Reli Saham Teknologi AI di China Kian Menguat, Investor Mulai Melirik Kembali Pasar Negeri Tirai Bambu

AKURAT.CO Reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) kini beralih ke China. Analis menilai sektor ini berpotensi tumbuh pesat berkat dorongan Beijing memperkuat ekonomi dan bersaing di kancah AI global.
Menurut Jay Pelosky, pendiri TPW Advisory, China memiliki posisi yang lebih kuat dari yang diperkirakan banyak pihak. "Cina memiliki tangan yang jauh lebih baik daripada yang diberikan orang-orang," ujarnya, dikutip dari Axios, Minggu (12/10/2025).
Salah satunya, Beijing membatasi pembelian chip Nvidia sebagai langkah memperkuat teknologi AI dalam negeri. Marta Norton, Kepala Strategi Investasi di Empower, menilai kebijakan ini menegaskan komitmen China membangun ekosistem AI nasional.
Selain itu, saat AI makin terhubung dengan dunia fisik, China dinilai lebih unggul dalam mengintegrasikannya dengan energi terbarukan, robotika dan manufaktur canggih. Pemerintah juga berupaya memulihkan ekonomi dari deflasi untuk mendorong percepatan pertumbuhan.
Dari sisi investasi, kepemilikan asing pada saham teknologi China masih rendah, membuka peluang besar bagi investor baru. Valuasinya juga menarik, seperti KraneShares CSI China Internet ETF (KWEB) yang masih di bawah USD 42 dari puncaknya USD 102.
"Anda memiliki banyak perusahaan akibat wajar di teknologi China dibandingkan dengan teknologi AS, tetapi semuanya jauh lebih murah," tambah Norton.
Namun, pembatasan ekspor tanah jarang oleh China menarik perhatian pasar. Kebijakan ini dilakukan menjelang pertemuan Presiden Xi Jinping dan mantan Presiden AS Donald Trump untuk memperkuat posisi Beijing dalam negosiasi perdagangan.
Meski demikian, para ahli memperingatkan adanya risiko jika pembicaraan antara AS dan China memanas. Jay Pelosky menambahkan, akan ada upaya pemulihan hubungan AS-China karena keduanya saling membutuhkan.
Pelosky merujuk pada ketergantungan AS terhadap tanah jarang China dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan hubungan kedua negara tetap penting bagi stabilitas perdagangan global.
Kendati begitu, banyak analis menilai saham teknologi AS masih menjadi pilihan utama untuk ikut dalam reli AI. Steve Englander dari Standard Chartered mencatat investasi AI di AS hampir empat kali lipat dibanding China.
Beberapa investor tetap waspada terhadap pasar China karena regulasi dan ketegangan geopolitik. Namun, jika hubungan Washington dan Beijing membaik, sektor teknologi China berpotensi kembali menjadi magnet bagi investor global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








