola yang selalu berulang:
👉 uang tidak hilang, tapi berpindah sektor
Hal ini sejalan dengan pandangan HSBC yang melihat bahwa guncangan global tidak selalu menghancurkan pasar saham secara keseluruhan.
Seperti dijelaskan oleh Herald van der Linde, Chief Asia Equity Strategist, HSBC Global Investment Research, yang mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir dunia telah menghadapi berbagai guncangan besar, tapi pasar saham tetap menunjukkan kinerja yang baik dalam jangka panjang.
“Jika melihat beberapa tahun terakhir, dunia telah menghadapi berbagai guncangan besar—mulai dari perang Rusia-Ukraina, krisis perbankan pada 2023, hingga kebijakan tarif perdagangan. Meski berdampak negatif dalam jangka pendek, kenyataannya pasar saham global tetap menunjukkan kinerja yang cukup baik dalam jangka panjang," ujar Herald dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook Q2-2026 yang diselenggarakan secara virtual, Kamis, 23 April 2026.
👉 Artinya: krisis bukan akhir dari pasar, tapi momen rotasi sektor.
Ringkasan: Sektor yang Diuntungkan Saat Krisis
Berdasarkan analisis HSBC, sektor yang cenderung diuntungkan atau lebih tahan saat krisis adalah:
Energi → diuntungkan kenaikan harga minyak
Utilitas → kebutuhan dasar tetap berjalan
Konsumsi dasar (FMCG) → permintaan stabil
Komoditas tertentu → tergantung kondisi global
Namun penting dipahami:
👉 tidak semua saham di sektor ini otomatis naik
Kenapa Sektor Energi Jadi Pemenang?
Krisis saat ini didorong oleh faktor utama: krisis energi global.
Menurut HSBC, ini bukan sekadar soal harga, tetapi juga ketersediaan energi.
Pranjul Bhandari, Managing Director, Chief India Economist & Macro Strategist, ASEAN Economist, HSBC, menjelaskan bahwa Krisis energi ini bukan hanya soal harga energi, tetapi juga ketersediaannya.
“Pertanyaannya adalah: apakah pasokan minyak, gas, dan bahan baku industri lainnya akan mencukupi? Hal ini menjadi tantangan serius karena berdampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi," papar Pranjul dalam kesempatan yang sama.
Dalam kondisi seperti ini:
harga energi naik
pasokan terbatas
permintaan tetap tinggi
➡️ sektor energi justru diuntungkan
Herald van der Linde menegaskan:
“Dalam kondisi saat ini, sektor yang paling terkait dengan persepsi risiko adalah energi, khususnya minyak. Oleh karena itu, sektor energi dan utilitas cenderung bersifat defensif, karena diuntungkan oleh kenaikan harga minyak.”
👉 Ini menjadikan energi sebagai sektor utama saat krisis.
Sektor Utilitas: Stabil di Tengah Ketidakpastian
Selain energi, sektor utilitas juga menjadi pilihan defensif.
Kenapa?
Karena:
listrik tetap dibutuhkan
air tetap digunakan
energi dasar tidak bisa dihentikan
👉 Dalam kondisi apa pun, permintaan tetap ada.
Konsumsi Dasar: Tidak Hilang, Tapi Berubah
Salah satu kekuatan Indonesia adalah konsumsi domestik.
Meskipun ada tekanan ekonomi, konsumsi tidak langsung jatuh.
Pranjul Bhandari menjelaskan:
“Dalam kondisi normal, penurunan tabungan publik dan kenaikan biaya pinjaman dapat menekan konsumsi dan investasi. Namun saat ini bukan kondisi normal. Kita menghadapi guncangan energi besar… saya tidak melihat penurunan tabungan publik akan langsung menekan konsumsi secara signifikan pada 2026.”
👉 Artinya:
konsumsi tetap berjalan
tapi lebih selektif
Insight: Sektor Defensif Tidak Selalu Aman
Ini bagian paling krusial—dan sering diabaikan.
