Cara Menentukan Harga Jual Produk UMKM agar Meraup Untung Besar

AKURAT.CO Di balik ramainya pesanan dan meningkatnya omzet, tidak sedikit pelaku UMKM yang justru merasa keuangannya jalan di tempat.
Uang masuk setiap hari, produk terus terjual, tetapi saat dihitung di akhir bulan, keuntungan yang diharapkan tidak benar-benar terasa.
Fenomena ini bukan hal baru. Banyak usaha kecil berjalan tanpa fondasi penentuan harga yang tepat.
Harga sering kali ditentukan berdasarkan perkiraan, mengikuti kompetitor, atau sekadar yang penting laku.
Padahal, menentukan harga jual produk UMKM bukan sekadar angka melainkan keputusan strategis yang menentukan hidup atau matinya sebuah bisnis.Cara Mengelola Uang
Sebelum berbicara soal harga, ada persoalan mendasar yang sering terjadi di banyak UMKM, yakni pengelolaan keuangan yang belum rapi. Tanpa disadari, kondisi ini membuat pelaku usaha sulit mengetahui apakah bisnisnya benar-benar untung atau justru merugi.
Banyak yang masih mencampur uang usaha dengan kebutuhan pribadi.
Hasil penjualan digunakan langsung untuk belanja harian tanpa pencatatan yang jelas. Akibatnya, perhitungan menjadi kabur, dan harga jual pun ditentukan tanpa dasar yang kuat.
Di sisi lain, masih banyak pelaku usaha yang menganggap semua uang masuk sebagai keuntungan. Padahal, di dalamnya masih ada biaya produksi, operasional, bahkan modal yang belum kembali.
Tanpa pemahaman ini, harga jual yang ditetapkan sering kali tidak mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Baca Juga: Desa Hendrosari Gresik: Sukses Wisata Lontar Sewu, UMKM BRI Tumbuh dan Petani Legen Makin Sejahtera
Memahami Harga Pokok Produksi: Fondasi yang Sering Diabaikan
Dalam menentukan harga jual, ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan, yaitu memahami biaya produksi atau yang sering disebut sebagai Harga Pokok Produksi (HPP).
HPP adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu produk hingga siap dijual.
Tanpa mengetahui angka ini, pelaku usaha sebenarnya sedang menetapkan harga tanpa pijakan yang jelas.
Di dalam HPP, terdapat beberapa komponen penting yang harus diperhitungkan secara menyeluruh. Bahan baku menjadi bagian paling terlihat, tetapi bukan satu-satunya.
Tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi juga memiliki nilai yang harus dihitung, termasuk jika pemilik usaha mengerjakannya sendiri.
Selain itu, ada biaya-biaya yang sering dianggap kecil, seperti listrik, air, kemasan, hingga penyusutan alat. Meskipun terlihat sepele, jika diabaikan, biaya ini bisa menggerus keuntungan secara perlahan.
Ketika semua komponen ini dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan, barulah muncul angka dasar yang menjadi acuan harga jual.
Dari sinilah pelaku usaha bisa mengetahui batas minimum harga agar tidak merugi.
Menentukan Harga Jual: Antara Biaya, Pasar, dan Nilai
Setelah memahami biaya produksi, langkah berikutnya adalah menentukan harga jual. Di tahap ini, banyak pelaku UMKM sering berada di persimpangan: ingin harga terjangkau agar laku, tetapi juga ingin mendapatkan keuntungan.
Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah menambahkan margin keuntungan di atas biaya produksi. Cara ini relatif aman karena memastikan harga jual tidak berada di bawah biaya. Namun, pendekatan ini belum tentu cukup jika tidak mempertimbangkan kondisi pasar.
Di sisi lain, ada pelaku usaha yang menentukan harga dengan melihat kompetitor. Strategi ini bisa efektif, terutama untuk produk yang sudah banyak di pasaran. Namun, jika dilakukan tanpa memahami biaya sendiri, risiko terbesar adalah menjual produk dengan harga yang ternyata tidak menguntungkan.
Lebih jauh lagi, harga juga bisa ditentukan berdasarkan nilai yang dirasakan oleh pelanggan. Produk yang memiliki keunikan, kualitas tinggi, atau cerita di baliknya sering kali memiliki harga yang lebih tinggi karena pelanggan tidak hanya membeli barang, tetapi juga pengalaman dan kepercayaan.
Mengapa Produk yang Sama Bisa Memiliki Harga Berbeda?
Fenomena ini sering membingungkan pelaku UMKM. Dua produk yang terlihat mirip bisa memiliki harga yang jauh berbeda, namun tetap sama-sama laku di pasaran.
Jawabannya terletak pada positioning. Harga bukan hanya soal biaya, tetapi juga soal bagaimana produk tersebut dipersepsikan oleh konsumen.
Faktor seperti kualitas, kemasan, pelayanan, hingga branding turut memengaruhi nilai jual.
Inilah alasan mengapa menentukan harga tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Harga yang terlalu rendah bisa merusak persepsi kualitas, sementara harga yang terlalu tinggi tanpa nilai yang jelas bisa membuat produk sulit bersaing.
Baca Juga: Program Revitalisasi Sekolah Genjot Ekonomi Lokal, Serap 238 Ribu Tenaga Kerja dan Hidupkan UMKM
Menjadikan Harga sebagai Strategi, Bukan Sekadar Angka
Menentukan harga jual produk UMKM bukanlah proses sekali jadi. Dia membutuhkan evaluasi, penyesuaian, dan pemahaman yang terus berkembang seiring perjalanan bisnis.
Harga bukan sekadar angka yang ditempel pada produk, tetapi cerminan dari bagaimana pelaku usaha memahami biaya, mengenal pasar, dan menghargai nilai yang mereka ciptakan.
Memulai dari pencatatan sederhana, menghitung biaya secara jujur, hingga berani menetapkan harga yang sesuai adalah langkah awal menuju bisnis yang lebih sehat.
Mutiara MY (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









