Trump Pertimbangkan untuk Mengakhiri Operasi Militer AS terhadap Iran

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang mempertimbangkan untuk "mengakhiri" operasi militer terhadap Iran. Bersamaan itu, Amerika Serikat untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap pengiriman minyak Iran untuk mengatasi krisis pasokan global.
Pernyataannya di media sosial Truth Social itu muncul ketika para pejabat AS mengatakan mereka akan meningkatkan serangan udara terhadap drone dan kapal angkatan laut Iran dalam upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump mengatakan Amerika Serikat sudah hampir mencapai tujuannya saat mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer besar-besaran di Timur Tengah.
Baca Juga: NATO Tarik Seluruh Pasukan dari Misi di Irak Imbas Perang Iran
Unggahannya itu sejauh ini merupakan indikasi terkuat hingga saat ini bahwa ia mungkin siap untuk segera mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari.
Selama ini Trump telah beberapa kali mengatakan bahwa perang hampir berakhir, namun serangan AS justru meningkat ke Iran.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam unggahan di X tak lama setelah pesan Trump itu, mengatakan bahwa Presiden dan Pentagon memperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar 4-6 minggu untuk mencapai misinya di Iran.
"Hari demi hari, Rezim Iran dilumpuhkan, dan kemampuan mereka untuk mengancam Amerika Serikat dan sekutu kita semakin melemah secara signifikan," tulisnya.
Baca Juga: Netanyahu Beda Pendapat dengan Trump Soal Serang Fasilitas Gas Iran
Sebelumnya, di halaman Gedung Putih, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya tidak mempertimbangkan opsi gencatan senjata.
"Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata. Anda tahu, Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar menghancurkan pihak lain," ucap Trump.
Sementara itu, Iran terus menyerang negara-negara tetangganya, yang mengguncang pasokan energi dunia dan ekonomi global. Dikutip dari New York Times, setidaknya 37 kilang minyak, ladang gas alam, dan lokasi energi lainnya di sembilan negara telah rusak akibat serangan drone dan rudal sejak Amerika Serikat dan Israel mulai membombardir Iran.
Para pejabat AS dan Timur Tengah menyalahkan Iran atas serangan-serangan tersebut, sementara Iran sendiri telah mengakui sebagian dari serangan itu sebagai serangan balasan terhadap negara-negara yang selama ini menjadi sekutu AS.
Harga minyak pun kembali naik pada hari Jumat kemarin. Patokan global minyak mentah ditutup sekitar 112 dolar AS per barel, naik lebih dari 50 persen sejak perang dimulai.
Sumber: AFP, NYT
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










