Analis Sebut Mojtaba Khamenei Adalah Simbol Konsolidasi Kekuasaan Kelompok Garis Keras

AKURAT.CO Figur Mojtaba Khamenei kembali menjadi sorotan setelah laporan dari majalah Iran International, Rabu (4/3/2026), bahwa ia dipilih oleh Majelis Pakar sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Keputusan ini disebut sebagai salah satu langkah paling menentukan dalam sejarah politik Iran modern karena menandai perpindahan kekuasaan di dalam satu keluarga untuk pertama kalinya sejak revolusi 1979.
Beberapa analis politik Timur Tengah menilai pengangkatan Mojtaba bukan sekadar pergantian pemimpin, tetapi simbol dari konsolidasi kekuasaan oleh kelompok garis keras dalam rezim Iran.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai sosok berpengaruh di balik layar, meskipun jarang tampil di hadapan publik dan tidak pernah memegang jabatan formal dalam pemerintahan.
Kekuatan utama Mojtaba terletak pada hubungannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan jaringan elit konservatif yang mengendalikan banyak aspek keamanan serta politik rezim. Ia lama beroperasi dari dalam Kantor Pemimpin Tertinggi, bertindak sebagai penjaga gerbang dan perantara kekuasaan di sekitar figur ayahnya.
Dr. Eric Mandel, direktur sebuah lembaga kajian politik Timur Tengah, mengatakan kepada Iran International bahwa Mojtaba “telah lama beroperasi di belakang layar di Teheran, membangun hubungan erat dengan IRGC dan mengonsolidasikan pengaruh dalam struktur kekuasaan rezim.”
Menurut Mandel, kedekatannya dengan jaringan militer dan keamanan itu menjadikannya salah satu arsitek utama kekuasaan konservatif di Iran.
Analis lain, Arash Azizi, mengatakan bahwa banyak pihak melihat Mojtaba dengan kecurigaan karena peran historisnya dalam menciptakan dan mempertahankan stabilitas rezim melalui hubungan dengan tokoh-tokoh kuat garis keras.
Ia juga dikaitkan dengan tokoh-tokoh yang sejak lama berambisi memperkuat kontrol kelompok konservatif di lembaga pemerintahan dan keamanan.
Hubungan Mojtaba dengan IRGC memiliki akar sejarah panjang, termasuk keterlibatannya dalam struktur militer saat Perang Iran-Irak di tahun 1980-an dan koneksinya dengan prajurit serta komandan yang kini menduduki posisi tinggi dalam jajaran keamanan Iran.
Baca Juga: Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain karena Dianggap Bantu Militer AS
Ikatan ini membantu dia membangun jaringan dukungan yang luas dalam tubuh kekuatan militer dan politik — sesuatu yang kini dianggap penting oleh kelompok garis keras untuk mempertahankan stabilitas di tengah krisis nasional.
Meski demikian, pengangkatannya juga memicu kontroversi karena Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tertinggi secara keagamaan, sementara konstitusi Iran mensyaratkan Pemimpin Tertinggi memiliki kredensial keagamaan yang kuat.
Terlepas dari itu, analis berpendapat bahwa jaringan elite yang kuat di sekitarnya telah memungkinkan gelombang dukungan di kalangan kekuatan konservatif yang kini sangat dominan dalam sistem politik Iran.
Menurut para pengamat, pemilihan Mojtaba dipandang sebagai langkah yang memperkuat dominasi kelompok garis keras atas struktur pemerintahan dan keamanan, yang dapat berdampak pada arah kebijakan domestik maupun luar negeri Iran di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