Banyak investor berpikir:
👉 sektor defensif pasti aman
Padahal, menurut HSBC:
“Jika risiko meningkat, arus keluar dana biasanya terjadi dari saham-saham besar dan likuid, seperti perbankan, telekomunikasi, dan perusahaan konsumer besar.”
👉 Ini menciptakan paradoks:
saham bagus bisa turun
bukan karena fundamental buruk
tapi karena tekanan likuiditas
Kenapa Saham Besar Justru Jadi Korban?
Herald van der Linde menjelaskan dinamika ini secara jelas:
“Meskipun sektor-sektor ini fundamentalnya defensif, mereka tetap menjadi sumber likuiditas saat investor menarik dana.”
Artinya:
investor global butuh cash
mereka jual aset paling likuid
👉 dan itu biasanya saham besar
Simulasi Nyata: Saat Krisis Memuncak
Bayangkan kondisi ini:
harga minyak tembus USD 100
ketidakpastian global meningkat
dolar AS menguat
Apa dampaknya?
Pranjul Bhandari memberikan gambaran:
“Jika harga minyak tetap tinggi dan dolar AS menguat, maka Bank Indonesia justru mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.”
Efek lanjutannya:
biaya ekonomi naik
pasar saham volatile
investor lebih defensif
Namun di saat yang sama:
➡️ sektor energi tetap kuat
Strategi Investor Saat Krisis
Dari keseluruhan analisis HSBC, ada beberapa pelajaran penting:
1. Fokus pada sektor berbasis kebutuhan
energi
utilitas
konsumsi dasar
2. Pahami peran aliran dana global
👉 bukan hanya sektor yang menentukan
3. Waspadai likuiditas pasar
saham besar bisa ditekan
bukan karena lemah, tapi karena dijual
Apakah Indonesia Punya Keunggulan?
HSBC melihat Indonesia tidak hanya menghadapi risiko, tapi juga peluang.
Pranjul Bhandari menjelaskan:
“Indonesia adalah eksportir berbagai komoditas penting seperti gas, batu bara, dan pupuk urea. Komoditas ini sedang mengalami kekurangan pasokan di Asia, sehingga membuka peluang ekspor yang dapat memperkuat neraca eksternal.”
👉 Ini poin penting:
krisis global bisa jadi peluang bagi Indonesia
Insight: Yang Menentukan Bukan Sektor, Tapi Arah Uang
Sebagian besar artikel berhenti di:
👉 “ini sektor defensif”
Tapi realitas pasar lebih kompleks:
👉 yang menentukan adalah aliran dana global
Karena:
dana besar menggerakkan harga
bukan sekadar fundamental
Penutup: Krisis Selalu Punya Pemenang
Krisis memang menciptakan ketidakpastian.
Tapi juga membuka peluang.
Seperti yang disampaikan Herald van der Linde:
“Dalam jangka pendek, Indonesia menghadapi tantangan—mulai dari harga minyak hingga tekanan pasar. Namun dalam jangka panjang, ada peluang besar… pasar saham akan menjadi lebih likuid, lebih dalam, dan lebih menarik.”
👉 Artinya:
krisis bukan hanya ancaman, tapi juga titik awal peluang baru.
Pantau terus sektor-sektor ini sebelum mengambil keputusan investasi—karena dalam kondisi seperti ini, pemahaman jauh lebih penting daripada sekadar keberanian.
Baca Juga: Apakah Teknologi Pertanian Bisa Mencegah Krisis Pangan Global?
Baca Juga: Kemenperin: Industri Agro Tetap Tangguh Hadapi Dinamika Global
FAQ
1. Sektor apa yang paling diuntungkan saat krisis ekonomi 2026?
Sektor yang diuntungkan saat krisis ekonomi 2026 umumnya adalah sektor energi, utilitas, dan konsumsi dasar. Hal ini karena sektor energi diuntungkan oleh kenaikan harga minyak dan gas, sementara utilitas dan kebutuhan pokok tetap dibutuhkan dalam kondisi apa pun. Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan dana ke sektor yang memiliki permintaan stabil dan risiko lebih rendah.
