Dari Kemang ke Kebagusan, KUR BRI Temani Usaha Warung Sembako dan Nasi Uduk Bu Sri

AKURAT.CO Agak masuk ke dalam dari Jalan Kebagusan Raya, tepatnya di Kebagusan IV, Jakarta Selatan, lampu warung Wasri biasanya baru padam menjelang dini hari. Kadang pukul tiga, kadang lewat pukul empat pagi.
Di antara rak beras, mi instan, telur, dan kebutuhan sehari-hari lain, perempuan 54 tahun itu menjaga dapur keluarganya tetap menyala pelan asal terus berjalan.
“Kalau warung sembako mah, walaupun sudah malam, kami sudah capek juga, ya tetap buka,” kata Wasri sambil tersenyum tipis.
Warung sembako itu bukan cuma tempat mencari nafkah. Ia jadi sandaran keluarga yang sempat kehilangan tempat berpijak ketika rumah yang mereka tempati sekaligus jadi tempat usaha di Kemang Timur harus dijual untuk biaya pengobatan Wasri yang sempat sakit.
Setelah berjualan nasi uduk sejak 2004 di sana, Wasri harus memulai semuanya lagi dari awal. “Di Kemang saya sudah 22 tahun jualan nasi. Pas pindah ke sini ya mulai lagi dari awal,” ujarnya.
Baca Juga: Teh Erni Hidupkan Kembali Toko Kelontong Lewat KUR BRI
Pindah tempat berarti memulai kehidupan baru. Pelanggan lama hilang, lingkungan berubah, ritme usaha pun berbeda. Kalau Kemang ramai oleh lalu lalang pekerja kantoran, Kebagusan IV terasa lebih pelan dan belum sepenuhnya akrab bagi Wasri.
Tapi di tengah perubahan itu, ada satu hal yang tidak ia lepaskan: kemauan untuk tetap berjualan. Di situlah Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI turut ambil peran dalam perjalanan hidup Wasri.
Modal Kecil yang Naik Seiring Waktu
Warung Sembako dan Nasi Uduk Wasri bersebelahan dengan warteg
Hubungan Wasri dengan BRI sudah dimulai sejak pertengahan 2006-an. Awalnya ia hanya berani meminjam Rp5 juta. Perlahan naik sedikit demi sedikit keRp10 juta, Rp15 juta, Rp20 juta, sampai yang terkini di tahun 2024-an Rp100 juta.
Bagi Wasri, kenaikan pinjaman itu bukan melulu untuk ekspansi. Semuanya berjalan pelan, mengikuti kemampuan usaha dan kondisi keluarga. “Dari dulu enggak berani langsung ambil gede. Bertahap saja,” kata Wasri.
Pinjaman itu membantu banyak hal dalam hidup mereka, mulai dari biaya sekolah anak sampai tambahan modal usaha.
Saat masih tinggal di Kemang, modal dari BRI bahkan sempat dipakai untuk membangun usaha kos-kosan kecil. Kini setelah pindah ke Kebagusan, pembiayaan itu jadi pegangan untuk memulai lagi usaha dari bawah.
Warung sembako yang sekarang dijalankannya sebenarnya bermula saat pemilik lama berhenti berdagang. Saat itu, Wasri yang berjualan nasi uduk di sebelah warung sembako pun memutuskan untuk meneruskan usaha tetangga tersebut.
“Saya baru 7 bulan di Kebagusan IV. Jualan nasi uduk baru 2 bulanan. Nah sebelah saya toko sembako mau nutup, saya ambil alih begitu. Pindah ke sini sih karena rumah pribadi di Kemang dijual. Saya kan bingung namanya udah dari dulu biasa jualan, makanya memutuskan untuk buka warung lagi, pindah ke sini,” papar Wasri.
Di saat yang sama, Wasri tetap mempertahankan jualan nasi uduk setiap pagi. Hari-hari mereka nyaris tanpa jeda. Pagi dimulai dengan menyiapkan dagangan nasi, sementara suami turu menjaga warung sampai siang, Siang sampai malam giliran Wasri berjaga di warung.
Menjelang larut sekitar pukul 21.00 WIB, anaknya yang sudah berkeluarga datang membantu menjaga toko. “Anak saya malam bantuin jaga daripada diam doang,” kata Wasri soal anaknya yang ikut menjaga warung pada malam hari.
