Akurat
Pemprov Sumsel

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Suhu Udara di Kota Lebih Panas daripada di Desa

Rahmat Ghafur | 15 Oktober 2025, 15:30 WIB
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Suhu Udara di Kota Lebih Panas daripada di Desa

AKURAT.CO Fenomena perbedaan suhu antara wilayah perkotaan dan perdesaan sudah bukan rahasia lagi.

Di banyak tempat, pusat kota terasa jauh lebih panas dan "gerah" dibandingkan daerah sekitarnya.

Perbedaan suhu ini, yang dikenal sebagai fenomena Pulau Bahang Perkotaan (Urban Heat Island atau UHI), bukan disebabkan oleh kebetulan semata, melainkan hasil dari kombinasi kompleks aktivitas manusia dan karakteristik fisik kota itu sendiri.

Lantas, apa saja faktor utama yang membuat suhu udara di kota metropolitan menjadi "pulau panas" yang membara?

Baca Juga: Cuaca Panas Melanda, Inilah Penyebabnya dan Kapan Akan Berakhir

Faktor Utama Penyebab Pulau Bahang Perkotaan (UHI)

Perbedaan drastis ini dipicu oleh setidaknya empat faktor utama yang saling berkaitan:

1. Material Bangunan yang Menyerap Panas (Permukaan Impermeabel)

Salah satu perbedaan paling mencolok antara kota dan desa adalah material yang digunakan.

Kota: Jalanan didominasi oleh aspal dan beton, sementara bangunan dipenuhi oleh kaca, baja, dan batu. Material-material ini dikenal sebagai permukaan impermeabel (tidak menyerap air) dan memiliki kapasitas penyerapan panas yang tinggi. Energi matahari yang jatuh pada permukaan ini sebagian besar diserap dan disimpan pada siang hari, kemudian dilepaskan perlahan sebagai panas ke udara pada malam hari.

Desa: Permukaan didominasi oleh tanah, rumput, dan vegetasi yang mampu memantulkan sebagian besar panas dan menyimpan air.

2. Kurangnya Vegetasi dan Proses Evapotranspirasi

Vegetasi (pohon, rumput, tanaman) memiliki peran vital dalam mendinginkan lingkungan melalui proses yang disebut evapotranspirasi.

Evapotranspirasi: Proses di mana tanaman menyerap air dan melepaskannya kembali ke atmosfer dalam bentuk uap air. Proses ini membutuhkan energi panas, yang secara efektif mendinginkan udara di sekitarnya.

Kota: Lahan hijau digantikan oleh bangunan (disebut penyegelan lahan). Minimnya pohon berarti minimnya proses evapotranspirasi. Akibatnya, energi panas tidak digunakan untuk menguapkan air, melainkan langsung dilepaskan ke udara, meningkatkan suhu secara keseluruhan.

3. Panas Antropogenik (Panas Buatan Manusia)

Kota adalah pusat aktivitas manusia yang menghasilkan panas sisa dalam jumlah besar.

Lalu Lintas: Jutaan kendaraan bermotor melepaskan gas panas dari knalpot dan panas dari mesin.

Sistem Pendingin Udara (AC): Gedung-gedung tinggi yang ber-AC membuang udara panas dari bagian belakang unit pendingin ke jalanan, menambah panas pada udara ambien.

Pabrik dan Industri: Aktivitas pabrik juga melepaskan panas sisa yang signifikan ke atmosfer perkotaan.

4. Geometri Bangunan Tinggi (Efek Canyon Jalan)

Struktur fisik kota, dengan gedung-gedung pencakar langit yang rapat, juga memerangkap panas.

Efek Canyon: Gedung-gedung tinggi menciptakan "lembah" atau canyon jalan. Sinar matahari dapat terpantul berkali-kali di antara dinding-dinding bangunan sebelum akhirnya terperangkap di jalanan, meningkatkan intensitas panas.

Angin: Struktur bangunan yang rapat menghalangi aliran angin alami yang seharusnya membawa panas keluar dari kota, membuat udara panas stagnan di area tersebut.

Baca Juga: Kenapa Cuaca Sangat Panas Akhir-akhir Ini? Ini Penjelasan BMKG 2025!

Dampak dan Solusi

Fenomena UHI tidak hanya membuat kota tidak nyaman dihuni, tetapi juga memiliki dampak serius, seperti peningkatan konsumsi energi (untuk pendinginan), masalah kesehatan (heat stroke), dan memburuknya kualitas udara.

Untuk mengatasi masalah ini, berbagai solusi ramah lingkungan (mitigasi UHI) mulai diterapkan, antara lain:

- Menggunakan cool roof dan cool pavement yang dapat memantulkan sinar matahari lebih banyak daripada menyerapnya.

- Menambah vegetasi di atap (atap hijau) dan dinding bangunan untuk meningkatkan evapotranspirasi.

- Menyediakan lebih banyak ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai paru-paru dan pendingin alami kota.

Dengan memahami faktor-faktor penyebab UHI, pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk merancang kota yang lebih sejuk, sehat, dan berkelanjutan di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D