Akurat Logo

Berbagai Situs Web Pemerintah Filipina Dihantam Gelombang Peretasan

Fitra Iskandar | 17 Juni 2026, 08:36 WIB
Berbagai Situs Web Pemerintah Filipina Dihantam Gelombang Peretasan
Berbagai Situs Web Pemerintah Filipina Dihantam Gelombang Peretasan. Foto: Asiatoday

AKURAT.CO Gelombang serangan siber terhadap lembaga pemerintah Filipina semakin meluas. Setelah situs Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diretas dalam kurun waktu kurang dari sepekan, kini giliran situs resmi Biro Investigasi Nasional Filipina atau National Bureau of Investigation (NBI) menjadi sasaran peretasan.

Insiden terbaru ini memicu kekhawatiran serius mengenai keamanan siber lembaga negara, terutama karena NBI merupakan salah satu institusi penegak hukum utama di Filipina.

Menurut laporan media lokal yang dikutip pada 16 Juni, peretas mengubah tampilan halaman utama situs NBI dengan berbagai slogan yang berisi kritik terhadap pemerintah dan dugaan korupsi. Meski serangan hanya berupa defacement atau pengubahan tampilan situs dan tidak mengganggu sistem utama, fakta bahwa situs lembaga investigasi nasional berhasil ditembus menjadi sorotan publik.

Tiga Lembaga Negara Diretas dalam Sepekan

Serangan terhadap NBI terjadi setelah situs Senat Filipina diretas pada 10 Juni dan situs DPR Filipina menjadi korban serangan serupa pada 13 Juni.

Dalam ketiga kasus tersebut, para peretas meninggalkan pesan yang menyoroti isu transparansi dan korupsi pemerintahan.

Peretas yang mengaku bernama #HappyGoLuckyPh bertanggung jawab atas peretasan situs NBI. Mereka menampilkan kutipan yang diadaptasi dari film V for Vendetta:

"Rakyat tidak seharusnya takut kepada pemerintah. Pemerintahlah yang seharusnya takut kepada rakyat."

Sementara itu, sebanyak 22 kelompok peretas mengklaim terlibat dalam serangan terhadap situs DPR Filipina. Mereka meninggalkan pesan yang berbunyi:

"Kebenaran di balik sirkus pemerintahan tidak bisa disembunyikan."

Adapun situs Senat Filipina diretas oleh kelompok yang menamakan diri Nullsec PH. Mereka memasang pesan bertuliskan:

"Transparansi bukanlah sebuah pilihan."

Kelompok tersebut juga menyertakan tautan menuju komunitas bernama SentinelX yang selama ini dikenal mengklaim mengungkap berbagai celah keamanan siber.

Selain itu, muncul pula slogan terkenal:

"We do not forgive, we do not forget."

Kalimat tersebut identik dengan kelompok peretas internasional Anonymous dan sering digunakan sebagai penutup dalam berbagai aksi siber mereka.

NBI Klaim Sudah Kantongi Identitas Pelaku

Direktur NBI, Melvin Matibag, menegaskan pihaknya telah memulai operasi pelacakan terhadap para pelaku.

Dalam konferensi pers, Matibag menyatakan penyidik telah berhasil mengidentifikasi pihak yang diduga bertanggung jawab atas peretasan terhadap tiga situs pemerintah tersebut.

"Kami akan memburu mereka sampai tuntas dan meminta pertanggungjawaban mereka," tegas Matibag.

Menurutnya, serangan dilakukan oleh beberapa individu yang tergabung dalam satu organisasi yang sama. Namun, identitas mereka masih dirahasiakan karena proses investigasi masih berlangsung.

Ia juga memastikan tidak ada data sensitif yang bocor selama insiden peretasan tersebut.

Polisi Filipina Tingkatkan Pengamanan Siber

Menanggapi serangkaian serangan siber tersebut, Kepolisian Nasional Filipina meminta seluruh instansi pemerintah memperkuat sistem keamanan digital mereka.

Unit penanganan kejahatan siber kepolisian juga telah diterjunkan untuk menelusuri jalur serangan, metode yang digunakan para pelaku, serta mengukur dampak yang ditimbulkan dari peretasan tersebut.

Bukan Kali Pertama

Serangan terhadap situs pemerintah bukan hal baru di Filipina. Pada September tahun lalu, sedikitnya 19 situs lembaga pemerintah diretas di tengah gelombang aksi protes anti-korupsi bertajuk "1-Trillion Peso March".

Dalam kasus tersebut, otoritas Filipina menunjuk kelompok AnonymousPH sebagai dalang utama. Kelompok lokal itu diketahui menggunakan simbol dan slogan yang terinspirasi dari jaringan peretas internasional Anonymous.

Rangkaian serangan terbaru ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai ketahanan infrastruktur digital pemerintah Filipina di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber dan aktivitas kelompok peretas yang semakin terorganisasi.

Sumber: Asiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.