Akurat
Pemprov Sumsel

Iran Siap Kembali Berunding Soal Nuklir dengan Negara Barat, Sinyal Positif untuk Kesepakatan Baru?

Arief Rachman | 4 Januari 2025, 15:15 WIB
Iran Siap Kembali Berunding Soal Nuklir dengan Negara Barat, Sinyal Positif untuk Kesepakatan Baru?

AKURAT.CO Iran menyatakan kesiapannya untuk memulai kembali perundingan dengan negara-negara Barat mengenai program nuklirnya, asalkan pembicaraan tersebut bertujuan mencapai kesepakatan baru yang konstruktif.

Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menjelang putaran konsultasi berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 13 Januari 2025.

“Kami siap memulai negosiasi tanpa penundaan untuk membahas program nuklir kami. Namun, pembicaraan tersebut harus berorientasi pada hasil konkret dan kesepakatan yang saling menguntungkan,” ujar Araghchi dalam wawancaranya dengan CCTV Tiongkok, seperti dikutip kantor berita IRNA, yang dikutip dari Antara, Sabtu (4/1/2025).

Setelah jeda selama dua tahun, negosiasi antara Iran dan Uni Eropa kembali berlangsung di Jenewa pada 29 November 2024.

Baca Juga: Perayaan Malam Tahun Baru di Candi Prambanan Jadi TOP New Year's Eve Dunia

Delegasi Iran dalam pembicaraan ini dipimpin oleh Majid Takht Ravanchi, Asisten Menteri Luar Negeri Iran untuk urusan politik.

Langkah ini menunjukkan keseriusan Iran untuk memperbaiki hubungan internasional terkait program nuklirnya, meski masih diwarnai ketegangan dengan Barat.

Namun, situasi sempat memanas setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengadopsi resolusi yang diusulkan oleh Inggris, Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat, yang oleh Teheran dianggap sebagai tindakan anti-Iran.

Resolusi ini diambil tanpa mempertimbangkan hasil kunjungan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi ke Iran pada pertengahan November.

Grossi sempat menginspeksi fasilitas nuklir di Fordo dan Natanz sebagai bagian dari implementasi Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA).

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pertemuannya dengan Rafael Grossi menegaskan kembali posisi Iran.

Baca Juga: DPD RI Usul Calon Presiden Boleh Maju Secara Independen, Tidak Lewat Parpol

“Kami tidak mengembangkan dan tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Program nuklir Iran sepenuhnya untuk tujuan damai,” tegas Pezeshkian.

JCPOA, kesepakatan nuklir yang ditandatangani pada 2015, melibatkan Iran, AS, Prancis, Jerman, Inggris, China, Rusia, dan Uni Eropa.

Perjanjian tersebut memberikan keringanan sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.

Namun, dinamika berubah drastis pada 2018 ketika Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump menarik diri dari JCPOA dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Sebagai respons, Iran secara bertahap mengurangi kepatuhannya terhadap perjanjian tersebut, termasuk mempercepat penelitian nuklir dan pengayaan uranium.

Dengan negosiasi yang akan kembali digelar pada Januari, banyak pihak berharap Iran dan negara-negara Barat dapat menemukan jalan tengah untuk memulihkan kepercayaan dan stabilitas global.

Baca Juga: Semarak Hari Amal Bhakti ke-79, Kemenag DKI Jakarta Gelar Funwalk dan Kegiatan Sosial

Namun, tantangan besar tetap ada, terutama mengingat ketegangan geopolitik yang telah berlangsung lama.

Semua pihak kini dituntut untuk mengedepankan dialog dan kerja sama demi menghindari eskalasi lebih lanjut.

“Kami percaya bahwa negosiasi yang konstruktif adalah satu-satunya jalan menuju solusi yang adil dan damai,” pungkas Araghchi.  

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.