Akurat Logo

Macron Siap Kunjungi Suriah, Jadi Pemimpin Uni Eropa Pertama yang Datang ke Damaskus Usai Assad Lengser

Fitra Iskandar | 6 Juli 2026, 13:04 WIB
Macron Siap Kunjungi Suriah, Jadi Pemimpin Uni Eropa Pertama yang Datang ke Damaskus Usai Assad Lengser
Macron Siap Kunjungi Suriah. Foto: ID

AKURAT.CO Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan melakukan kunjungan bersejarah ke Damaskus, Suriah, dalam waktu dekat. Jika terealisasi, Macron akan menjadi pemimpin pertama dari negara anggota Uni Eropa yang mengunjungi Suriah sejak pemerintahan Bashar al-Assad tumbang pada 2024.

Informasi tersebut diumumkan Direktorat Media Kepresidenan Suriah pada Minggu (6/7/2026). Dalam kunjungan itu, Macron disebut akan didampingi delegasi yang terdiri dari para pemimpin perusahaan dan investor Prancis. Namun, pihak Suriah belum mengungkapkan tanggal pasti lawatan tersebut.

Hingga kini, Istana Élysée belum memberikan komentar resmi terkait rencana kunjungan itu.

Kunjungan Bersejarah Setelah 17 Tahun

Apabila terlaksana, kunjungan Macron akan menjadi yang pertama dilakukan Presiden Prancis ke Suriah sejak Nicolas Sarkozy mengunjungi Damaskus pada 2009.

Dua tahun setelah kunjungan Sarkozy, Suriah dilanda gelombang demonstrasi pro-demokrasi yang kemudian berubah menjadi perang saudara berkepanjangan. Konflik yang berlangsung lebih dari 13 tahun itu menewaskan lebih dari 500.000 orang dan memaksa jutaan warga mengungsi.

Kini, setelah Bashar al-Assad lengser dari kekuasaan pada 2024, Suriah mulai membuka kembali hubungan diplomatik dengan negara-negara Barat.

Macron Ingin Perkuat Peran Prancis di Suriah

Rencana kunjungan ini juga menjadi kelanjutan dari langkah Macron yang sebelumnya mengundang Presiden transisi Suriah Ahmed al-Sharaa ke Paris pada tahun lalu.

Keputusan tersebut sempat menuai kontroversi karena Al-Sharaa merupakan mantan pemimpin kelompok pemberontak Islamis yang berperan dalam menggulingkan rezim Assad.

Pengamat Timur Tengah Arthur Quesnay menilai Macron kini ingin membuktikan bahwa kebijakan Prancis mendukung pemerintahan baru Suriah merupakan langkah yang tepat.

"Macron telah memberikan Al-Sharaa panggung di tingkat internasional. Kini ia perlu menunjukkan bahwa keputusan itu memang layak diambil," ujar Quesnay.

Bidik Peluang Rekonstruksi Suriah

Selain aspek diplomatik, kunjungan Macron diyakini juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi.

Mantan diplomat Suriah Bassam Barabandi menilai Prancis ingin mengambil peran dalam proyek rekonstruksi Suriah yang diperkirakan bernilai miliaran dolar setelah bertahun-tahun dihancurkan perang.

Menurutnya, Paris juga ingin kembali memperkuat pengaruh geopolitiknya di Suriah, terutama di tengah meningkatnya keterlibatan Amerika Serikat dan negara-negara Teluk.

"Prancis ingin menunjukkan kepada Amerika bahwa mereka juga memiliki kepentingan dan peran di pasar Suriah," kata Barabandi.

Bahas Keamanan dan Perlindungan Minoritas

Dalam pertemuan nanti, Macron diperkirakan akan membahas sejumlah isu strategis bersama pemerintah Suriah, termasuk kerja sama pemberantasan kelompok ISIS, perlindungan kelompok minoritas, serta stabilitas keamanan pascaperang.

Prancis sebelumnya mendesak pemerintah transisi Suriah memenuhi komitmennya melindungi komunitas Alawi dan Druze, setelah terjadi kekerasan sektarian pada tahun lalu.

Paris juga masih menaruh perhatian terhadap keberadaan sejumlah warga negara Prancis yang diduga bergabung dengan kelompok jihad dan masih berada di wilayah Suriah.

Suriah Kian Kembali ke Panggung Internasional

Kunjungan Macron akan menjadi tonggak penting dalam proses normalisasi hubungan Suriah dengan dunia internasional setelah jatuhnya rezim Assad.

Sebelumnya, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menjadi kepala negara pertama yang mengunjungi Damaskus pasca-pergantian pemerintahan. Tahun ini, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga telah melakukan kunjungan ke Suriah.

Rangkaian kunjungan tersebut memperlihatkan semakin terbukanya jalan bagi Suriah untuk kembali menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan komunitas internasional setelah bertahun-tahun terisolasi.

Sumber: RFI

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.