Akurat Logo

Polandia Bongkar Strategi Baru Rusia di Eropa, Pakai Jaringan Kriminal untuk Operasi Sabotase

Fitra Iskandar | 7 Mei 2026, 16:46 WIB
Polandia Bongkar Strategi Baru Rusia di Eropa, Pakai Jaringan Kriminal untuk Operasi Sabotase
Badan keamanan dalam negeri Polandia mengungkap perubahan besar dalam strategi operasi rahasia Rusia di Eropa. Foto ilustrasi: Pixabay

AKURAT.CO Badan keamanan dalam negeri Polandia mengungkap perubahan besar dalam strategi operasi rahasia Rusia di Eropa. Moskow kini disebut tidak lagi mengandalkan perekrutan individu amatir melalui internet, melainkan mulai memakai jaringan kriminal profesional untuk menjalankan aksi sabotase dan spionase lintas negara.

Laporan mengejutkan itu dirilis Badan Keamanan Dalam Negeri Polandia atau ABW pada Rabu (7/5/2026). Dalam dokumen tersebut, Rusia dituding meningkatkan operasi “perang hibrida” terhadap negara-negara Barat sejak invasi ke Ukraina.

Menurut ABW, aksi yang dikaitkan dengan Rusia mencakup sabotase, pembakaran, vandalisme, operasi pengaruh, hingga aktivitas mata-mata di berbagai wilayah Eropa.

“Tujuan jangka panjang Federasi Rusia tetap sama, yakni menghancurkan struktur Euro-Atlantik, mengisolasi negara-negara tertentu, serta menciptakan destabilisasi sosial, politik, dan ekonomi di dalam negeri mereka,” tulis laporan ABW.

Lembaga keamanan Polandia itu menyebut aktivitas intelijen Rusia kini semakin menyerupai operasi pasukan khusus, termasuk pengintaian dan sabotase berisiko tinggi.

Dalam dua tahun terakhir, Polandia mengaku melakukan jumlah penyelidikan spionase yang sama banyaknya dengan total investigasi selama tiga dekade sebelumnya. Sebanyak 62 orang dilaporkan telah ditangkap terkait aktivitas mata-mata.

ABW mengungkapkan bahwa sepanjang 2024 hingga 2025 terdapat 69 investigasi spionase baru, jumlah yang setara dengan seluruh kasus dari 1991 hingga 2023.

Polandia menilai operasi Rusia merupakan bagian dari “perang tak diumumkan” terhadap dunia Barat. Selain Rusia, laporan itu juga menyinggung keterlibatan dinas rahasia Belarus yang disebut bekerja sangat dekat dengan Moskow. China juga disebut dalam beberapa aktivitas intelijen tertentu.

Baca Juga: Vladimir Putin Copot Kepala Diplomasi Budaya, Alat "Soft Power" Andalan Rusia Berubah Strategi?

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah perubahan pola operasi Rusia. Jika sebelumnya Moskow banyak memakai “agen sekali pakai” yang direkrut mendadak melalui internet, kini mereka beralih membentuk sel sabotase yang lebih profesional.

ABW menyebut Rusia mulai mengandalkan struktur tertutup jaringan kriminal terorganisasi untuk menjalankan operasi-operasi sensitif di Eropa.

“Rusia lebih memilih individu yang memiliki pengalaman di bidang penegakan hukum, seperti mantan tentara, polisi, atau tentara bayaran dari Grup Wagner,” ungkap laporan tersebut.

Selain itu, badan intelijen Polandia juga menuduh Rusia meningkatkan pelatihan agen di wilayahnya sendiri guna mempersiapkan operasi yang mengarah pada aksi terorisme dan sabotase.

Menurut ABW, operasi pengawasan massal yang dilakukan Rusia di Polandia bertujuan menciptakan fondasi bagi aksi pengalihan dan sabotase yang lebih besar. Bahkan, intelijen Rusia disebut mulai menerima kemungkinan jatuhnya korban jiwa dalam operasi mereka.

Ketegangan meningkat setelah Polandia pada November 2025 mengalami apa yang disebut Perdana Menteri Donald Tusk sebagai “aksi sabotase yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Saat itu, ledakan dan gangguan teknis terjadi di jalur kereta yang digunakan untuk pengiriman bantuan ke Ukraina. Dua kereta terdampak, termasuk kereta penumpang, meski tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Sejak perang Ukraina pecah, negara-negara Eropa memang berulang kali menuduh Rusia menjalankan operasi rahasia untuk mengganggu stabilitas kawasan. Investigasi media dan aparat Barat bahkan mencatat lebih dari 150 insiden sabotase dan operasi tersembunyi yang diduga terkait dengan Moskow.

Sumber: Washingtonpost

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.