Akurat
Pemprov Sumsel

Benarkah Nabi Muhammad Pengangguran saat Menikahi Siti Khadijah? Segini Harta Kekayaan Nabi Muhammad saat Akan Menikahinya

Fajar Rizky Ramadhan | 29 Oktober 2024, 11:00 WIB
Benarkah Nabi Muhammad Pengangguran saat Menikahi Siti Khadijah? Segini Harta Kekayaan Nabi Muhammad saat Akan Menikahinya

AKURAT.CO Pertanyaan mengenai status ekonomi Nabi Muhammad SAW ketika menikahi Siti Khadijah menimbulkan banyak diskusi.

Ada anggapan bahwa Nabi tidak memiliki pekerjaan tetap saat itu, namun faktanya, kehidupan dan ekonomi beliau pada masa sebelum diangkat menjadi Rasul tidak sesederhana itu.

Penting untuk menelaah sejarah dengan seksama, memanfaatkan sumber-sumber otoritatif seperti hadis, buku sejarah Islam, serta pendapat para ulama untuk memahami kondisi ekonomi Nabi pada masa itu.

Nabi Muhammad sebagai Pedagang Berintegritas

Dalam berbagai riwayat, Muhammad SAW dikenal sebagai seorang pedagang sejak usia muda. Beliau bekerja membantu pamannya, Abu Thalib, dalam berbagai perjalanan dagang ke Syam.

Ketika menginjak usia dewasa, Muhammad SAW dikenal di kalangan masyarakat Makkah sebagai seorang yang jujur dan terpercaya, sehingga diberi gelar "al-Amin" (yang dapat dipercaya).

Nama besar ini menarik perhatian Siti Khadijah, seorang pengusaha kaya dari Makkah, yang kemudian memercayakan sebagian besar usahanya kepada Muhammad SAW untuk dikelola.

Khadijah memberikan modal kepada Muhammad untuk menjalankan usaha perdagangan ke Syam.

Baca Juga: Nabi Muhammad Pengangguran Saat Menikahi Siti Khadijah?

Dalam salah satu perjalanan itu, Muhammad menunjukkan kemampuan bisnis yang luar biasa dengan membawa keuntungan besar bagi Khadijah.

Dari sinilah Khadijah semakin tertarik dan melihat bahwa Muhammad bukan hanya pekerja yang amanah, tetapi juga pandai dalam mengelola perdagangan.

Apakah Nabi Muhammad Pengangguran?

Narasi bahwa Nabi Muhammad SAW “pengangguran” ketika menikah dengan Khadijah tidak tepat. Meskipun beliau bukan orang kaya raya, Muhammad bekerja sebagai pedagang yang sukses dan dihormati.

Ibn Katsir dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah menjelaskan bahwa Muhammad sudah menjadi mitra bisnis Khadijah sebelum menikah, dengan bukti kesuksesan beberapa ekspedisi dagang yang dikelolanya.

Ulama sepakat bahwa beliau bukan orang yang hidup dalam kemiskinan atau bergantung pada orang lain, melainkan seseorang yang mandiri dan bertanggung jawab dalam mencari nafkah.

Menurut Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab ar-Rahīq al-Makhtūm, Muhammad SAW menjalani kehidupan yang sederhana namun berkecukupan.

Penghasilannya dari perdagangan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, status sosial Muhammad SAW sebelum menikah sudah terbilang baik dan terhormat.

Mahar dan Kesiapan Ekonomi saat Pernikahan

Ketika Muhammad SAW meminang Khadijah, beliau memberikan mahar 20 ekor unta muda, sebuah jumlah yang cukup besar pada masa itu. Mahar ini menunjukkan bahwa Muhammad tidak hanya siap secara mental, tetapi juga secara ekonomi.

Riwayat dari Ibn Sa‘d dalam kitab at-Tabaqāt al-Kubrā menyebutkan bahwa Muhammad SAW tidak berutang atau meminta bantuan orang lain untuk membayar mahar tersebut. Ini mengindikasikan bahwa beliau memiliki penghasilan pribadi dan kemampuan finansial untuk menikah.

Di sisi lain, Khadijah memang berasal dari kalangan elite Makkah dengan kekayaan melimpah. Namun, pernikahan mereka tidak didasarkan pada kesenjangan ekonomi.

Khadijah memilih Muhammad SAW bukan karena harta, melainkan karena kepribadian beliau yang mulia, amanah, dan cerdas.

Ulama seperti Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menekankan bahwa keberkahan rumah tangga Nabi dan Khadijah terletak pada keselarasan spiritual dan akhlak, bukan sekadar pada faktor ekonomi.

Pada kesimpulannya, Nabi Muhammad SAW bukanlah seorang pengangguran ketika menikahi Siti Khadijah. Beliau bekerja sebagai pedagang sukses dan dikenal karena integritasnya.

Kendati beliau tidak berasal dari kalangan orang kaya, kondisi ekonomi Muhammad SAW saat menikah cukup stabil, dibuktikan dengan kemampuan beliau memberikan mahar yang layak.

Dengan demikian, pernikahan antara Muhammad SAW dan Khadijah merupakan teladan bahwa pernikahan yang diberkahi tidak melulu didasarkan pada status ekonomi, melainkan pada kualitas moral dan komitmen bersama dalam menjalani kehidupan.

Pernikahan ini menjadi bukti bagaimana Nabi Muhammad SAW, dengan harta yang cukup namun bukan melimpah, tetap mampu menjalin kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh berkah bersama Khadijah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.