Pemerintahan Trump Pertimbangkan Pembatasan Ekspor Berbasis Perangkat Lunak AS ke China

AKURAT.CO Pemerintahan Donald Trump berencana membatasi ekspor produk yang dibuat dengan perangkat lunak Amerika Serikat ke China. Hal ini menjadi respons atas kebijakan Beijing yang memperketat ekspor elemen tanah jarang.
Rencana ini mencakup berbagai produk, mulai dari laptop hingga mesin jet berbasis perangkat lunak AS. Kebijakan tersebut dianggap sebagai langkah balasan terhadap dominasi China dalam pasokan bahan industri teknologi.
Meskipun belum menjadi keputusan resmi, kebijakan ini sejalan dengan ancaman Trump pada awal Oktober lalu. Saat itu, ia menyatakan akan melarang ekspor perangkat lunak penting ke China serta menambah tarif hingga 100 persen terhadap produk asal negara tersebut.
Trump menyampaikan ancaman itu melalui unggahan di media sosial pada 10 Oktober. Namun, belum ada rincian lebih lanjut mengenai cakupan atau jenis perangkat lunak yang akan dibatasi oleh pemerintahannya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis (23/10/2025).
Gedung Putih dan Departemen Perdagangan AS hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait rencana kebijakan tersebut. Sementara itu, sejumlah pejabat menilai wacana ini masih dalam tahap pembahasan dan belum tentu akan diterapkan.
Pemerintah China melalui pernyataan resmi menolak rencana pembatasan ekspor yang sedang dipertimbangkan oleh AS. Beijing menilai langkah itu merupakan bentuk yurisdiksi sepihak yang melanggar prinsip perdagangan internasional.
China menegaskan akan bertindak tegas untuk melindungi kepentingan nasionalnya jika AS melanjutkan kebijakan itu. Beijing menilai langkah Washington bisa memperburuk ketegangan ekonomi kedua negara.
Jika kebijakan ini diterapkan, dampaknya bisa meluas pada rantai pasok global, terutama di sektor teknologi. Banyak produk teknologi tinggi di dunia yang menggunakan perangkat lunak dan komponen buatan AS dalam proses produksinya.
Beberapa pengamat memperingatkan bahwa langkah ini dapat merugikan ekonomi Amerika sendiri. Pasalnya, perusahaan AS berpotensi kehilangan akses ke pasar China yang merupakan salah satu pasar teknologi terbesar di dunia.
Kebijakan ini mencerminkan sikap tegas Trump terhadap China menjelang pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan. Namun, sebagian pejabat AS lebih mendukung pendekatan diplomatik demi menjaga stabilitas perdagangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







