Akurat
Pemprov Sumsel

Perang Tarif Donald Trump: Ancaman atau Peluang Ekonomi Bagi Indonesia?

Ainur Rahman | 7 Februari 2025, 22:35 WIB
Perang Tarif Donald Trump: Ancaman atau Peluang Ekonomi Bagi Indonesia?
AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menunjukkan sikap proteksionisnya dengan memberlakukan tarif impor tinggi terhadap beberapa negara mitra dagang. 
 
Dimana akibat kebijakan tersebut, memicu ketegangan di pasar global dan menimbulkan pertanyaan besar bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
 
Apakah perang tarif ini ancaman serius atau justru bisa menjadi peluang ekonomi?  
 
Seperti yang diketahui perang tarif yang dilancarkan Trump lebih dari sekadar perselisihan dagang. Ini adalah strategi untuk menekan negara lain agar memberikan kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi AS. 
 
 
Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang dikenai tarif, tetapi juga mitra dagang lainnya yang berada dalam rantai pasokan global.  
 
Indonesia mungkin tidak menjadi sasaran langsung kebijakan tarif tinggi AS, tetapi tetap bisa terkena dampaknya. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain:  
 
1. Dampak Terhadap Ekspor Indonesia
 
AS adalah salah satu tujuan utama ekspor Indonesia, terutama untuk produk seperti kelapa sawit, karet, tekstil, alas kaki, elektronik, dan produk perikanan.
 
Jika kebijakan tarif ini diperluas atau memicu perlambatan ekonomi global, Indonesia bisa mengalami penurunan permintaan ekspor.  
 
Misalnya, ketika AS menaikkan tarif terhadap produk asal China, industri manufaktur China pun melambat.
 
Padahal, banyak bahan baku industri mereka berasal dari Indonesia. Akibatnya, ekspor bahan baku dari Indonesia ke China bisa ikut menurun.  
 
2. Pengaruh terhadap Investasi Asing  
 
Ketidakpastian akibat perang tarif membuat investor lebih berhati-hati dalam menanamkan modal di negara berkembang, termasuk Indonesia. 
 
Jika ekonomi global terguncang akibat kebijakan ini, investor bisa menarik dananya dari pasar negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS atau obligasi pemerintah AS.  
 
Namun, di sisi lain, perang tarif juga bisa memaksa perusahaan-perusahaan yang selama ini bergantung pada China untuk mencari basis produksi baru di negara lain, termasuk Indonesia. 
 
Hal ini berpotensi meningkatkan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) di Indonesia, terutama di sektor manufaktur.  
 
3. Pelemahan Rupiah dan Inflasi
 
Jika perang tarif menyebabkan ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang yang lebih stabil, seperti dolar AS.
 
Akibatnya, rupiah bisa tertekan, yang berpotensi meningkatkan harga barang impor, termasuk bahan baku industri dan produk konsumsi.  
 
Sebagai negara yang masih bergantung pada impor beberapa bahan baku, pelemahan rupiah bisa menyebabkan kenaikan harga barang di dalam negeri dan mendorong inflasi.  
 
Bisakah Indonesia Memanfaatkan Peluang dari Perang Tarif?
 
Meski ada risiko, Indonesia juga memiliki peluang untuk memanfaatkan situasi ini.
 
Beberapa waktu lalu Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Chatib Basri menjelaskan bahwa Indonesia bisa memanfaatkan peluang dari perang Tarif tersebut. 
 
Sebab menurut Chatib, perang tarif dagang antara China dan AS menyebabkan perpindahan basis produksi dari Negeri Tirai Bambu ke negara-negara lain yang tidak dikenakan tarif, salah satunya Indonesia.
 
Sehingga, Indonesia harus bisa memanfaatkan kesempatan dari peluang relokasi ini.
 
Dengan demikian, lanjut Chatib, DEN menyampaikan kepada Prabowo untuk memperbaiki iklim investasi, konsistensi dari kebijakan, kepastian usaha. Sebab, bila relokasi ini terjadi, maka posisi Indonesia bisa diuntungkan.
 
"Sebab ada relokasi dari basis produksi dari China kepada Vietnam dan mungkin kalau Vietnam nanti terlalu penuh akan lari kepada Indonesia. Jadi ada semacam simulasi yang dilakukan dari perhitungannya itu menguntungkan Indonesia. Namun syaratnya adalah bahwa kita harus melakukan reformasi," ucapnya di Istana Presiden, Jumat (7/2/2025). 
 
Mengacu kepada pernyataan yang dikeluarkan oleh Chatib, maka ada beberapa strategi yang bisa dilakukan antara lain:  
 
1. Menarik Investasi dari Perusahaan yang Menghindari Tarif AS
 
Sesuai dengan pernyataan Chatib, banyak perusahaan multinasional, terutama dari sektor manufaktur, mencari alternatif di luar China agar bisa menghindari tarif tinggi AS. Indonesia bisa menjadi salah satu pilihan, terutama jika pemerintah mampu menawarkan insentif menarik, seperti pajak rendah dan regulasi yang lebih fleksibel.  
 
Negara-negara seperti Vietnam dan Thailand sudah lebih dulu menarik investor yang hengkang dari China. Jika Indonesia ingin bersaing, perlu ada percepatan reformasi ekonomi agar lebih menarik bagi investor asing.  
 
2. Diversifikasi Pasar Ekspor
 
Ketergantungan terhadap AS sebagai tujuan ekspor utama bisa menjadi risiko jika perang tarif semakin meluas. Oleh karena itu, Indonesia perlu mencari pasar alternatif di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika untuk mengurangi dampak negatif dari kebijakan Trump.  
 
Selain itu, memperkuat kerja sama dalam ASEAN dan RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) bisa menjadi solusi agar ekspor Indonesia tetap stabil meskipun terjadi ketegangan dagang global.  
 
3Memperkuat Industri Domestik
 
Jika perang tarif berujung pada perlambatan ekonomi global, Indonesia harus memperkuat pasar domestiknya agar tidak terlalu bergantung pada ekspor. Mendorong sektor UMKM, meningkatkan daya beli masyarakat, dan mempercepat pembangunan infrastruktur bisa menjadi langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.  
 
Perang tarif yang digencarkan Trump memang menimbulkan ketidakpastian bagi ekonomi global, termasuk Indonesia. Ada risiko penurunan ekspor, pelemahan rupiah, dan perlambatan investasi.
 
Namun, di sisi lain, Indonesia juga bisa memanfaatkan peluang ini dengan menarik investasi asing yang mencari lokasi baru di luar China serta memperkuat sektor manufaktur dalam negeri.  
 
Kuncinya adalah kebijakan ekonomi yang responsif dan fleksibel. Jika Indonesia bisa bergerak cepat dalam menarik investasi dan mendiversifikasi pasar ekspornya, perang tarif ini bisa menjadi peluang emas daripada sekadar ancaman.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.