2. Apakah semua saham defensif pasti naik saat krisis?
Tidak, saham defensif tidak selalu naik saat krisis. Meskipun sektor seperti konsumsi dasar dan utilitas cenderung lebih stabil, saham-saham tersebut tetap bisa turun jika terjadi arus keluar dana besar dari investor global. Dalam kondisi panic selling, saham dengan likuiditas tinggi justru sering dijual terlebih dahulu, sehingga harga bisa tertekan meskipun fundamentalnya kuat.
3. Kenapa sektor energi sering naik saat krisis global?
Sektor energi sering naik saat krisis global karena harga minyak dan gas cenderung meningkat akibat gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik. Ketika harga komoditas energi naik, perusahaan di sektor ini memperoleh keuntungan lebih besar dari peningkatan harga jual. Hal ini membuat saham energi menjadi salah satu pilihan utama investor saat kondisi ekonomi tidak stabil.
4. Sektor apa yang paling aman saat ekonomi melambat?
Sektor yang relatif aman saat ekonomi melambat adalah sektor kebutuhan pokok (FMCG), kesehatan, dan utilitas. Ketiga sektor ini tetap memiliki permintaan yang stabil karena menyediakan produk dan layanan yang dibutuhkan sehari-hari. Meskipun pertumbuhan bisa melambat, sektor-sektor ini biasanya tidak mengalami penurunan drastis seperti sektor siklikal seperti properti atau otomotif.
5. Mengapa saham big caps bisa turun saat krisis?
Saham big caps bisa turun saat krisis karena menjadi sumber likuiditas bagi investor besar. Ketika investor global membutuhkan dana cepat, mereka cenderung menjual saham dengan volume besar dan likuiditas tinggi, seperti perbankan dan telekomunikasi. Akibatnya, harga saham big caps bisa tertekan meskipun kinerja perusahaan tersebut sebenarnya masih solid.
6. Bagaimana strategi investasi saat krisis ekonomi global?
Strategi investasi saat krisis ekonomi global adalah dengan fokus pada sektor defensif, menjaga diversifikasi portofolio, dan memperhatikan pergerakan dana asing. Investor juga perlu lebih selektif dalam memilih saham dengan fundamental kuat dan tidak hanya mengikuti tren pasar. Selain itu, menjaga likuiditas dan menghindari keputusan emosional menjadi kunci agar tetap bertahan di tengah volatilitas.
7. Apakah krisis selalu membawa peluang investasi?
Ya, krisis tidak hanya membawa risiko, tetapi juga peluang investasi. Dalam setiap krisis, selalu ada sektor yang diuntungkan, seperti energi atau komoditas tertentu. Selain itu, harga saham yang turun akibat tekanan pasar sering membuka peluang untuk membeli aset berkualitas dengan valuasi lebih menarik, selama investor memahami risiko dan memiliki strategi yang tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kenapa Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan? Ini Bahaya dan Dampaknya bagi Lingkungan
- 2Iran Keluarkan Pernyataan Resmi Menolak Perundingan Baru dengan Amerika Serikat
- 3Setelah Kyiv Memperbaiki Pipa Minyak dari Rusia, Hungaria Akan Cabut Larangan atas Pinjaman Uni Eropa untuk Ukraina
- 4Pembukaan Sebagian Wilayah Udara Dimulai, AS Minta Warganya Segera Tinggalkan Iran
- 5Warga Amerika: Demensia Trump Makin Parah, Pernyataan-pernyataannya Makin Aneh!
- 6Alhamdulillah, Iran Siap Akhiri Perang dengan Syarat Ini
- 7Terungkap! 4 Alasan Rakyat Amerika Tidak Suka Perang dengan Iran
- 8Presiden Prabowo Kembali Perkuat Alutsista dari Prancis, Salah Satunya Jet Tempur Rafale
- 9Golkar Dukung Arahan Presiden Prabowo, Prioritaskan MBG untuk Anak Kurang Gizi
- 10KPK: Banyak PIHK Kembalikan Uang Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji







