Sejarah Terbentuknya Israel, Mulai Dari Kerajaan Ottoman Hingga Kemerdekaan Yang Dinantikan

AKURAT.CO Israel merupakan sebuah negara yang terletak dalam kawasan Timur Tengah yang berbatasan dengan Mesir, Yordania, Syiria, dan Libanon.
Secara historis, Israel adalah bangsa kuno yang tinggal di wilayah daratan sekitar wilayah palestina kuno dan di sana Bangsa Israel mendirikan kerajaan Israel pada 1000 SM.
Negara ini memang memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, dimulai dari zaman Kekaisaran Ottoman hingga saat-saat kemerdekaan yang begitu dinantikan.
Selama berabad-abad, Israel telah melewati berbagai periode yang membentuk identitasnya saat ini, dan perjalanan sejarah ini telah membawa berbagai peristiwa penting yang memengaruhi wilayah ini dan dunia secara keseluruhan.
Baca Juga: Kisruh Perang Israel Dan Palestina, Begini Langkah Sigap Beberapa Negara Untuk Selamatkan Warganya
Kekaisaran Ottoman dan Palestina
Sejarah Israel bermula dari masa pemerintahan Ottoman atau lebih dikenal kekhilafahan Utsmaniyah yang menguasai wilayah Palestina selama berabad-abad.
Pada saat itu, wilayah ini merupakan rumah bagi beragam kelompok etnis dan agama, termasuk orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim. Selama pemerintahan Ottoman, wilayah ini dikenal sebagai Palestina.
Pada akhir abad ke-19, Ottoman melakukan Kerjasama dengan bangsa Eropa untuk meningkatkan perekonomian Ottoman. Kemudian Bangsa Yahudi memanfaatkan kesempatan tersebut dengan membeli tanah-tanah kosong di wilayah Palestina.
Untuk melancarkan aksi tersebut orang-orang Yahudi mendirikan sebuah organisasi yang bernama “Jewish National Fund”. Hingga akhirnya bangsa Yahudi di Eropa sangat leluasa dan melakukan eksodus dari Eropa ke Palestina dan membentuk pemukiman.
Saat permulaan Perang Dunia I, Kekaisaran Ottoman terlibat dalam konflik melawan Sekutu yang juga melibatkan pasukan Inggris. Pada tahun 1917, Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang mengungkapkan dukungan bagi pembentukan "rumah nasional bagi orang-orang Yahudi" di Palestina.
Setelah Perang Dunia I berakhir, kemenangan pihak sekutu yaitu di pihak Inggris dan juga LBB (Liga Bangsa-Bangsa) membentuk suatu mandat mengenai teritori khususnya untuk daerah yang pernah dikuasai Kekaisaran Jerman dan Turki Ottoman.
Baca Juga: PBB: Israel Ingin 1,1 Juta Warga Gaza Pindah Ke Selatan Dalam 24 Jam
Meskipun rencana ini disetujui oleh PBB, tetapi ditolak oleh penduduk Arab di Palestina sehingga semakin mulus dan mudahnya bagi orang-orang Yahudi untuk mendirikan Negara Israel di Palestina semenjak pasca Perang Dunia I.
Pada saat Perang Dunia II berlangsung, kedatangan imigran orang-orang Yahudi di Eropa ke Palestina semakin banyak dan tajam. Hal ini menambah kekhawatiran dan kerumitan permasalahan antara orang Yahudi dan Penduduk Arab Palestina.
Kemudian pada 1947 atas usulan UNSCOP bahwasanya menyarankan wilayah tersebut rencananya dibagi menjadi dua wilayah yaitu, wilayah satu untuk penduduk Arab Palestina dan wilayah dua untuk penduduk Yahudi. Namun penduduk Arab Palestina dan negara-negara Arab lainya tidak ada yang setuju dengan usulan tersebut.
Proklamasi Negara Israel 1948
Pada 14 Mei 1948, pemimpin komunitas Yahudi di Palestina David Ben-Gurion, mendeklarasikan Negara Israel dengan batas wilayah teritorinya dengan David Ben Gurion sebagai pemimpin orang-orang Yahudi sekaligus pemimpin pertama kemerdekaan Negara Israel.
Kemudian setelah selang satu hari setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaanya, tepatnya tanggal 15 Mei 1948 Amerika juga mengakui kedaulatan terbentuknya Negara Israel secara de facto dan disusul Uni Soviet mengakui kedaulatan Negara Israel secara de jure, dan bertepatan hari yang sama negara-negara Arab mulai menginvasi Negara Israel yang berdiri di tanah Palestina sehingga, hal ini membuka babak baru sejarah peperangan di Timur tengah (Asia Barat).
Hal tersebut memicu konflik yang masalah berkepanjangan antara Israel dan Palestina dan menimbulkan perang antara Palestina dan Israel yang sudah berlangsung selama beberapa dekade.
Perang Arab-Israel (1948-1949)
Perang Arab-Israel pertama ini terjadi antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Perang ini mengakibatkan pembagian Palestina menjadi dua wilayah dengan Israel yang menduduki sebagian besar wilayah yang sebelumnya diusulkan untuk negara Palestina.
Di Israel, perang ini dikenang sebagai Perang Kemerdekaan. Di dunia Arab, peristiwa ini dikenal sebagai Nakba (“Bencana”) karena banyaknya pengungsi dan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat perang.
Baca Juga: Beda Sikap Dengan Pemerintahnya, Sepakbola Inggris Pilih Ban Hitam Ketimbang Simbol Israel
Perang Enam Hari 1967
Pada tahun 1967, Perang Enam Hari meletus antara Israel dan sejumlah negara Arab, termasuk Mesir, Yordania, dan Suriah. Israel memenangkan perang ini dan merebut wilayah baru, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Yordan, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan. Perang ini mengubah lanskap politik dan militer di Timur Tengah dan memperumit konflik Israel-Palestina.
Perang Yom Kippur
Perang Yom Kippur atau Perang Oktober adalah konflik militer yang terjadi pada tahun 1973 antara Israel dan koalisi yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.
Perang ini dimulai pada Hari Yom Kippur, hari suci dalam agama Yahudi, dan merupakan salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah Israel. Meskipun dimulai dengan serangan mengejutkan oleh koalisi Arab, Israel berhasil membalas dan akhirnya mencapai gencatan senjata.
Perang Lebanon (1982)
Perang Lebanon 1982 adalah konflik militer yang melibatkan Israel dan kelompok militan Palestina di Lebanon Selatan.
Israel memasuki Lebanon sebagai tanggapan terhadap serangkaian serangan Palestina dan melibatkan diri dalam perang saudara Lebanon.
Konflik ini berlangsung selama beberapa tahun dan berakhir dengan perjanjian gencatan senjata dan penarikan sebagian besar pasukan Israel dari Lebanon.
Perang Lebanon Kedua (2006)
Perang Lebanon Kedua terjadi pada tahun 2006 antara Israel dan milisi Hizbullah di Lebanon selatan. Konflik ini dimulai setelah penyanderaan dua tentara Israel oleh Hizbullah dan serang-balas Israel yang mengakibatkan konflik berskala besar.
Perang ini berlangsung selama beberapa minggu dan berakhir dengan gencatan senjata. Meskipun tidak ada pemenang yang jelas, perang ini memiliki dampak signifikan terhadap wilayah tersebut.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