Wasri punya 3 anak, yang mana dua di antaranya belum berkeluarga. Meski Wasri lahir di Jakarta, orang tuanya sendiri berasal dari Jogjakarta dan Jawa Timur.
Warung Sembako Go Digital
Wasri berjaga warung sembako hingga pukul 21.00 WIB
Perubahan cara orang berbelanja juga membuat Wasri ikut beradaptasi. Pelanggan kini sering melakukan pembayaran digital lewat QRIS BRI.
Perubahan kecil seperti itu kini jadi bagian penting dari upaya BRI membangun ekosistem UMKM yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari pedagang kecil.
Pimpinan Cabang BRI KC Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, mengatakan kebutuhan pelaku UMKM sekarang bukan cuma soal akses ke permodalan, tetapi juga kemudahan bertransaksi.
“Tidak hanya pembiayaan saja kebutuhan mereka, tapi juga transaksi untuk cari barang dagangan, lalu pembeli juga butuh transaksi yang mudah dan nyaman. Karena itu kami berkomitmen mempermudah pelaku UMKM lewat fasilitas seperti BRImo, QRIS BRI, dan layanan lainnya,” papar Yanuar.
Menurut Yanuar, KUR diharapkan bisa membantu pelaku usaha kecil berkembang secara bertahap, sesuai kemampuan masing-masing usaha.
“Tentu harapan kami KUR bisa membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas usahanya, baik untuk tambahan modal kerja maupun pengembangan usaha,” katanya.
Di lapangan, dampaknya memang tidak selalu terlihat dalam bentuk usaha yang langsung besar atau omzet yang melonjak drastis.
Dalam kehidupan Wasri, dampak itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana tapi penting: usaha tetap berjalan, keluarga tetap punya penghasilan, dan kehidupan rumah tangga tidak berhenti meski mereka sempat kehilangan tempat usaha utama.
“Kalau di Kebagusan ini kan kami hitungannya memang baru ya. Mudah-mudahan sih lancar ke depannya. Kemarin alhamdulillah sehari sudah sempat dapet Rp1 juta. Cuman enggak tahu kenapa belakangan, ya namanya usaha kan kurang lebih seperti ini, enggak selalu ramai terus setiap hari, tapi jalani saja,” kata Wasri.
Bertahan Jadi Strategi Bisnis Pelaku Usaha Mikro
Lokasi warung sembako dan nasi uduk Wasri semula adalah sebuah warteg
Cerita Wasri menunjukkan sisi lain dari kehidupan pelaku usaha kecil di kota besar: kadang yang terpenting bukan tumbuh cepat, melainkan tetap bertahan.
Di tengah biaya sewa yang mencapai Rp25 juta per tahun, persaingan warung yang makin ketat, dan daya beli masyarakat yang naik turun, usaha kecil seperti milik Wasri hidup dari kombinasi modal, relasi dengan pelanggan, dan ketahanan pemiliknya sendiri.
Wasri paham betul ritme itu. “Segala sesuatu pekerjaan itu kuncinya dinikmati, disyukuri. Seumpamanya lagi surut ya nikmati saja, ya namanya juga orang jualan. Jangan putus aja, gitu aja satu: terus berjuang,” pesan Wasri.
Kalimat sederhana itu menjelaskan kenapa program seperti KUR punya arti yang lebih besar dari sekadar angka-angka angsuran per bulan. Bagi banyak pelaku UMKM seperti Wasri, akses pembiayaan bukan cuma soal membesarkan usaha, tapi juga menjaga keluarga tetap punya pegangan di tengah kerasnya hidup di kota.
Dan selama lampu warungnya masih menyala sampai dini hari, Wasri selalu bersyukur. Ia juga berharap BRI tetap memberikan dukungan ke masyarakat ke depan.
Belakangan ia mempertimbangkan untuk kembali melakukan top up, namun terbentur pinjaman eksisting yang belum lunas. “Kalau orang BRI sih memang pelayanannya bagus-bagus. Membantu rakyat sih sepengalaman saya yang sudah beberapa kali ambil KUR di BRI,” ujar Wasri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9PPh Final Royalti 1,5 Persen bagi Penulis Diberlakukan, Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
- 10Kasus Penipuan Kripto Jalan di Tempat, Polda Metro Jaya Diminta Segera Beri Kepastian Hukum









