Arab Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan Nuklir, Tantang Dominasi Israel di Timur Tengah

AKURAT.CO Arab Saudi dan Pakistan, dua negara dengan kekuatan nuklir, resmi menandatangani pakta pertahanan bersama yang menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai agresi terhadap keduanya. Kesepakatan penting ini diumumkan pada Rabu dan diyakini menjadi pesan strategis bagi dinamika keamanan kawasan, terutama setelah serangan Israel ke Qatar pekan lalu.
Perjanjian Pertahanan Strategis
Penandatanganan dilakukan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Pakistan dan Kantor Berita Saudi, perjanjian tersebut menegaskan komitmen memperkuat kerja sama militer dan pencegahan bersama terhadap potensi agresi.
“Setiap serangan terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya,” bunyi keterangan bersama tersebut. Kesepakatan ini menjadi langkah pertahanan paling tegas yang pernah diambil negara Teluk sejak eskalasi konflik di Timur Tengah.
Latar Belakang Hubungan Militer
Arab Saudi dan Pakistan memiliki hubungan ekonomi, agama, dan pertahanan yang erat sejak lama. Pasukan Pakistan pertama kali dikirim ke Saudi pada akhir 1960-an untuk menjaga keamanan Mekah dan Madinah, terutama saat ketegangan regional meningkat akibat perang di Yaman. Hubungan pertahanan keduanya semakin solid pasca-Revolusi Islam Iran 1979, ketika kekhawatiran terhadap konfrontasi dengan Teheran meningkat.
Pakistan sendiri mengembangkan program senjata nuklir sebagai respons terhadap India. Laporan dan dokumen diplomatik, termasuk kabel AS yang dipublikasikan WikiLeaks pada 2007, menyebut Arab Saudi memberikan dukungan finansial besar terhadap program nuklir Islamabad. Sejumlah analis menilai kerja sama ini memungkinkan Riyadh mendapatkan “payung nuklir” Pakistan, terutama di tengah kekhawatiran atas program atom Iran.
Implikasi Regional
Penandatanganan pakta ini dipandang sebagai sinyal bagi Israel, yang selama ini dicurigai sebagai satu-satunya negara dengan senjata nuklir di Timur Tengah. Sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, ketegangan kawasan meluas hingga Iran, Lebanon, Palestina, Suriah, Yaman, dan kini Qatar.
Meski Israel belum memberikan tanggapan resmi, pakta pertahanan Riyadh-Islamabad dinilai para pengamat sebagai babak baru keseimbangan kekuatan di kawasan. Kesepakatan ini juga menegaskan tekad kedua negara untuk memperkuat stabilitas regional dan perlindungan bersama di tengah eskalasi konflik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








